Bertumbuh untuk Menjadi Naungan (Yehezkiel 17:22–24 ; Markus 4:26–34) 

4 Feb

image

Tidak jauh dari tempat tinggal nenek, tumbuh sebuah pohon beringin. Pohon itu sangat besar dan rindang. Penulis ingat, pada masa kecil, ia suka bermain bersama teman-temannya di bawah pohon beringin yang rindang itu. Sudah biasa dilihatnya, di siang yang terik banyak orang bernaung disana. Ada yang sekedar merebahkan diri di atas akar-akar pohon yang menonjol keluar, atau duduk-duduk di beberapa bebatuan besar yang sudah lama tergeletak di sana. Ada juga yang duduk di kursi penjual mie soto atau penjual es campur, sambil menikmati jajanan. Ya, pohon beringin yang rindang itu cukup besar untuk menjadi naungan bagi para penjual makanan, orang-orang yang sedang bersantai, ataupun anak-anak yang ingin bermain.

Gambaran masa kecil itu sangat membantu penulis untuk memahami dan menghayati bacaan Alkitab hari Minggu ini dan tema “Bertumbuh Untuk Menjadi Naungan”. Sebuah carang dari puncak pohon aras, dari pucuk yang paling ujung dan yang masih muda, diambil dan ditanam oleh tangan Allah sendiri di atas gunung Israel yang menjulang tinggi.

Dari sana akan timbul tunas (Ibrani: netzer, bisa ditasirkan sebagai Yesus orang Nazaret, Tunas dari Tunggul Isai). Di tangan Allah, tunas itu akan tumbuh menjadi pohon aras yang bercabang-cabang, berbuah, dan hebat. Segala jenis burung akan bersarang di dalamnya dan berlindung di bawah naungannya (Yeh. 17:22-23). Pohon aras itu pada satu sisi merefleksikan kehadiran Allah yang besar dan teduh.

Kehadiran Allah sangat definitif dan kontekstual, sehingga menaungi dan melingkupi. Umat dapat bernaung di bawah kuasa-Nya, bagaikan burung-burung yang bernaung di bawah cabang-cabang pohon aras. Di sisi lain, pohon aras itu melambangkan umat Allah yang bertumbuh untuk menjadi naungan. Umat Allah bukan bertumbuh untuk kepentingan dirinya sendiri, melainkan untuk menjadi berkat dan tempat berteduh bagi banyak orang. Kebenaran ini disampaikan oleh Tuhan Yesus melalui perumpamaan tentang Kerajaan Allah. Kerajaan Allah itu diumpamakan seperti orang yang menabur benih di tanah (Mrk. 4:26-29). Ia hanya menabur benih, tetapi Allah yang memberi pertumbuhan.

Bagaimana proses bertumbuhnya tidak diketahui dan tidak kelihatan, tetapi pertumbuhan itu terus berlangsung siang dan malam. Kerajaan Allah itu juga diumpamakan seperti biji sesawi yang ditabur di tanah (Mrk. 4:30-34). Biji sesawi itu meskipun kecil, tetapi mempunyai daya untuk bertumbuh. Pada saat sudah bertumbuh, ia menjadi kuat dan berguna. Ukurannya lebih besar dari segala sayuran lainnya, dimana cabang-cabangnya menjadi tempat bersarang dan bernaung burung-burung.

Perumpamaan pertama berbicara tentang kapasitas orang yang beriman sebagai penabur. Perumpamaan kedua berbicara tentang kapasitas orang yang beriman sebagai benih yang ditabur. Orang beriman harus tetap bersandar pada Allah untuk menabur benih yang mendatangkan manfaat bagi banyak orang. Lebih dari itu, orang beriman itu sendiri harus terus bertumbuh untuk menjadi tempat yang teduh bagi orang-orang yang ada disekitarnya. Kiranya Tuhan menolong kita untuk bertumbuh menjadi naungan bagi sesama kita. – AL

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: