“Cahaya! Beri aku cahaya!” – Helen Keler

12 Feb

[Catatan Editor: Helen Keller jatuh sakit pada usia dua tahun dan menjadi buta dan tuli. Selama lima tahun berikutnya, ia tumbuh dalam dunia yang gelap dan hampa. Ia ketakutan, kesepian, dan tanpa pegangan. Ini adalah kisah pertemuannya dengan gurunya yang mengubah hidupnya dan bagaimana kata-kata atau firman menghubungkan kegelapan hidupnya dengan terang.]

Hari terpenting yang kuingat seumur hidupku adalah saat guruku, Anne Mansfield Sullivan, menghampiriku. Aku sangat terpesona saat aku memikirkan perbedaan yang tajam antara dua kehidupan yang dihubungkannya. Dan bagaimana hari-hari aku yang gelap akan menjadi terang. Hari itu tanggal 3 Maret 1887, tiga bulan sebelum aku berulang tahun yang ketujuh.

Pada sore itu, aku berdiri di beranda, tuli dan penuh harap. Aku menebak samar-samar dari isyarat ibuku dan dari gerakan mondar-mandir dalam rumah bahwa sesuatu di luar kebiasaan akan terjadi; jadi aku pergi ke pintu dan menunggu di tangga. Matahari senja menembus bunga honeysuckle yang menutupi beranda, dan jatuh pada wajahku yang menengadah. Jariku menyentuh hampir tanpa sadar pada daun dan bunga yang baru muncul menyapa musim semi yang menyenangkan. Aku tak tahu bahwa masa depan menyimpan keajaiban atau kejutan bagiku. Amarah dan rasa getir telah memangsaku terus-menerus selama berminggu-minggu dan keletihan telah menggantikan perjuangan ini.

Pernahkah kau berada di laut dalam kabut tebal, saat seakan kegelapan putih yang dapat diraba mengurungmu, dan kapal besar, yang tegang dan gugup, meraba-raba ke arah pantai sambil menyusuri lintasan suara, dan kau menunggu dengan jantung berdegup, menunggu sesuatu terjadi? Aku seperti kapal itu sebelum pendidikanku dimulai, hanya saja aku tak memiliki kompas atau lintasan suara, dan tak mungkin tahu sedekat apa pelabuhan itu. “Cahaya! Beri aku cahaya!” adalah tangisan tanpa kata dari jiwaku, dan cahaya cinta menyinariku pada saat itu.

Aku merasakan langkah kaki mendekat. Aku menghulurkan tanganku karena mengira ibuku yang datang. Seseorang meraih tanganku, dan aku dipeluk erat oleh orang yang telah mengungkapkan segala hal padaku, dan, lebih dari yang lain, yang telah mencintaiku.

Pada pagi hari setelah guruku datang, ia menuntunku ke kamar dan memberiku sebuah boneka. Anak-anak buta di Lembaga Perkins yang mengirimnya dan Laura Bridgman telah memberinya baju, tapi aku belum mengetahuinya pada waktu itu. Waktu aku bermain dengan boneka itu sejenak, Nona Sullivan perlahan mengeja dalam tanganku kata “b-o-n-e-k-a.” Aku segera tertarik pada permainan jari itu dan mencoba menirunya. Waktu aku akhirnya berhasil menyusun huruf-huruf itu dengan benar, aku merasa gembira dan bangga. Aku berlari ke bawah menemui ibuku, aku mengangkat tanganku dan menyusun huruf untuk kata “boneka”. Aku tak tahu bahwa aku sedang mengeja sebuah kata atau bahkan bahwa kata-kata itu ada; aku hanya membuat jariku bergerak meniru seperti monyet. Pada hari-hari berikutnya aku belajar mengeja banyak kata dengan cara yang tak kumengerti ini, di antaranya jarum, topi, cangkir, dan beberapa kata kerja seperti duduk, berdiri, dan berjalan. Tapi guruku sudah tinggal bersamaku selama beberapa minggu saat aku akhirnya mengerti bahwa semua benda itu memiliki nama.

Suatu hari, waktu aku sedang bermain dengan boneka baruku, Nona Sullivan menaruh boneka kainku dan yang besar dalam pangkuanku, mengeja “b-o-n-e-k-a” dan mencoba membuatku mengerti bahwa “b-o-n-e-k-a” berarti kedua boneka yang kumiliki. Sebelum itu kami berdebat tentang kata “g-e-l-a-s” dan “a-i-r”. Nona Sullivan mengajariku bahwa “g-e-l-a-s” adalah gelas dan “a-i-r” adalah air, tapi aku tetap menggabungkan topik itu. Dengan putus asa ia mengesampingkan topik itu, hanya untuk memperbaharuinya pada kesempatan pertama. Aku menjadi tak sabar dengan usahanya yang berulang-ulang itu, dan merebut boneka baru itu, mencampakkanya ke lantai. Aku sangat senang dan aku merasakan pecahan boneka itu di kakiku. Tak ada rasa sedih atau sesal mengikuti kemarahanku. Aku tidak mencintai boneka itu. Dalam dunia sepi dan gelap yang kudiami, tak ada perasaan atau kelembutan yang kuat. Aku merasakan guruku menyapu pecahan boneka itu ke satu sisi perapian dan aku merasa puas karena penyebab perasaanku yang tak enak itu telah disingkirkan. Ia membawakanku topi, dan aku tahu bahwa aku akan keluar menikmati sinar matahari yang hangat. Pikiran ini, kalau sensasi tanpa kata ini dapat disebut pikiran, membuatku melompat-lompat gembira.

Kami menyusuri jalan ke rumah sumur, tertarik oleh wangi honeysuckle yang masih menutupinya. Seseorang sedang menimba air dan guruku meletakkan tanganku di bawah keran. Saat aliran dingin menimpa satu tanganku, ia mengeja pada tanganku yang sebelah kata air, mula-mula perlahan, lalu cepat. Aku berdiri diam, seluruh perhatianku terpaku pada gerakan jarinya. Mendadak aku merasakan kesadaran samar-samar akan sesuatu yang terlupakan – kesenangan pikiran yang muncul kembali; dan entah bagaimana misteri bahasa terungkap dihadapanku. Aku tahu saat itu bahwa “a-i-r” berarti benda dingin indah yang mengalir di tanganku. Kata yang hidup itu membangunkan jiwaku, memberinya cahaya, harapan, kebahagiaan, dan membebaskannya! Memang hambatan masih ada, tapi hambatan yang dapat disingkirkan dengan berjalannya waktu. Dunia aku yang gelap sekarang sudah mulai menjadi terang karena kata-kata/firman mulai mempunyai arti bagiku.

Aku meninggalkan rumah sumur, bersemangat untuk belajar. Semua benda memiliki nama, dan setiap nama menerbitkan pikiran baru. Saat kami kembali ke rumah, setiap benda yang kusentuh seakan bergetar dengan kehidupan. Itu karena aku melihat semuanya dengan pandangan baru yang aneh yang telah datang kepadaku. Saat memasuki pintu, aku teringat akan boneka yang kupecahkan. Aku meraba jalanku ke perapian dan memungut pecahannya. Aku mencoba dengan sia-sia menyatukannya kembali. Lalu air mataku berlinang; karena aku menyadari apa yang telah kulakukan, dan untuk pertama kalinya aku merasakan sesal dan sedih.

Aku belajar banyak kata baru hari itu. Aku tak ingat semuanya; tapi aku tahu bahwa ibu, ayah, adik, dan guru ada di antaranya – kata-kata yang membuat dunia mekar berseri bagiku, “seperti tongkat Harun, dengan bunga-bunga.” Mungkin sulit menemukan anak yang lebih bahagia daripada aku saat aku berbaring dalam tempat tidurku pada akhir hari itu dan mengulangi kembali kebahagiaan yang dihadirkannya untukku, dan untuk pertama kalinya menunggu kedatangan hari baru.

[Editor:  Helen kemudian lulus cum laude dari Universitas Radcliffe. Ia lalu mengabdikan sisa hidupnya untuk mengajar dan memberikan harapan bagi anak buta dan tuli, seperti yang telah dilakukan gurunya.]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: