Yayah, Gadis Preman Tukang Palak Terminal

4 Mar

http://www.jawaban.com/news/userfile/videofile/a9d48daf386d0564b6d21202a28e0c34176x134.3gp

Perceraian ayah dan ibunya membuat kehidupan Yayah Ade Rina berubah selamanya. Masa kecil Yayah yang seharusnya dipenuhi dengan perhatian dan kasih dari kedua orangtuanya berubah menjadi masa-masa menyeramkan. Ibunya yang harus sibuk bekerja keras menjadi tulang punggung keluarga, membuat Yayah yang ditinggal di rumah bersama sang paman merasakan pahitnya didikannya.

“Salah melakukan sesuatu yang tidak sesuai dengan keinginan dia, saya dipukul pakai kayu,” demikian tutur Yayah.

Rasa takut, itulah yang Yayah rasakan setiap kali melihat atau bahkan mengingat sosok sang paman. Baginya rumah adalah tempa yang mengerikan baginya. Rasa dendam di hatinya membuatnya ingin membalas perbuatan sang paman.

“Saya dendam sekali sama dia, sampai saya ingin bunuh, saya ingin tusuk kalau dia lagi tidur,” itulah keinginan Yayah kecil, tapi apa daya, ia hanya seorang gadis kecil.

Hingga ia memasuki masa SMA-nya, saat itu ia berkenalan dengan seorang teman pria yang mengajaknya berkenalan dengan anak-anak seusianya yang putus sekolah dan kurang kasih sayang yang sering berkeliaran di terminal bus.

“Pertama saya merasa takut ya, bergaul dengan orang-orang yang kurang kasih sayang, dan ada yang putus sekolah. Tapi satu dua kali saya di ajak, saya mulai tertarik. Asik-asik orangnya…” ungkap Yayah.

Sejak bergaul dengan anak-anak itu, prilaku Yayah berubah kasar. Ia sering memalak, minum-minuman keras dan bermain judi. Tak jarang ia tidak pulang ke rumah dan asik dengan teman-temannya di terminal itu. Tapi suatu hari, sosok yang ia takuti itu muncul kembali.

“Sempat waktu saya lagi nongkrong, ketahuan sama om saya. Saya ditarik sama om saya, disuruh pulang. Saya dinasehatin, tapi nasehatnya menjatuhkan harga diri saya sebagai perempuan. Kesel juga saya dikatain perempuan nakal, tapi saya tidak beritahukan kalau selama ini saya nongkrong karena saya kesal sama om saya.”
Hati kecil Yayah tahu bahwa tidak baik menjadi anak yang pemberontak, namun diluar rumah sana ia menemukan peneriman dan sosok pria yang melindungi dan mengasihinya. Tidak menemukan jalan keluar, Yayah terus menjalani kehidupannya yang brutal di terminal. Suatu hari, seorang ibu yang pulang dari pasar menjadi korban pemalakannya bersama teman-temannya.

Yayah merebut belanjaan ibu itu, “Beri saya uang, kalau tidak saya buang belanjaan ini dan saya injak-injak.”
Ibu itu dengan terpaksa mengeluarkan uang dari dompetnya sambil berkata, “Kamu masih anak-anak aja sudah kaya gini, gimana kalau sudah besar..!”

Perkataan itu langsung membuat Yayah terdiam, “Perkataan itu seperti menyentuh saya. Sepertinya hidup ini tidak berguna, dan saya bingung apa yang harus saya lakukan.”

Ditengah kebingungannya, seorang kerabat dari ayahnya datang dan memberitahukan keberadaan ayahnya.

“Dia bilang ayah saya ada di Palembang. Untuk menghindar dari teman-teman pergaulan saya yang tidak baik, akhirnya saya memutuskan untuk ke Palembang.”

Perjalanan pencarian akan sang ayah pun di mulai, menapakkan kaki di kota Palembang Yayah akhirnya memberanikan diri menemui sosok pria yang selama ini tidak ia kenal.

“Walaupun dalam hati ada rasa kesel karena selama ini dia tidak ada tanggung jawab, sebagai ayah tidak ngurusin saya, tapi ketika dia minta maaf dan dia peluk saya, dia cium saya, akhirnya saya senang. Saya bangga, oh ini dia, saya merasakan punya ayah.”

Hati Yayah yang terluka sedikit terobati oleh kasih yang baru ia rasakan dari sang ayah. Bersama keluarga ayahnya, ia kemudian membangun kehidupan yang baru. Hingga seorang teman memperkenalkannya dengan seorang pria yang bernama Maykel, yang dikemudian hari akan menjadi suaminya.

Hubungannya dengan Maykel tidaklah berjalan mulus, karena sikap egois Yayah, maka Maykel lebih sering mengalah.

“Pernah suatu kali, dia marah saya, dia tampar saya,” demikian kenang Maykel, suami Yayah. “Reaksi yang dia tidak suka, dia keluarkan kata-kata yang ngga sopan.”

Maykel bersabar menghadapi Yayah, hingga suatu hari Maykel mendengar ada sebuah ibadah yang diadakan khusus untuk pemuda. Ia pun mengajak Yayah untuk pergi ke ibadah itu.

“Saya ajak dia, saya bilang: Besok mau ngga pergi ke tempat rekreasi?” jelas Maykel

“Saya pun tidak tahu kalau disana ada ibadah, karena suami saya bilangnya Cuma jalan-jalan aja,” aku Yayah.

Namun Yayah mengikuti ibadah itu tanpa komentar, dan disana ia mendengar sebuah lagu yang begitu indah dan menyentuh hatinya.

“Lagunya, “Mataku tertuju padamu”. Saya bilang begini, ternyata mata Tuhan tertuju pada saya. Semakin saya dengar, semakin tenang jiwa saya. Sepertinya baru kali ini saya rasakan begitu leganya jiwa saya, begitu damainya hati saya, tanpa saya sadari mulut saya berkata: saya terima Tuhan, saya buka hati untuk Tuhan.”

Hari itu, Yayah merasakan kelepasan dan kelegaan. Semua beban dalam hidupnya yang selama ini menekannya lenyap sudah. Sejak saat itu, Yayah berjanji untuk mengubah cara hidupnya, bahkan ia membuat sebuah komitmen baru.

“Karena Tuhan juga sudah mengampuni saya, juga sudah memulihkan saya, saya belajar mendoakan orang yang sudah menyakiti saya, melupakan dan mengampuni om saya yang sudah berbuat kasar pada saya.”

Keputusannya itu diikuti oleh sebuah tindakan berani. Setelah sekitar delapan tahun tidak pernah berjumpa dengan sang paman, Yayah datang untuk meminta restu agar dapat menikah dengan pria yang ia cintai.

“Terserah kamu mau menikah dengan siapa, asalkan dia sayang sama kamu, dan saya minta maaf jika selama ini menyakiti kamu,” demikian ujar sang paman.

“Saya dengan kaget berpelukan (dengan paman). Saya percaya ini karena kemurahan Tuhan, sampai dia mau meminta maaf dari hatinya yang terdalam, hingga menangis.”

Tuntas sudah semua permasalah di masa lalu Yayah. Gadis kecil yang bersikap berandalan itu kini telah berganti menjadi seorang wanita muda yang lembut dan penuh kasih sayang merawat sang suami dan kedua anak laki-lakinya. Kini kerinduannya agar kedua anak-anaknya bertumbuh menjadi anak-anak yang takut akan Tuhan serta tidak mengulang sejarah buruk yang pernah ia alami. (Kisah ini ditayangkan 19 Mei 2011 dalam acara Solusi Life di O”Channel)

Sumber Kesaksian:

Yayah Ade Rina

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: