Kisah Pilu Gadis yang Dibuang

3 Mar

Putri Herlina tak seperti perempuan lainnya. Kondisi fisiknya tidak sempurna. Atas alasan itu pula orangtuanya membuang gadis ini. Kini, Putri telah dewasa dan tergerak untuk membantu sesama.

Dua puluh lima tahun yang lalu, tepatnya tanggal 3 Oktober 1988 saya dilahirkan dari pasangan yang sampai saat ini tak saya ketahui sosoknya. Saya lahir di salah satu rumah sakit di Yogyakarta. Entah kenapa, saya ditinggalkan begitu saja oleh kedua orangtua saya. Mungkin, mereka malu dengan kondisi fisik saya. Saya tak memiliki tangan kanan. Sedangkan tangan kiri saya panjangnya hanya 15 cm. Jari-jari pun tumbuh tak sempurna.

Dalam kondisi itu, saya diasuh oleh seorang ibu bernama Hj. Ciptaning Utaryo. Ia merupakan mantan ketua umum Yayasan Sayap Ibu, yaitu panti asuhan yang menampung anak-anak yang dibuang oleh orangtuanya. Puluhan tahun saya dibesarkan di yayasan itu penuh dengan cinta dan kasih sayang.

SEMPAT DIEJEK

Dari cerita Ibu Cipatning, saya dirawat di Panti I, yakni panti untuk bayi-bayi yang tak diakui oleh orangtuanya. Tak lama, saya dipindah ke Panti II (tempat perawatan cacat ganda), lantaran kondisi fisik saya tak sempurna. Banyak yang mengatakan, ketika saya bayi, saya susah minum susu sendiri. Para perawat di sana mengakalinya dengan cara mengikat botol susu menggunakan selendang. Barulah saya bisa minum susu.

Usia bertambah, pengasuh saya di panti pun mulai mengajari saya cara makan dengan sendok yang dijepit menggunakan kaki. Pengasuh saya sangat baik. Mereka merupakan sepasang suami istri. Berkat kesabaran dan ketekunannya merawat saya, akhirnya saya bisa meraktivitas menggunakan kaki. Bila hendak mengambil barang, saya akan menjepit dengan jari-jari kaki.

Saya juga bisa melakukan semua pekerjaan orang pada umumnya seperti, memasak, mandi dan lain-lain. Satu hal yang saya belum bisa melakukan sampai sekarang, memasang resleting baju bagian belakang. Lainnya, atas kuasa Sang Pencipta saya bisa melakukan aktivitas normal.

Saat SMA merupakan momen di mana untuk pertama kalinya saya berani menyalakan kompor. Keberanian itu muncul karena saat sekolah SMA saya tinggal di mes. Saya sekolah di SMA Muhammadiyah, Solo. Lantaran anak indekos, saya pun harus belajar memasak untuk makan sehari-hari. Kebutuhan seperti, beras, sayuran dan mi dikirim dari Yayasan Sayap Ibu. Ketika stok logistik saya habis, saya pun tinggal menelepon pengasuh saya di panti. Dan seketika itu pula kebutuhan makanan langsung dikirim.

Banyak yang heran dengan pilihan saya untuk sekolah di sekolah regular, yang mayoritas siswanya normal. Tidak seperti saya. Pilihan ini sudah saya lakukan sejak duduk di bangku TK hingga SMA. Tentu saya menjadi “orang spesial” di antara anak-anak lain. Saking spesial dan berbeda dengan anak-anak yang lain, tak jarang saya diejek oleh mereka.

Sempat ada satu teman SD saya kala itu yang suka mengolok-olok saya. Dia laki-laki dan memang terkenal bandel. Saya dibilang anak cacat, anak panti yang jorok dan bau. Dia juga memengaruhi teman-teman lainnya untuk menjauhi saya. Sedih sekali mengingat hal itu. Saya seperti orang hina. Tapi beruntung teman-teman tak menghiraukan. Mereka malah berbaik hati membantu dan menerima saya seperti yang lain.

Saya benar-benar susah untuk melupakan kejadian tersebut. Hingga kini saya masih ingat nama anak yang menghina saya itu dan alamat rumahnya. Kadang saya membayangkan, bila suatu saat bertemu dengan teman saya itu. Apakah ia masih mengejek saya atau tidak.

Saya tidak pernah marah kepada Tuhan karena telah menciptakan saya dengan kondisi tubuh seperti ini. Jika saya marah, sama artinya saya membenci Tuhan. Saya selalu yakin bahwa ketika Tuhan menciptakan makhluk dengan kondisi apa pun, pasti ada rencana di balik itu semua.

Walau sempat diejek tapi saya tidak pernah minder di sekolah. Buktinya, saya mengikuti berbagai kegiatan seperti Organisasi Intra Sekolah atau yang disingkat OSIS. Dari situ kepercayaan diri saya semakin naik. Apalagi teman-teman sangat mendukung saya.

RINDU SOSOK IBU

Terkadang saya melewati masa-masa kangen dengan orangtua. Saya ingin berada di antara mereka. Sama seperti teman-teman saya yang lain, yang mempunyai orangtua lengkap. Perasaan ini sempat iri. Terutama saat SMA, di mes sering saya sering melihat teman-teman didatangi oleh kedua orangtuanya. Hati kecil pun bergumam, seandainya saya seberuntung mereka. Tapi, ya, sudahlah, inilah jalan hidup saya yang telah digariskan Tuhan.

Setelah lulus sekolah saya kembali ke panti asuhan. Tepat di usia 21 tahun, ada tradisi yang dilakukan oleh para pengasuh di panti. Mereka akan mengumpulkan anak-anak asuh yang sudah dewasa tersebut. Satu per satu para pengasuh akan menceritakan asal usul orangtua anak-anak tersebut.

Ada yang kaget, menangis, dan biasa saja. Saya termasuk orang yang biasa saja ketika pengasuh menceritakan masa kecil saya. Mungkin karena selama ini, bahkan sejak kecil, saya menyadari status saya sebagai anak panti. Maka saat pihak panti menceritakan asal-usul saya ditemukan, tak ada rasa deg-degan atau amarah di hati ini.

Tak banyak yang tahu cerita latar belakang keluarga saya dan alasan mengapa saya dibuang di rumah sakit. Mereka hanya tahu nama Ibu saya. Perempuan itu bernama Heliniarti, begitu yang mereka ketahui tentang orangtua saya. Hanya itu.

Saat itu terbesit di pikiran ini membayangkan wajah ibu yang melahirkan saya. Saya pun bertanya-tanya apakah saya punya kakak atau adik. Saya ingin melihat dan bertemu mereka, keluarga saya. Sampai sekarang saya tidak tahu di mana orangtua saya berada.

Ingin sekali rasanya bertemu ibu kandung. Saya berjanji, ketika saya bisa bertemu dirinya, apa pun status ibu saya, miskin atau serbakekurangan, saya akan tetap menerimanya. Saya selalu berdoa kepada Tuhan, agar saya dipertemukan dengan ibu sebelum ajal ini menjemput.

Bila saya diberikan rezeki dan umur panjang, dan saya bisa bertemu dengan ibu dalam kondisi saya sudah sukses, saya pasti akan membahagiakannya. Saya akan memboyong dirinya ke rumah yang sudah saya beli dari hasil keringat sendiri. Saya sudah berjanji kepada Tuhan, kalau pun saya pernah dibuang oleh ibu kandung, namun saya tak akan pernah dendam kepada beliau.

MENGABDI DI PANTI

Ketika rasa kangen ingin bertemu dengan ibu kandung memuncak, di saat itulah saya tersadar dan bersyukur. Toh, saya masih punya para pengasuh yang begitu sayang kepada saya. Mereka sudah seperti orangtua kandung saya. Banyak ilmu yang sudah mereka ajarkan kepada saya. Termasuk ilmu mandiri. Saya dididik harus bisa melakukan aktivitas sendiri.

Termasuk menggunakan komputer. Saya bisa mengoperasikan komputer menggunakan kaki. Kedua kaki ini saya gunakan untuk menggerakkan mouse maupun keyboard. Demikian juga saat memasak dan melakukan aktivitas lain. Saya bisa. Saya tak pernah mau merepotkan orang banyak.

Saya benar-benar berterima kasih kepada pihak panti, karena atas bantuan mereka pula saya ditampung kerja di sana. Saya ditempatkan sebagai resepsionis. Ketika ada tamu datang, saya bertugas menyambut mereka. Tak lupa saya juga akan mendata tamu-tamu yang datang tersebut. Pasalnya, mereka datang untuk berbagai tujuan. Ada yang berkonsultasi, mengadopsi, ada juga yang ingin memberi bantuan bagi kelangsungan panti.

Pekerjaan saya sebagai resepsionis mulai pukul 9 pagi hingga pukul 2 siang. Selebihnya, saya kadang membantu para pengasuh di Panti II. Seperti mengajak anak-anak penghuni panti bermain, menyuapi mereka makan, hingga mengganti popok. Kadang ada kesulitan juga ketika menghadapi anak-anak yang aktif. Saya dibuat kelabakan olehnya.

Saya sangat sayang dengan anak-anak yang ada di panti itu. Mereka sudah saya anggap seperti adik sendiri. Ketika saya tengah mengasuh bayi-bayi itu, saya sempat berandai-andai, kelak ketika saya sudah sukses saya akan membiayai anak-anak panti tersebut. Saya juga sempat berkhayal untuk memiliki pendamping hidup.

Saya ingin memiliki suami yang benar-benar menerima kondisi saya apa adanya. Tentunya suami saya kelak tak hanya menyayangi saya, tapi juga menyayangi adik-adik saya di panti ini. Semoga Tuhan mengabulkan doa saya ini. Amin.

Patut kita renungkan sekalipun seorang ibu tega membuang anak kandungnya sendiri sama seperti ibunya Musa terpaksa menghanyutkan anaknya di dalam sebuah keranjang kedap air dengan tujuan untuk menyelamatkannya dari peristiwa pembunuhan bayi bayi Yahudi oleh raja mesir. Tetapi Allah sanggup merubah hal yang buruk itu demi kebaikan kita semua.

Kej 1:6 Kemudian matilah Yusuf, serta semua saudara-saudaranya dan semua orang yang seangkatan dengan dia.

7 Orang-orang Israel beranak cucu dan tak terbilang jumlahnya; mereka bertambah banyak dan dengan dahsyat berlipat ganda, sehingga negeri itu dipenuhi mereka.

8 Kemudian bangkitlah seorang raja baru memerintah tanah Mesir, yang tidak mengenal Yusuf.

9 Berkatalah raja itu kepada rakyatnya: “Bangsa Israel itu sangat banyak dan lebih besar jumlahnya dari pada kita.

10 Marilah kita bertindak dengan bijaksana terhadap mereka, supaya mereka jangan bertambah banyak lagi dan–jika terjadi peperangan–jangan bersekutu nanti dengan musuh kita dan memerangi kita, lalu pergi dari negeri ini.”

11 Sebab itu pengawas-pengawas rodi ditempatkan atas mereka untuk menindas mereka dengan kerja paksa: mereka harus mendirikan bagi Firaun kota-kota perbekalan, yakni Pitom dan Raamses.

12 Tetapi makin ditindas, makin bertambah banyak dan berkembang mereka, sehingga orang merasa takut kepada orang Israel itu.

13 Lalu dengan kejam orang Mesir memaksa orang Israel bekerja,

14 dan memahitkan hidup mereka dengan pekerjaan yang berat, yaitu mengerjakan tanah liat dan batu bata, dan berbagai-bagai pekerjaan di padang, ya segala pekerjaan yang dengan kejam dipaksakan orang Mesir kepada mereka itu.

15 Raja Mesir juga memerintahkan kepada bidan-bidan yang menolong perempuan Ibrani, seorang bernama Sifra dan yang lain bernama Pua, katanya:

16 “Apabila kamu menolong perempuan Ibrani pada waktu bersalin, kamu harus memperhatikan waktu anak itu lahir: jika anak laki-laki, kamu harus membunuhnya, tetapi jika anak perempuan, bolehlah ia hidup.”

17 Tetapi bidan-bidan itu takut akan Allah dan tidak melakukan seperti yang dikatakan raja Mesir kepada mereka, dan membiarkan bayi-bayi itu hidup.

18 Lalu raja Mesir memanggil -bidan itu dan bertanya kepada mereka: “Mengapakah kamu berbuat demikian membiarkan hidup bayi-bayi itu?”

19 Jawab bidan-bidan itu kepada Firaun: “Sebab perempuan Ibrani tidak sama dengan perempuan Mesir; melainkan mereka kuat: sebelum bidan datang, mereka telah bersalin.”

20 Maka Allah berbuat baik kepada bidan-bidan itu; bertambah banyaklah bangsa itu dan sangat berlipat ganda.

21 Dan karena bidan-bidan itu takut akan Allah, maka Ia membuat mereka berumah tangga.

22 Lalu Firaun memberi perintah kepada seluruh rakyatnya: “Lemparkanlah segala anak laki-laki yang lahir bagi orang Ibrani ke dalam sungai Nil; tetapi segala anak perempuan biarkanlah hidup.”

Kel 2:1 Seorang laki-laki dari keluarga Lewi kawin dengan seorang perempuan Lewi;

2 lalu mengandunglah ia dan melahirkan seorang anak laki-laki. Ketika dilihatnya, bahwa anak itu cantik, disembunyikannya tiga bulan lamanya.

3 Tetapi ia tidak dapat menyembunyikannya lebih lama lagi, sebab itu diambilnya sebuah peti pandan, dipakalnya dengan gala-gala dan ter, diletakkannya bayi itu di dalamnya dan ditaruhnya peti itu di tengah-tengah teberau di tepi sungai Nil;

4 kakaknya perempuan berdiri di tempat yang agak jauh untuk melihat, apakah yang akan terjadi dengan dia.

5 Maka datanglah puteri Firaun untuk mandi di sungai Nil, sedang dayang-dayangnya berjalan-jalan di tepi sungai Nil, lalu terlihatlah olehnya peti yang di tengah-tengah teberau itu, maka disuruhnya hambanya perempuan untuk mengambilnya.

6 Ketika dibukanya, dilihatnya bayi itu, dan tampaklah anak itu menangis, sehingga belas kasihanlah ia kepadanya dan berkata: “Tentulah ini bayi orang Ibrani.”

7 Lalu bertanyalah kakak anak itu kepada puteri Firaun: “Akan kupanggilkah bagi tuan puteri seorang inang penyusu dari perempuan Ibrani untuk menyusukan bayi itu bagi tuan puteri?”

8 Sahut puteri Firaun kepadanya: “Baiklah.” Lalu pergilah gadis itu memanggil ibu bayi itu.

9 Maka berkatalah puteri Firaun kepada ibu itu: “Bawalah bayi ini dan susukanlah dia bagiku, maka aku akan memberi upah kepadamu.” Kemudian perempuan itu mengambil bayi itu dan menyusuinya.

10 Ketika anak itu telah besar, dibawanyalah kepada puteri Firaun, yang mengangkatnya menjadi anaknya, dan menamainya Musa, sebab katanya: “Karena aku telah menariknya dari air.”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: