Arsip | Februari, 2013

Marah Dengan Ibu

28 Feb

Pada malam itu, Ana bertengkar dengan ibunya.

Karena sangat marah, Ana segera meninggalkan rumah tanpa membawa apapun.

Saat berjalan di suatu jalan, ia baru menyadari bahwa ia sama sekali tdk membawa uang.

Saat menyusuri sebuah jalan, ia melewati sebuah kedai bakmi dan ia mencium harumnya aroma masakan.

Ia ingin sekali memesan semangkuk bakmi, tetapi ia tdk mempunyai uang.

Pemilik kedai melihat Ana berdiri cukup lama di depan kedainya, lalu berkata “Nona, apakah engkau ingin memesan semangkuk bakmi?”

” Ya, tetapi, aku tdk membawa uang” jawab Ana dengan malu-malu

“Tidak apa-apa, aku akan mentraktirmu” jawab si pemilik kedai. “Silahkan duduk, aku akan memasakkan bakmi untukmu”.

Tidak lama kemudian, pemilik kedai itu mengantarkan semangkuk bakmi.

Ana segera makan beberapa suap, kemudian air matanya mulai berlinang.

“Ada apa nona?” Tanya si pemilik kedai.

“tidak apa-apa” aku hanya terharu jawab Ana sambil mengeringkan air matanya.

“Bahkan, seorang yang baru kukenal pun memberi aku semangkuk bakmi !, tetapi,…

ibuku sendiri, setelah bertengkar denganku, mengusirku dari rumah dan mengatakan kepadaku agar jangan kembali lagi ke rumah”

“Kau, seorang yang baru kukenal, tetapi begitu peduli denganku dibandingkan dengan ibu kandungku sendiri” katanya kepada pemilik kedai

Pemilik kedai itu setelah mendengar perkataan Ana, menarik nafas panjang dan berkata

“Nona mengapa kau berpikir seperti itu? Renungkanlah hal ini, aku hanya memberimu semangkuk bakmi dan kau begitu terharu. Ibumu telah memasak bakmi dan nasi utukmu saat kau kecil sampai saat ini, mengapa kau tidak berterima kasih kepadanya? Dan kau malah bertengkar dengannya”

Ana, terhenyak mendengar hal tsb.

“Mengapa aku tdk berpikir ttg hal tsb? Utk semangkuk bakmi dr org yg baru kukenal, aku begitu berterima kasih, tetapi kepada ibuku yg memasak untukku selama bertahun-tahun, aku bahkan tidak memperlihatkan kepedulianku kepadanya. Dan hanya karena persoalan sepele, aku bertengkar dengannya.

Ana, segera menghabiskan bakminya, lalu ia mnguatkan dirinya untuk segera pulang ke rumahnya.

Saat berjalan ke rumah, ia memikirkan kata-kata yg hrs diucapkan kpd ibunya.

Begitu sampai di ambang pintu rumah, ia melihat ibunya dengan wajah letih dan cemas.

Ketika bertemu dengan Ana, kalimat pertama yang keluar dari mulutnya adalah “Ana kau sudah pulang, cepat masuklah, aku telah menyiapkan makan malam dan makanlah dahulu sebelum kau tidur, makanan akan menjadi dingin jika kau tdk memakannya sekarang”

Pada saat itu Ana tdk dapat menahan tangisnya dan ia menangis dihadapan ibunya.

“Hormatilah ayahmu dan ibumu, seperti yang diperintahkan kepadamu oleh TUHAN, Allahmu, supaya lanjut umurmu dan baik keadaanmu di tanah yang diberikan TUHAN, Allahmu, kepadamu”.

Iklan

Yesus Meredakan Badai dan Gelombang (Matthew 8:23-27)

27 Feb

MATIUS 8:23-27

23 Lalu Yesus naik ke dalam perahu dan murid-murid-Nya pun mengikuti-Nya.

24 Sekonyong-konyong mengamuklah angin ribut di danau itu, sehingga perahu itu ditimbus gelombang, tetapi Yesus tidur.

25 Maka datanglah murid-murid-Nya membangunkan Dia, katanya: “Tuhan, tolonglah, kita binasa.”

26 Ia berkata kepada mereka: “Mengapa kamu takut, kamu yang kurang percaya?” Lalu bangunlah Yesus menghardik angin dan danau itu, maka danau itu menjadi teduh sekali.

27 Dan heranlah orang-orang itu, katanya: “Orang apakah Dia ini, sehingga angin dan danau pun taat kepada-Nya?” (Markus 4:35-41; Lukas 8:22-25; Kisah Para Rasul 27:22-34)

Kristus bisa saja mencegah badai ini dan menyiapkan perjalanan yang mudah bagi para murid-Nya, tetapi hal itu tidak akan begitu membawa kemuliaan bagi-Nya dan bagi penguatan iman para murid. Orang akan berpikir bahwa karena Kristus ada bersama dengan mereka, maka perjalanan mereka akan selalu menyenangkan. Sebaliknya, Kristus menunjukkan kepada kita bahwa menyeberangi samudera kehidupan ini ke sisi lain bersama Dia, ada badai keras yang juga harus dihadapi di sepanjang perjalanan.

Kristus tidak selalu memberikan kepada para murid-Nya kenyamanan dan kesenangan fisik. Namun Ia menyelamatkan mereka di tengah badai, angin ribut dan kesulitan, karena Iblis berusaha dengan segala cara berusaha menghilangkan perlindungan dari Kristus dan mengejutkan para pengikut Kristus dengan tipu daya, dusta dan jebakannya. Gereja Kristen pasti akan mengalami, saat masih di dunia ini, gangguan dan perpecahan.

Kristus tidur di perahu itu dengan tenang meski bahaya mengancam. Ia tidur untuk menunjukkan bahwa Ia hidup sebagai manusia seperti kita tetapi Ia tidak berdosa. Pekerjaan-Nya yang banyak membuat Dia lelah dan mengantuk, namun karena Ia tidak memiliki kesalahan, Ia tidak memiliki rasa takut yang mengganggu batin-Nya. Barangsiapa berjalan dengan Kristus ke dalam bahtera gereja, menyeberangi samudera kehidupan, akan merasa aman meski bahaya mengancam, karena Juruselamat yang setia dan kuat menyertai dia. Masuklah ke dalam bahtera Kristus dan jangan takut, karena Ia jurumudi yang terbaik. Kalau anda menyerahkan kemudi kehidupan anda kepada-Nya, Ia pasti akan membawa anda ke pelabuhan aman di mana ada kedamaian kekal.

Persekutuan anda dengan Kristus tidak membuat anda lepas dari badai yang mendadak dan berbahaya, yang mungkin mengancam anda bahkan sampai tenggelam. Pengalaman yang demikian biasa saja. Kita harus belajar dari pengalaman itu bahwa gereja tidak dijaga oleh manusia dan tidak ada yang bisa melindunginya kecuali Tuhan dan Pemiliknya, Yesus Kristus.

Nelayan yang berpengalaman itu meneruskan pekerjaan mereka di tengah badai, menguras air keluar dari perahu mereka, tetapi ketika laut yang bergelora mulai menimpa mereka dengan gelombang yang dahsyat, mereka menjadi takut dan gelisah serta mulai berteriak. Perahu mereka penuh dengan air dan hampir tenggelam. Mereka kehilangan kesabaran, membangunkan Yesus yang tidur dan menggoncang-Nya sambil berseru, “Tuhan, selamatkan kami! Tidakkah Engkau lihat bahwa kita di dalam masalah? Bagaimana Engkau bisa tidur saat kita di ambang kebinasaan?”

Kristus bangun dari tidur-Nya di tengah bahaya yang mematikan itu. Ia tidak langsung menyelamatkan mereka, tetapi menegur mereka, karena bahaya itu bukan disebabkan oleh badai yang dahsyat, tetapi karena iman mereka yang kecil di masa pencobaan. Kristus menuntut dari para pengikut-Nya sebuah kepercayaan yang berani dan mutlak kepada perhatian dan perlindungan dari Bapa surgawi mereka di setiap saat dalam kehidupan mereka, karena takut tidak selaras dengan kasih Allah.

Kristus kemudian menghardik angin yang kencang di danau itu. Ketika Ia memerintahkan dengan perkataan-Nya agar angin itu reda, angin itupun redalah, dan ada ketenangan yang sangat luar biasa. Ketakutan menyelimuti para murid ketika melihat mujizat ini, karena mereka melihat bukti bahwa Yesus juga adalah Tuhan atas alam. Dimanapun Kristus memerintah maka damai sejahtera surgawi akan datang ke dalam hati. Kapankah anda mau menyembah Yesus, percaya kepada kekuasaan-Nya atas alam, bangsa dan masalah? Serahkan diri anda kepada-Nya dan anda akan hidup dalam damai di tengah bahaya, terlindung dari jurang kematian.

DOA: Oh Tuhan Yesus Kristus, Engkaulah yang mahakuasa. Ampunilah saya atas iman saya yang kecil di masa bahaya. Kuatkanlah kasih kami kepada-Mu sehingga kami bisa sepenuhnya percaya kepada-Mu. Berdiamlah di dalam kehidupan kami sehingga kami tidak kehilangan pengharapan di masa kesusahan. Bukalah mata kami sehingga kami bisa melihat Engkau dan memahami kemenangan-Mu atas segala kuasa, alam dan kesulitan, dan bahwa Engkau senantiasa mengasihi umat-Mu

Kisah Dibalik Foto Mengharukan Anak Gendong Ibu Di Rumah Sakit

26 Feb
Kisah Dibalik Foto Mengharukan Anak Gendong Ibu Di Rumah Sakit

Ding Zu-ji membeberkan rahasianya: Hampir saja dibuang ke laut bersama ibunya

China Times (Hong Rong-zhi dan Zhou Xiao-ting melaporkan dari Tainan)

“Saya hampir saja tidak bisa terlahir ke dunia ini.” Ding Zu-ji, seorang pensiunan penyelidik khusus yang diambil fotonya sedang menggendong ibunya dengan sehelai kain kembang dalam sebuah rumah sakit di kota Tainan Taiwan, ketika menerima wawancara khusus dari para wartawan tanggal 6 Maret 2012 mengungkapkan sebuah rahasia betapa kehidupannya sangat berkaitan erat dengan kehidupan ibunya; dia mengatakan bahwa pada saat ibunya sedang mengandungnya enam bulan, naik kapal meninggalkan Tiongkok menuju Taiwan dan hampir saja dibuang ke laut karena tidak dapat menunjukkan kartu identitas diri.

“Saya adalah anak paling sulung dalam keluarga, hubunganku dengan ibu memang paling dekat dan itu ada cerita dibaliknya.” Ding Zu-ji mengenang kembali pada tahun 1950 ketika Pemerintah Nasionalis mundur dari Tiongkok ke Taiwan, disebabkan ayahnya adalah seorang prajurit, maka ibunya mengikuti keluarga prajurit lainnya untuk sama-sama naik kapal ke Taiwan; karena banyak sekali warga Tiongkok yang ingin pergi ke Taiwan, maka setiap kapal penuh sesak dengan manusia dan membuat setiap unit kapal kelebihan beban, para perwira dan prajurit di atas kapal melakukan pemeriksaan keamanan dengan sangat ketat demi mencegah naiknya musuh ke atas kapal, siapa saja yang tidak membawa kartu identitas diri akan dibuang ke laut.

Ding Zu-ji mengatakan kalau saat itu kebetulan ibunya sedang mengandungnya enam bulan, dengan perut buncit naik ke kapal untuk menuju Taiwan bersama-sama dengan keluarga prajurit lainnya; tak disangka ketika para perwira dan prajurit memeriksa kartu identitas diri, ibunya tidak bisa menemukan kartu identitas diri dan membuatnya sangat gelisah. Walau teman seperjalanan lainnya berinisiatif menjadi saksi, bahkan memohon belas kasihan dari para perwira dan prajurit, namun mereka tetap ikut aturan dan hampir saja membuang ibu yang sedang berperut besar ke laut.

Untungnya, ketika kedua belah pihak sedang berkomunikasi dan tarik menarik, mendadak ada orang yang menemukan ada selembar kartu identitas diri di bawah bangku panjang sebelah, setelah diambil ternyata adalah kartu identitas diri ibu yang jatuh karena kurang hati-hati, barulah terhindar dari ambang kematian. Ding Zu-ji berkata sambil tertawa: “Sejak itulah hubunganku dengan ibu sangatlah dekat.”

“Saya bukan anak berbakti!” Ding Zu-ji menekankan dengan nada menyalahkan diri sendiri, “Saya tidak merawat ibu dengan baik, sehingga ibu terjatuh dan patah tulang kaki kiri, bahkan keinginan ibu untuk pulang ke Tiongkok juga tidak mampu direalisasikan, sehingga tidak pantas untuk dikatakan sebagai anak berbakti.” Awalnya dia ingin menunggu kondisi tubuh ibunya membaik sedikit, baru akan membawanya pulang ke Tiongkok mengunjungi sanak keluarga di sana, Ding Zu-ji mengatakan dengan sedikit sedih: “Sayangnya ibu tidak bisa menunggu sampai saya bebas bepergian ke Tiongkok sudah pun kehilangan ingatan”; Ding Zu-ji harus menunggu selama tiga tahun sesudah pensiun sebagai penyelidik baru boleh pergi ke Tiongkok, dalam selang waktu tersebut ternyata semua ingatan ibunya sudah hilang, ini membawa penyesalan dalam diri Ding Zu-ji.

Ding Zu-ji mengatakan, pada tanggal 2 Maret 2012 bisa menggendong ibunya dengan sehelai kain kembang pergi ke rumah sakit terutama karena ibunya mengalami patah tulang dan tidak leluasa bergerak, karena ingin segera menghantarkan ibunya ke rumah sakit dan dalam hati juga berpikir menggendong sebentar tidak akan terlalu capek, barulah berbuat demikian, tidak pernah menduga kalau tindakannya ini akan menarik perhatian banyak orang; akan tetapi, dia menyatakan kalau di kemudian hari dia akan mempergunakan ambulans untuk menghantarkan ibunya dan meminjam ranjang dorong pada rumah sakit.

Jika Anda tersentuh dengan cerita di atas, tolong “share” cerita ini ke teman-teman yang lain agar mereka juga dapat memetik hikmah yang ada pada cerita di atas. Semoga dapat bermanfaat bagi kehidupan kita, terimakasih.

Ul 5:16 – “Hormatilah ayahmu dan ibumu, seperti yang diperintahkan kepadamu oleh TUHAN, Allahmu, supaya lanjut umurmu dan baik keadaanmu di tanah yang diberikan TUHAN, Allahmu, kepadamu”.

Jadikan aku seperti yang Engkau inginkan

26 Feb
Sebatang bambu yang indah tumbuh di halaman rumah seorang petani. Batang bambu ini tumbuh tinggi menjulang di antara batang-batang bambu lainnya. Suatu hari datanglah sang petani yang empunya pohon bambu itu.

Dia berkata kepada batang bambu,” Wahai bambu, maukah engkau ku pakai untuk menjadi piap saluran air, yang sangat berguna untuk mengairi sawahku?”

Batang bambu menjawabnya, “Oh tentu aku mau bila dapat berguna bagi engkau, Tuan. Tapi ceritakan apa yang akan kau lakukan untuk membuatku menjadi pipa saluran air itu.”

Sang petani menjawab, “Pertama, aku akan menebangmu untuk memisahkan engkau dari rumpunmu yang indah itu. Lalu aku akan membuang cabang-cabangmu yang dapat melukai orang yang memegangmu. Setelah itu aku akan membelah-belah engkau sesuai dengan keperluanku. Terakhir aku akan membuang sekat-sekat yang ada di dalam batangmu, supaya air dapat mengalir dengan lancar. Apabila aku sudah selesai dengan pekerjaanku, engkau akan menjadi pipa yang akan mengalirkan air untuk mengairi sawahku sehingga padi yang kutanam dapat tumbuh dengan subur.”

Mendengar hal ini, batang bambu lama terdiam….. , kemudian dia berkata kepada petani, “Tuan, tentu aku akan merasa sangat sakit ketika engkau menebangku. Juga pasti akan sakit ketika engkau membuang cabang-cabangku, bahkan lebih sakit lagi ketika engkau membelah-belah batangku yang indah ini, dan pasti tak tertahankan ketika engkau mengorek-ngorek bagian dalam tubuhku untuk membuang sekat-sekat penghalang itu. Apakah aku akan kuat melalui semua proses itu, Tuan?”

Petani menjawab batang bambu itu, ” Wahai bambu, engkau pasti kuat melalui semua itu, karena aku memilihmu justru karena engkau yang paling kuat dari semua batang pada rumpun ini. Jadi tenanglah.”

Akhirnya batang bambu itu menyerah, “Baiklah, Tuan. Aku ingin sekali berguna bagimu. Ini aku, tebanglah aku, perbuatlah sesuai dengan yang kau kehendaki.”

Setelah petani selesai dengan pekerjaannya, batang bambu indah yang dulu hanya menjadi penghias halaman rumah petani, kini telah berubah menjadi pipa saluran air yang mengairi sawahnya sehingga padi dapat tumbuh dengan subur dan berbuah banyak.

Pernahkah kita berfikir bahwa dengan masalah yang datang silih berganti tak ada kesudahannya, mungkin Tuhan sedang memproses kita untuk menjadi indah di hadapan-NYA? Sama seperti batang bambu itu, kita sedang ditempa, Tuhan sedang membuat kita sempurna untuk di pakai menjadi saluran berkat.

DIA sedang membuang kesombongan dan segala sifat kita yang tak berkenan bagi-NYA. Tapi jangan khawatir, kita pasti kuat karena Tuhan tak akan memberikan beban yang tak mampu kita pikul. Jadi maukah kita berserah pada kehendak Tuhan, membiarkan DIA bebas berkarya di dalam diri kita untuk menjadikan kita alat yang berguna bagi-NYA?

Seperti batang bambu itu, mari kita berkata, ” Inilah aku, ya Tuhan, perbuatlah sesuai dengan yang KAU kehendaki.”

Lukas 22:42 “Ya Bapa-Ku, jikalau Engkau mau, ambillah cawan ini dari pada-Ku; tetapi bukanlah kehendak-Ku, melainkan kehendak-Mulah yang terjadi.

Perempuan dan keranjang roti

25 Feb

Dua hari lalu, saya menjadi saksi mata perang mulut antara seorang perempuan dengan sopir taksi yang saya tumpangi. Kami hendak ke kota, dan tentu semua orang memang hendak bergegas ke kota membeli apa-apa yang perlu untuk pesta natal.

Kemacetan menggoda banyak sopir saling mendahului sampai-sampai menjadikan trotoar jalan baru, tak terkecuali taksi kami ini. Seorang ibu bersetelan hitam-hitam dengan keranjang di tangan melangkah di bawah terik matahari, sementara taksi kami merengsek maju di trotoar yang sama. Merasa seperti dihalang-halangi, sang supir mengumpat dan mencaci maki ibu yang tak berdosa ini. Jadilah perang mulut. Saya merasa makin tak nyaman ketika supir di samping saya itu mengeluarkan kata-kata kotor dan merendahkan sang ibu.

Perempuan dengan keranjang roti itu mengingatkan saya pada Naomi, yang meninggalkan Bethlehem karena bencana kelaparan menuju negeri asing, Moab. Kedua anaknya menikahi dua perempuan Moab, di antaranya Ruth. Ketika kelaparan usai, Naomi ingin kembali ke Bethlehem. Hanya Ruth yang memutuskan pergi menemani mertuanya. Yang seorang lagi memilih tinggal.

Sebab, semenjak kedua anaknya meninggal, Naomi minta pada kedua menantunya untuk tetap tinggal dan menikah lagi. Ruth ingin bekerja menafkahi Naomi. Mereka kembali ke Bethlehem dan keduanya bekerja sebagai buruh panen di ladang gandum Boaz. Anda saya biarkan terus membaca kisah yang mengagumkan ini; bukan hanya tentang cinta antara Ruth dan Boaz; tapi tentang agungnya cinta itu sendiri, sebagai penerimaan dan penyambutan tanpa syarat; ketika orang asing menjadi saudara; ketika perempuan dilihat sebagai ibu dan saudari; bukan untuk dicaci atau dieksploitasi.

Bethlehem dalam bahasa Ibrani berarti Rumah Roti. Peremuan dengan keranjang dan juga kisah Ruth adalah tragedi; ketika kita melihat masih banyak orang yang kelaparan di negeri sendiri; menjadi asing di negeri kelahirannya, seperti sang bayi Natal yang ditolak di kotanya. Natal tak bisa dipisahkan dari Ekaristi. Natal bagi saya adalah pesta roti dan rumah untuk semua.

Tuhan tidak hanya menjadi manusia, tapi ia menjadi roti ekaristi yang kita sambut setiap hari; menjadi yang paling lapar dan paling lemah yang mesti kita cintai setiap hari. Ibu dengan keranjang tadi, akhirnya mengalah dan melangkah pergi. Di tengah hiruk pikuk orang, hanya satu kata yang terdengar jelas di telinga: Natal. Saya pikir, karena Natal lah sang ibu mengalah dan mengampuni supir yang bagi saya tak seharusnya diampuni itu. Tuhan, biarlah kuisi keranjang hidupku dengan kelahiranmu, dengan hidupmu, dengan cinta ekaristi, ketika hatiku menjadi roti dan rumah bagi semua.

Sukacita Penuaian

25 Feb
Bastian MP
Do=G

G Bm C D
KETIKA TUHAN MEMULIHKAN KEADAAN SION
Em D C D
KEADAAN KITA SEPERTI ORANG YANG BERMIMPI
G Bm C D
WAKTU ITU MULUT KITA PENUH DENGAN TAWA
Em D C D
LIDAH KITA DENGAN SORAK-SORAI

REFF:
G D Am D
YANG MENABUR DENGAN MENCUCURKAN AIR MATA
C A/C# D
AKAN MENUAI DENGAN BERSORAK-SORAI
G D Am D
YANG BERJALAN MENANGIS SAMBIL MENABUR BENIH
C D G
PASTI PULANG MEMBAWA BERKAS-BERKASNYA

————————————————————————–

Lakukan 4 tahap Mendengar Suara Tuhan Dengan Nats dibawah ini dan tuliskanlah apa yang anda dapat dari Tuhan ?
1. Baca Berulang ulang minimal lebih dari 2x.
2. Pilih frase kata yang seakan akan melompat keluar dari firman itu dan memberi kesan yang mendalam lalu jelaskanlah mulai dari frase kata itu.
3. Berdoa mintalah Tuhan berbicara pada Anda melalui ayat di bawah.
4. Jadikanlah Firman itu rhema dan gantilah kata Yeremia dgn nama kita dan buatlah seolah olah kita membuat percakapan 2 arah dengan Tuhan. Ingat setiap yang ada dapat dari Tuhan di catat 🙂 Selamat saat teduh.

————————————————————————

Jer 30:1 Firman yang datang dari TUHAN kepada Yeremia, bunyinya:

Jer 30:2 “Beginilah firman TUHAN, Allah Israel: Tuliskanlah segala perkataan yang telah Kufirmankan kepadamu itu dalam suatu kitab.

Jer 30:3 Sebab, sesungguhnya, waktunya akan datang, demikianlah firman TUHAN, bahwa Aku akan memulihkan keadaan umat-Ku Israel dan Yehuda–firman TUHAN–dan Aku akan mengembalikan mereka ke negeri yang telah Kuberikan kepada nenek moyang mereka, dan mereka akan memilikinya.”

Jer 30:4 Inilah perkataan-perkataan yang telah difirmankan TUHAN tentang Israel dan tentang Yehuda:

Jer 30:5 “Sungguh, beginilah firman TUHAN: Telah kami dengar jerit kegentaran, kedahsyatan dan tidak ada damai.

Jer 30:6 Cobalah tanyakan dan selidiki, adakah laki-laki melahirkan? Mengapakah setiap laki-laki Kulihat tangannya pada pinggangnya seperti seorang perempuan yang melahirkan? Mengapakah setiap muka berubah menjadi pucat?

Jer 30:7 Hai, alangkah hebatnya hari itu, tidak ada taranya; itulah waktu kesusahan bagi Yakub, tetapi ia akan diselamatkan dari padanya.

Jer 30:8 Maka pada hari itu, demikianlah firman TUHAN semesta alam, Aku akan mematahkan kuk dari tengkuk mereka dan memutuskan tali-tali pengikat mereka, dan mereka tidak akan mengabdi lagi kepada orang-orang asing.

Jer 30:9 Mereka akan mengabdi kepada TUHAN, Allah mereka, dan kepada Daud, raja mereka, yang akan Kubangkitkan bagi mereka.

Jer 30:10 Maka engkau, janganlah takut, hai hamba-Ku Yakub, demikianlah firman TUHAN, janganlah gentar, hai Israel! Sebab sesungguhnya, Aku menyelamatkan engkau dari tempat jauh dan keturunanmu dari negeri pembuangan mereka. Yakub akan kembali dan hidup tenang dan aman, dengan tidak ada yang mengejutkan.

Jer 30:11 Sebab Aku menyertai engkau, demikianlah firman TUHAN, untuk menyelamatkan engkau: segala bangsa yang ke antaranya engkau Kuserahkan akan Kuhabiskan, tetapi engkau ini tidak akan Kuhabiskan. Aku akan menghajar engkau menurut hukum, tetapi Aku sama sekali tidak memandang engkau tak bersalah.

Jer 30:12 Sungguh, beginilah firman TUHAN: Penyakitmu sangat payah, lukamu tidak tersembuhkan!

Jer 30:13 Tidak ada yang membela hakmu, tidak ada obat untuk bisul, kesembuhan tidak ada bagimu!

Jer 30:14 Semua kekasihmu melupakan engkau, mereka tidak menanyakan engkau lagi. Sungguh, Aku telah memukul engkau dengan pukulan musuh, dengan hajaran yang bengis, karena kesalahanmu banyak, dosamu berjumlah besar.

Jer 30:15 Mengapakah engkau berteriak karena penyakitmu, karena kepedihanmu sangat payah? Karena kesalahanmu banyak, dosamu berjumlah besar, maka Aku telah melakukan semuanya ini kepadamu.

Jer 30:16 Tetapi semua orang yang menelan engkau akan tertelan, dan semua lawanmu akan masuk ke dalam tawanan; orang-orang yang merampok engkau akan menjadi rampokan, dan semua orang yang menjarah engkau akan Kubuat menjadi jarahan.

Jer 30:17 Sebab Aku akan mendatangkan kesembuhan bagimu, Aku akan mengobati luka-lukamu, demikianlah firman TUHAN, sebab mereka telah menyebutkan engkau: orang buangan, yakni sisa yang tiada seorangpun menanyakannya.

Jer 30:18 Beginilah firman TUHAN: Sesungguhnya, Aku akan memulihkan keadaan kemah-kemah Yakub, dan akan mengasihani tempat-tempat tinggalnya, kota itu akan dibangun kembali di atas reruntuhannya, dan puri itu akan berdiri di tempatnya yang asli.

Jer 30:19 Nyanyian syukur akan terdengar dari antara mereka, juga suara orang yang bersukaria. Aku akan membuat mereka banyak dan mereka tidak akan berkurang lagi; Aku akan membuat mereka dipermuliakan dan mereka tidak akan dihina lagi.

Jer 30:20 Anak-anak mereka akan menjadi seperti dahulu kala, dan perkumpulan mereka akan tinggal tetap di hadapan-Ku; Aku akan menghukum semua orang yang menindas mereka.

Jer 30:21 Orang yang memerintah atas mereka akan tampil dari antara mereka sendiri, dan orang yang berkuasa atas mereka akan bangkit dari tengah-tengah mereka; Aku akan membuat dia maju dan mendekat kepada-Ku, sebab siapakah yang berani mempertaruhkan nyawanya untuk mendekat kepada-Ku? demikianlah firman TUHAN.

Jer 30:22 Maka kamu akan menjadi umat-Ku, dan Aku akan menjadi Allahmu.”

Jer 30:23 Lihatlah, angin badai TUHAN, yakni kehangatan murka, telah keluar menyambar, –angin puting beliung–dan turun menimpa kepala orang-orang fasik.

Jer 30:24 Murka TUHAN yang menyala-nyala itu tidak akan surut sampai Ia telah melaksanakan dan mewujudkan apa yang dirancang-Nya dalam hati-Nya; pada hari-hari yang terakhir kamu akan mengerti hal itu.

Renungan Sejuta Kerinduan, I Miss You Lord

24 Feb

Lama sudah aku termenung,hingga tak kusadari berapa kali jantung berdetak.Tak jua kusadari berapa banyak udara yang ku hisap ketika aku bernafas.Aku berada pada satu titik yang tak ber-ruang,tanpa kesadaran yang seharusnya.Dan pada saat itulah betapa ratapan itu kian terdengar jelas dibalik kesunyian malam yang menenggelamkan manusia dalam setiap mimpi mereka.

Tiba-tiba Lamunanku terbuyarkan. Angin menghempas dedaun hijau dibelakang rumah yang kutinggali.Pintu terbanting menghadirkan kegaduhan. Sekali lagi aku terkagetkan dengan kenyataan yang sedang aku alami. Betapa resah jiwa kecil ini. Betapa gelisah hati ini mengingat keberadaanku yang kini tak lagi bisa merasakan getar,detak dan desah nafas-Nya.Ya,kini kita terpaksa harus berada pada satu kenyataan yang mengharukan.

Seketika terbayang senyumanMu juru selamatku, yang menerimaku apa adanya… walau dunia melihat rupa hanya Engkau yang menerima setiap kekuranganku…

Kuingat lagi apa yang tlah kita lalui bersama. Kuingat kembali semua kenyataan yang membawa kita menikmati indah dunia dan rasa yang telah tercipta.

Aku mulai menggerakkan bibirku sedikit melebar.Tersenyum mengingat keindahan yang tlah kita ciptakan.Tlah kita sama-sama rasakan kala kita masih bersama,seminggu yang lalu.Sebulan yang lalu, bertahun yang lalu..

Namun malam tetap tak berubah.Malam tetap dingin,menghempas semangatku.Malam tetap sepi.Malam tetap menyiksa dengan memaksaku sendiri tanpa Kau hadir menemani.
Hanya dosa yang memisahkan kita….
Hanya pengakuan dosa dan pengampunanMu yang membawaku kembali mendekat kepadaMu….

Saat Jauh dariMu hidupku tiada artinya…
Oh Lord.. hanya Engkaulah segenap kerinduanku…
Aku ingin selalu ada di hadiratMu….
Menikmati kasihMu yang s’lalu baru setiap hari….

Rindu selalu untukMu!