Tag Archives: Inspirasi

A Little Lesson about Life (Pelajaran Tentang Kehidupan)

19 Jul

Seseorang menemukan kepompong seekor kupu. Suatu hari lubang kecil muncul. Dia duduk mengamati dalam beberapa jam calon kupu-kupu itu ketika dia berjuang dengan memaksa dirinya melewati lubang kecil itu.Kemudian kupu-kupu itu berhenti membuat kemajuan. Kelihatannya dia telah berusaha semampunya dan dia tidak bisa lebih jauh lagi.

Akhirnya orang tersebut memutuskan untuk membantunya. Dia mengambil sebuah gunting dan memotong sisa kekangan dari kepompong itu. Kupu-kupu tersebut keluar dengan mudahnya. Namun, dia mempunyai tubuh gembung dan kecil, sayap-sayap mengkerut.

Orang tersebut terus mengamatinya karena dia berharap bahwa, pada suatu saat, sayap-sayap itu akan mekar dan melebar sehingga mampu menopang tubuhnya, yang mungkin akan berkembang seiring dengan berjalannya waktu.

Semuanya tak pernah terjadi.

Kenyataannya, kupu-kupu itu menghabiskan sisa hidupnya merangkak di sekitarnya dengan tubuh gembung dan sayap-sayap mengkerut. Dia tidak pernah bisa terbang. Yang tidak dimengerti dari kebaikan dan ketergesaan orang tersebut adalah bahwa kepompong yang menghambat dan perjuangan yang dibutuhkan kupu-kupu untuk melewati lubang kecil adalah jalan Tuhan untuk memaksa cairan dari tubuh kupu- kupu itu ke dalam sayap-sayapnya sedemikian sehingga dia akan siap terbang begitu dia memperoleh kebebasan dari kepompong tersebut.

Kadang-kadang perjuangan adalah suatu yang kita perlukan dalam hidup kita. Jika Tuhan membiarkan kita hidup tanpa hambatan perjuangan, itu mungkin justru akan melumpuhkan kita. Kita mungkin tidak sekuat yang semestinya yang dibutuhkan untuk menopang cita- cita dan harapan yang kita mintakan.

Kita mungkin tidak akan pernah dapat “Terbang”. Sesungguhnya Tuhan itu Maha Pengasih dan maha Penyayang.

Kita memohon Kekuatan… Dan Tuhan memberi kita kesulitan-kesulitan untuk membuat kita tegar.

Kita memohon kebijakan… Dan Tuhan memberi kita berbagai persoalan Hidup untuk diselesaikan agar kita bertambah bijaksana.

Kita memohon kemakmuran… Dan Tuhan memberi kita Otak dan Tenaga untuk dipergunakan sepenuhnya dalam mencapai kemakmuran.

Kita memohon Keteguhan Hati… Dan Tuhan memberi Bencana dan Bahaya untuk diatasi.

Kita memohon Cinta…Dan Tuhan memberi kita orang-orang bermasalah untuk diselamatkan dan dicintai.

Kita Memohon kemurahan/kebaikan hati…Dan Tuhan memberi kita kesempatan-kesempatan yang silih berganti.

Begitulah cara Tuhan membimbing Kita. Apakah jika saya tidak memperoleh yang saya inginkan, berarti bahwa saya tidak mendapatkan segala yang saya butuhkan? Kadang Tuhan tidak memberikan yang kita minta, tapi dengan pasti Tuhan memberikan yang terbaik untuk kita, kebanyakan kita tidak mengerti mengenal, bahkan tidak mau menerima rencana Tuhan, padahal justru itulah yang terbaik untuk kita.

Tetaplah berjuang…berusaha…dan berserah diri… Jika itu yang terbaik maka pasti Tuhan akan memberikannya untuk kita (Roma 8:28)

Iklan

Jendela Kereta Api

19 Jul

Mengapakah engkau melihat selumbar di dalam mata saudaramu, sedangkan balok di dalam matamu sendiri tidak engkau ketahui? —Lukas 6:41

Hari itu, di kereta api terdapat seorang pemuda bersama ayahnya. Pemuda itu berusia 24 tahun, sudah cukup dewasa tentu.

Di dalam kereta, pemuda itu memandang keluar jendela kereta, lalu berkata pada Ayahnya.
“Ayah lihat, pohon-pohon itu sedang berlarian”

Sepasang anak muda duduk berdekatan. Keduanya melihat pemuda 24 tahun tadi dengan kasihan. Bagaimana tidak, untuk seukuran usianya, kelakuan pemuda itu tampak begitu kekanakan.

Namun seolah tak peduli, si pemuda tadi tiba-tiba berkata lagi dengan antusiasny,
“Ayah lihatlah, awan itu sepertinya sedang mengikut kita!”

Kedua pasangan muda itu tampak tak sabar, lalu berkata kepada sang Ayah dari pemuda itu.
“Kenapa ANda tidak membawa putra Anda itu ke seorang dokter yang bagus?

Sang Ayah hanya tersenyum, lalu berkata. “Sudah saya bawa, dan sebenarnya kami ini baru saja dari rumah sakit. Anak saya ini sebelumnya buta semenjak kecil, dan ia baru mendapatkan penglihatannya hari ini”

Sahabat, setiap manusia di planet ini memiliki ceritanya masing-masing. Jangan langsung kita men-judge seseorang sebelum kita mengenalnya benar. Karena kebenaran boleh jadi mengejutkan kita. Selalu berprasangka baik kepada setiap orang, karena itu yang diajarkan nabimu, dan itulah cara yang baik untuk hidup…

Renungan Menyentuh Hati Syukuri apa yang ada

18 Jul

Seorang Anak muda yang tinggal bersama istri dan tiga orang anaknya mengeluh tentang rumahnya yang sempit dan sangat tidak nyaman untuk ditinggali oleh mereka sekeluarga. Suatu hari, ia berkunjung ke seorang guru bijak untuk mengemukakan permasalahannya itu.


“Guru, apa yang harus saya lakukan untuk mengatasi persoalan yang tengah saya hadapi ini?” tanya anak muda itu.
“Apakah kamu memelihara hewan danternak di rumahmu?” sang guru bijak balik bertanya.
“Ya Guru, di pekarangan rumah, saya memelihara beberapa ekor ayam, bebek, dan kambing,” jawab si anak muda.
“Baik,” lanjut sang guru, “Mulai nanti malam, kamu masukkan semua ternak dan hewan peliharaanmu ke dalam rumah. Dan, setelah satu minggu, kamu kembali lagi ke tempat saya untuk melaporkan hasilnya.”

Anak itu pun kembali ke rumahnya dan mulai menjalani nasihat dari guru bijak itu. Lima ekor ayam, 8 ekor bebek, dan 4 ekor kambing yang biasanya ditempatkan di kandang mereka di halaman rumah, mulai malam itu semuanya dimasukkan ke dalam rumah, berjejal-jejalan bersama penghuninya.

Semalaman anak muda itu dan keluarganya tidak bisa tidur karena udara di dalam rumah menjadi sangat pengap, bau kotoran ternak, dan berisik dengan suara-suara hewan peliharaan tersebut. “Mengapa jadinya seperti ini?” pikir anak muda itu dalam hati, “Saya mencari penyelesaian masalah, tetapi mengapa persoalan
yang lebih besar yang harus saya hadapi?”

Seminggu kemudian, anak muda itu sudah tidak sabar untuk menemui si guru bijak. “Guru, setelah saya menuruti nasihat Guru, persoalan yang saya hadapi bukannya berkurang malah jadi bertambah”, ungkap anak muda itu.

Sembari tertawa, si guru bijak menjawab, “Kalau begitu mulai nanti malam, kamu keluarkan semua hewan peliharaanmu dari dalam rumah. Kembalikan mereka ke kandangnya masing-masing.”

Mendengar perintah guru bijak itu, si anak muda bergegas kembali ke rumahnya untuk mengeluarkan semua hewan peliharaanya dari dalam rumah. “Wah, sekarang benar-benar terasa lega, rumahku tidak sempit seperti dulu lagi,” seru anak muda itu kegirangan.

“”””””
Ada sebuah ungkapan bijak yang mengatakan, “Jika kamu ingin merasa bersyukur dengan apa yang kamu miliki, pura-puralah kehilangan semua yang kamu miliki, kemudian kamu menemukannya kembali.”

Hal ini akan membantu kita untuk mensyukuri apa saja yang kita miliki. Ada orang menangis karena tidak bisa membeli sepatu, kemudian ia berhenti menangis dan bersyukur ketika melihat ada orang lain yang tidak punya kaki. Maka, “Syukuri apa yang ada, hidup adalah anugerah,” kata D”Masiv

“Mengucap syukurlah senantiasa”.

Gambar

Preman menyuapi Gembel

18 Jul

Sahabat Kasih SetiaNya,

Sungguh sangat mengharukan bila kita melihat seorang preman menyuapi seorang gembel. Sobat Tuhan Yesus yang adalah Tuhan semesta alam, Dia rela menjadi hamba di dunia dan memberikan harta yang paling berharga yaitu nyawaNya untuk menebus dosa dan kesalahan kita. Sobat Marilah kita saling mengasihi sehingga kita menjadi berkat bagi orang banyak seperti Tuhan  Yesus.

THE LIGHT OF THE WORLD

18 Jul

Di Oxford, Inggris ada sebuah kapel, yang di depan altarnya tergantung sebuah lukisan yang sangat terkenal di dunia, The Light of the World karya Holman Hunt. Banyak orang telah melihat lukisan ini, namun sangat sedikit yang mempelajari arti dari lukisan ini.

Lukisan ini menggambarkan Yesus dalam kepenuhannya sedang memegang lentera di tangannya berdiri di depan pintu tanpa palang di luar, jalan menuju tempat itu di penuhi rumput-rumput liar.
Inspirasi dari lukisan ini berasal dari Wahyu 3:20:

“Lihat, Aku berdiri di muka pintu dan mengetok; jikalau ada orang yang mendengar suara-Ku dan membukakan pintu, Aku akan masuk mendapatkannya dan Aku makan bersama-sama dengan dia, dan ia bersama-sama dengan Aku.”

Sewaktu Yesus mengetuk pintu, ekresi wajah-Nya sangat berkesan, Ia tahu pasti siapa yang ada di balik pintu tersebut. Yesus sangat berharap untuk masuk.

Lentera melambangkan hati nurani; wajah lembut Tuhan memancarkan cahaya yang sulit dijelaskan. Ada kecermelangan yang tampaknya muncul dari kepribadian-Nya. Hati nurani adalah titik hubungan; kehadiranNya adalah Cahaya yang berdiam yang menyingkapkan apa itu baik dan jahat.

Pesan Moral:

Tuhan tahu apa yang menjadi pergumulan kita, dan Ia rindu untuk menolong kita, itu sebabnya Yesus mengetuk pintu hati kita. Ia tahu kelemahan kita, dan apa yang menjadi masalah terbesar dalam hidup kita, itu sebabnya Ia datang untuk memberikan kekuatan supaya kita menjadi penakluk dan pemenang atas permasalahan dan pergumulan kita.

Pertanyaannya saat ini, seperti yang tergambar dalam lukisan tersebut. Pintu itu hanya bisa di buka dari dalam. Yesus bukanlah tipe orang yang mendobrak pintu rumah orang lain. Dia mengetuk dengan sopan dan lembut. Kini, bersediakah kita membukakan pintu bagi-Nya, agar Ia masuk dan menerangi hidup kita dengan kemuliaan-Nya? Keputusannya ada ditangan kita.

Tuhan Yesus Memberkati kita semua….Amin.

Gambar

Find and See (Temukan Dan Lihat)

27 Mar

Find and See (Temukan Dan Lihat)

Siapa bergaul dengan orang bijak menjadi bijak.- Amsal 13:20

Pelikan adalah burung penangkap ikan yang ulung. Tetapi di kota Monterey, California hal seperti ini tidak terjadi. Di kota ini, burung-burung pelikan tidak perlu bersusah payah untuk mendapatkan ikan, karena banyak sekali pabrik-pabrik pengalengan ikan. Selama bertahun-tahun mereka berpesta dengan ikan-ikan yang berserakan. Tetapi hal yang menakutkan terjadi ketika ikan di sepanjang pesisir mulai habis, dan pabrik-pabrik pengalengan mulai tutup, burung-burung tersebut mengalami kesulitan. Karena sudah bertahun-tahun tidak menangkap ikan, mereka menjadi gemuk dan malas. Ikan-ikan yang dulu mereka dapatkan dengan mudah sudah tidak ada, sehingga satu persatu dari mereka mulai sekarat dan mati.

Para pencinta lingkungan hidup berusaha keras untuk menyelamatkan mereka. Berbagai cara dicoba untuk mencegah populasi burung ini agar tidak punah. Sampai suatu saat terpikirkan oleh mereka untuk mengimport burung-burung pelikan dari daerah lain, yaitu pelikan-pelikan yang berburu ikan setiap hari. Pelikan-pelikan tersebut lalu bergabung bersama pelikan-pelikan setempat. Hasilnya luar biasa. Pelikan-pelikan baru tersebut dengan segera berburu ikan dengan giatnya, perlahan-lahan pelikan-pelikan yang kelaparan tersebut tergerak untuk berburu ikan juga. Akhirnya pelikan-pelikan di daerah tersebut hidup dengan memburu ikan lagi.

Les Giblin, seorang pakar hubungan manusia menjelaskan bahwa manusia belajar sesuatu dari panca inderanya. 1% dari rasa, 1½ % dari sentuhan, 3½ % dari penciuman, 11% dari pendengaran, dan 83% dari pengelihatan. John C Maxwel, seorang pakar kepemimpinan dalam sebuah surveinya membuktikan bahwa, “Bagaimana seorang menjadi pemimpin?” 5% akibat dari sebuah krisis, 10% adalah karunia alami, dan 85% adalah dikarenakan pengaruh dari pemimpin mereka.

Demikian halnya jika Anda ingin semakin maju, maka salah satu cara terbaik adalah dengan bergaul dengan orang-orang yang berprestasi yang bisa anda temui. Perhatikan cara mereka bekerja, lihat hidup mereka, pelajari cara berpikir mereka, lihat bagaimana mereka mengambil keputusan-keputusan penting dalam hidup mereka. Memang benar kita dapat belajar dari Tuhan langsung atau melalui pimpinan Roh Kudus, tapi kita juga harus terbuka ketika Tuhan menempatkan orang-orang terbaik yang bisa memacu hidup kita.

Carilah pergaulan yang dapat membangun kerohanian dan kehidupan Anda!

————————————————–
Butik Ella Menyediakan baju Fashion dan kebutuhan para ladies agar semakin cantik menawan dengan harga yang murah dan bagus, barang dijamin. Hubungi Butik Ella di Halaman barunya di : https://www.facebook.com/ButikEllaOnline/

Kisah Pilu Gadis yang Dibuang

3 Mar

Putri Herlina tak seperti perempuan lainnya. Kondisi fisiknya tidak sempurna. Atas alasan itu pula orangtuanya membuang gadis ini. Kini, Putri telah dewasa dan tergerak untuk membantu sesama.

Dua puluh lima tahun yang lalu, tepatnya tanggal 3 Oktober 1988 saya dilahirkan dari pasangan yang sampai saat ini tak saya ketahui sosoknya. Saya lahir di salah satu rumah sakit di Yogyakarta. Entah kenapa, saya ditinggalkan begitu saja oleh kedua orangtua saya. Mungkin, mereka malu dengan kondisi fisik saya. Saya tak memiliki tangan kanan. Sedangkan tangan kiri saya panjangnya hanya 15 cm. Jari-jari pun tumbuh tak sempurna.

Dalam kondisi itu, saya diasuh oleh seorang ibu bernama Hj. Ciptaning Utaryo. Ia merupakan mantan ketua umum Yayasan Sayap Ibu, yaitu panti asuhan yang menampung anak-anak yang dibuang oleh orangtuanya. Puluhan tahun saya dibesarkan di yayasan itu penuh dengan cinta dan kasih sayang.

SEMPAT DIEJEK

Dari cerita Ibu Cipatning, saya dirawat di Panti I, yakni panti untuk bayi-bayi yang tak diakui oleh orangtuanya. Tak lama, saya dipindah ke Panti II (tempat perawatan cacat ganda), lantaran kondisi fisik saya tak sempurna. Banyak yang mengatakan, ketika saya bayi, saya susah minum susu sendiri. Para perawat di sana mengakalinya dengan cara mengikat botol susu menggunakan selendang. Barulah saya bisa minum susu.

Usia bertambah, pengasuh saya di panti pun mulai mengajari saya cara makan dengan sendok yang dijepit menggunakan kaki. Pengasuh saya sangat baik. Mereka merupakan sepasang suami istri. Berkat kesabaran dan ketekunannya merawat saya, akhirnya saya bisa meraktivitas menggunakan kaki. Bila hendak mengambil barang, saya akan menjepit dengan jari-jari kaki.

Saya juga bisa melakukan semua pekerjaan orang pada umumnya seperti, memasak, mandi dan lain-lain. Satu hal yang saya belum bisa melakukan sampai sekarang, memasang resleting baju bagian belakang. Lainnya, atas kuasa Sang Pencipta saya bisa melakukan aktivitas normal.

Saat SMA merupakan momen di mana untuk pertama kalinya saya berani menyalakan kompor. Keberanian itu muncul karena saat sekolah SMA saya tinggal di mes. Saya sekolah di SMA Muhammadiyah, Solo. Lantaran anak indekos, saya pun harus belajar memasak untuk makan sehari-hari. Kebutuhan seperti, beras, sayuran dan mi dikirim dari Yayasan Sayap Ibu. Ketika stok logistik saya habis, saya pun tinggal menelepon pengasuh saya di panti. Dan seketika itu pula kebutuhan makanan langsung dikirim.

Banyak yang heran dengan pilihan saya untuk sekolah di sekolah regular, yang mayoritas siswanya normal. Tidak seperti saya. Pilihan ini sudah saya lakukan sejak duduk di bangku TK hingga SMA. Tentu saya menjadi “orang spesial” di antara anak-anak lain. Saking spesial dan berbeda dengan anak-anak yang lain, tak jarang saya diejek oleh mereka.

Sempat ada satu teman SD saya kala itu yang suka mengolok-olok saya. Dia laki-laki dan memang terkenal bandel. Saya dibilang anak cacat, anak panti yang jorok dan bau. Dia juga memengaruhi teman-teman lainnya untuk menjauhi saya. Sedih sekali mengingat hal itu. Saya seperti orang hina. Tapi beruntung teman-teman tak menghiraukan. Mereka malah berbaik hati membantu dan menerima saya seperti yang lain.

Saya benar-benar susah untuk melupakan kejadian tersebut. Hingga kini saya masih ingat nama anak yang menghina saya itu dan alamat rumahnya. Kadang saya membayangkan, bila suatu saat bertemu dengan teman saya itu. Apakah ia masih mengejek saya atau tidak.

Saya tidak pernah marah kepada Tuhan karena telah menciptakan saya dengan kondisi tubuh seperti ini. Jika saya marah, sama artinya saya membenci Tuhan. Saya selalu yakin bahwa ketika Tuhan menciptakan makhluk dengan kondisi apa pun, pasti ada rencana di balik itu semua.

Walau sempat diejek tapi saya tidak pernah minder di sekolah. Buktinya, saya mengikuti berbagai kegiatan seperti Organisasi Intra Sekolah atau yang disingkat OSIS. Dari situ kepercayaan diri saya semakin naik. Apalagi teman-teman sangat mendukung saya.

RINDU SOSOK IBU

Terkadang saya melewati masa-masa kangen dengan orangtua. Saya ingin berada di antara mereka. Sama seperti teman-teman saya yang lain, yang mempunyai orangtua lengkap. Perasaan ini sempat iri. Terutama saat SMA, di mes sering saya sering melihat teman-teman didatangi oleh kedua orangtuanya. Hati kecil pun bergumam, seandainya saya seberuntung mereka. Tapi, ya, sudahlah, inilah jalan hidup saya yang telah digariskan Tuhan.

Setelah lulus sekolah saya kembali ke panti asuhan. Tepat di usia 21 tahun, ada tradisi yang dilakukan oleh para pengasuh di panti. Mereka akan mengumpulkan anak-anak asuh yang sudah dewasa tersebut. Satu per satu para pengasuh akan menceritakan asal usul orangtua anak-anak tersebut.

Ada yang kaget, menangis, dan biasa saja. Saya termasuk orang yang biasa saja ketika pengasuh menceritakan masa kecil saya. Mungkin karena selama ini, bahkan sejak kecil, saya menyadari status saya sebagai anak panti. Maka saat pihak panti menceritakan asal-usul saya ditemukan, tak ada rasa deg-degan atau amarah di hati ini.

Tak banyak yang tahu cerita latar belakang keluarga saya dan alasan mengapa saya dibuang di rumah sakit. Mereka hanya tahu nama Ibu saya. Perempuan itu bernama Heliniarti, begitu yang mereka ketahui tentang orangtua saya. Hanya itu.

Saat itu terbesit di pikiran ini membayangkan wajah ibu yang melahirkan saya. Saya pun bertanya-tanya apakah saya punya kakak atau adik. Saya ingin melihat dan bertemu mereka, keluarga saya. Sampai sekarang saya tidak tahu di mana orangtua saya berada.

Ingin sekali rasanya bertemu ibu kandung. Saya berjanji, ketika saya bisa bertemu dirinya, apa pun status ibu saya, miskin atau serbakekurangan, saya akan tetap menerimanya. Saya selalu berdoa kepada Tuhan, agar saya dipertemukan dengan ibu sebelum ajal ini menjemput.

Bila saya diberikan rezeki dan umur panjang, dan saya bisa bertemu dengan ibu dalam kondisi saya sudah sukses, saya pasti akan membahagiakannya. Saya akan memboyong dirinya ke rumah yang sudah saya beli dari hasil keringat sendiri. Saya sudah berjanji kepada Tuhan, kalau pun saya pernah dibuang oleh ibu kandung, namun saya tak akan pernah dendam kepada beliau.

MENGABDI DI PANTI

Ketika rasa kangen ingin bertemu dengan ibu kandung memuncak, di saat itulah saya tersadar dan bersyukur. Toh, saya masih punya para pengasuh yang begitu sayang kepada saya. Mereka sudah seperti orangtua kandung saya. Banyak ilmu yang sudah mereka ajarkan kepada saya. Termasuk ilmu mandiri. Saya dididik harus bisa melakukan aktivitas sendiri.

Termasuk menggunakan komputer. Saya bisa mengoperasikan komputer menggunakan kaki. Kedua kaki ini saya gunakan untuk menggerakkan mouse maupun keyboard. Demikian juga saat memasak dan melakukan aktivitas lain. Saya bisa. Saya tak pernah mau merepotkan orang banyak.

Saya benar-benar berterima kasih kepada pihak panti, karena atas bantuan mereka pula saya ditampung kerja di sana. Saya ditempatkan sebagai resepsionis. Ketika ada tamu datang, saya bertugas menyambut mereka. Tak lupa saya juga akan mendata tamu-tamu yang datang tersebut. Pasalnya, mereka datang untuk berbagai tujuan. Ada yang berkonsultasi, mengadopsi, ada juga yang ingin memberi bantuan bagi kelangsungan panti.

Pekerjaan saya sebagai resepsionis mulai pukul 9 pagi hingga pukul 2 siang. Selebihnya, saya kadang membantu para pengasuh di Panti II. Seperti mengajak anak-anak penghuni panti bermain, menyuapi mereka makan, hingga mengganti popok. Kadang ada kesulitan juga ketika menghadapi anak-anak yang aktif. Saya dibuat kelabakan olehnya.

Saya sangat sayang dengan anak-anak yang ada di panti itu. Mereka sudah saya anggap seperti adik sendiri. Ketika saya tengah mengasuh bayi-bayi itu, saya sempat berandai-andai, kelak ketika saya sudah sukses saya akan membiayai anak-anak panti tersebut. Saya juga sempat berkhayal untuk memiliki pendamping hidup.

Saya ingin memiliki suami yang benar-benar menerima kondisi saya apa adanya. Tentunya suami saya kelak tak hanya menyayangi saya, tapi juga menyayangi adik-adik saya di panti ini. Semoga Tuhan mengabulkan doa saya ini. Amin.

Patut kita renungkan sekalipun seorang ibu tega membuang anak kandungnya sendiri sama seperti ibunya Musa terpaksa menghanyutkan anaknya di dalam sebuah keranjang kedap air dengan tujuan untuk menyelamatkannya dari peristiwa pembunuhan bayi bayi Yahudi oleh raja mesir. Tetapi Allah sanggup merubah hal yang buruk itu demi kebaikan kita semua.

Kej 1:6 Kemudian matilah Yusuf, serta semua saudara-saudaranya dan semua orang yang seangkatan dengan dia.

7 Orang-orang Israel beranak cucu dan tak terbilang jumlahnya; mereka bertambah banyak dan dengan dahsyat berlipat ganda, sehingga negeri itu dipenuhi mereka.

8 Kemudian bangkitlah seorang raja baru memerintah tanah Mesir, yang tidak mengenal Yusuf.

9 Berkatalah raja itu kepada rakyatnya: “Bangsa Israel itu sangat banyak dan lebih besar jumlahnya dari pada kita.

10 Marilah kita bertindak dengan bijaksana terhadap mereka, supaya mereka jangan bertambah banyak lagi dan–jika terjadi peperangan–jangan bersekutu nanti dengan musuh kita dan memerangi kita, lalu pergi dari negeri ini.”

11 Sebab itu pengawas-pengawas rodi ditempatkan atas mereka untuk menindas mereka dengan kerja paksa: mereka harus mendirikan bagi Firaun kota-kota perbekalan, yakni Pitom dan Raamses.

12 Tetapi makin ditindas, makin bertambah banyak dan berkembang mereka, sehingga orang merasa takut kepada orang Israel itu.

13 Lalu dengan kejam orang Mesir memaksa orang Israel bekerja,

14 dan memahitkan hidup mereka dengan pekerjaan yang berat, yaitu mengerjakan tanah liat dan batu bata, dan berbagai-bagai pekerjaan di padang, ya segala pekerjaan yang dengan kejam dipaksakan orang Mesir kepada mereka itu.

15 Raja Mesir juga memerintahkan kepada bidan-bidan yang menolong perempuan Ibrani, seorang bernama Sifra dan yang lain bernama Pua, katanya:

16 “Apabila kamu menolong perempuan Ibrani pada waktu bersalin, kamu harus memperhatikan waktu anak itu lahir: jika anak laki-laki, kamu harus membunuhnya, tetapi jika anak perempuan, bolehlah ia hidup.”

17 Tetapi bidan-bidan itu takut akan Allah dan tidak melakukan seperti yang dikatakan raja Mesir kepada mereka, dan membiarkan bayi-bayi itu hidup.

18 Lalu raja Mesir memanggil -bidan itu dan bertanya kepada mereka: “Mengapakah kamu berbuat demikian membiarkan hidup bayi-bayi itu?”

19 Jawab bidan-bidan itu kepada Firaun: “Sebab perempuan Ibrani tidak sama dengan perempuan Mesir; melainkan mereka kuat: sebelum bidan datang, mereka telah bersalin.”

20 Maka Allah berbuat baik kepada bidan-bidan itu; bertambah banyaklah bangsa itu dan sangat berlipat ganda.

21 Dan karena bidan-bidan itu takut akan Allah, maka Ia membuat mereka berumah tangga.

22 Lalu Firaun memberi perintah kepada seluruh rakyatnya: “Lemparkanlah segala anak laki-laki yang lahir bagi orang Ibrani ke dalam sungai Nil; tetapi segala anak perempuan biarkanlah hidup.”

Kel 2:1 Seorang laki-laki dari keluarga Lewi kawin dengan seorang perempuan Lewi;

2 lalu mengandunglah ia dan melahirkan seorang anak laki-laki. Ketika dilihatnya, bahwa anak itu cantik, disembunyikannya tiga bulan lamanya.

3 Tetapi ia tidak dapat menyembunyikannya lebih lama lagi, sebab itu diambilnya sebuah peti pandan, dipakalnya dengan gala-gala dan ter, diletakkannya bayi itu di dalamnya dan ditaruhnya peti itu di tengah-tengah teberau di tepi sungai Nil;

4 kakaknya perempuan berdiri di tempat yang agak jauh untuk melihat, apakah yang akan terjadi dengan dia.

5 Maka datanglah puteri Firaun untuk mandi di sungai Nil, sedang dayang-dayangnya berjalan-jalan di tepi sungai Nil, lalu terlihatlah olehnya peti yang di tengah-tengah teberau itu, maka disuruhnya hambanya perempuan untuk mengambilnya.

6 Ketika dibukanya, dilihatnya bayi itu, dan tampaklah anak itu menangis, sehingga belas kasihanlah ia kepadanya dan berkata: “Tentulah ini bayi orang Ibrani.”

7 Lalu bertanyalah kakak anak itu kepada puteri Firaun: “Akan kupanggilkah bagi tuan puteri seorang inang penyusu dari perempuan Ibrani untuk menyusukan bayi itu bagi tuan puteri?”

8 Sahut puteri Firaun kepadanya: “Baiklah.” Lalu pergilah gadis itu memanggil ibu bayi itu.

9 Maka berkatalah puteri Firaun kepada ibu itu: “Bawalah bayi ini dan susukanlah dia bagiku, maka aku akan memberi upah kepadamu.” Kemudian perempuan itu mengambil bayi itu dan menyusuinya.

10 Ketika anak itu telah besar, dibawanyalah kepada puteri Firaun, yang mengangkatnya menjadi anaknya, dan menamainya Musa, sebab katanya: “Karena aku telah menariknya dari air.”