Renungan Hati Terdalam ~ Melihat Pelangi di Tengah Badai

28 Jan

Di dalam suatu hubungan persahabatan, rumah tangga ataupun hubungan kita dengan sesama.. seringkali kita lebih suka melihat kejelekan atau kekurangan dari sesama kita. Respon kita seringkali tanpa kita sadari adalah menghakiminya dengan cara membicarakan kejelekannya, kekurangannya ataupun kesalahanya…..

Sobat kita adalah manusia yang tidak sempurna yang tidak pernah lepas dari kesalahan….

Kita hanya memperkeruh suasana dan memperburuk hubungan dengan membicarakan kekurangan, kelemahan dan kesalahan saudara kita… Sadarilah bahwa “Tidak seorangpun yang suka di bicarakan kesalahan, kekurangan dan kejelekannya… jadi berhentilah menghakimi sesamamu…”

Luk 6:41  Mengapakah engkau melihat selumbar di dalam mata saudaramu, sedangkan balok di dalam matamu sendiri tidak engkau ketahui ?

Pada tanggal 7 Mei, 1931, perburuan penjahat paling sensasional di kota New York yang pernah dineal akhirnya sampai pada klimaksnya. Setelah berminggu-minggu pencarian, Francis Crowley si “Dua Senjata” – Sang pembunuh, perampok bersenjata yang tidak merokok dan tidak minum minuman keras – berada dalam posisi bertahan, terjebak dalam apartemen kekasihnya di West End Avenue.

Crowley

Seratus limapuluh polisi dan detektif mengepung tempat persembunyiannya. Mereka membuat lubang-lubang di atap; mereka berusaha memancing keluar Crowley, si “Pembunuh Polisi,” dengan gas air mata. Kemudian meeka menyiapkan senapan mesin di gedung-gedung sekitarnya, dan selama lebih dari satu jam area pemukiman New York dipenuhi suara letusan senjata. Crowley merangkak di belakang kursi, membalas tembakan polisi tanpa henti. Sepulih ribu orang tercekam menyaksikan pertempuran ini. Belum pernah kejadian seperti ini terjadi di pinggir jalan New York.

Ketika Crowley tertangkap, Komisaris Polisi E.P. Mulrooney menyatakan bahwa si Bandit Dua Senjata merupakan salah satu dari criminal paling berbahaya yang pernah tercatat dalam sejarah New York, “Dia akan membunuh,” ujar sang Komisioner, “hanya karena jatuhnya sehelai bulu.”

Tapi bagaimana Crowley si “Dua Senjata” memandang dirinya sendiri ? Kita tahu, karena tatkala polisi memberondong apartemennya, dia menulis sepucuk surat yang ditunjukkan “Untuk mereka yang berkepentingan.” Dan ketika Dia menulis, darah mengalir dari lukanya meninggalkan jejak merah di kertas. Dalam surat ini, Crowley berkata : “Di balik pakaian saya ada sebuah hati yang letih, tapi sebuah hati yang baik – yang tidak tega melukai siapa pun.”

Beberapa saat sebelum hal ini terjadi, Crowley baru saja mengadakan pesta kencan dengan pacarnya di pinggir jalan Long Island. Tiba – tiba seorang polisi muncul menghampiri mobil dan meminta: “Coba saya lihat surat mengemudi Anda.”

Tanpa berkata sepatah pun, Crowley menarik picu senjatanya dan menembak polisi itu hingga mandi darah. Tatkala polisi yang menjadi korban itu jatuh, Crowley melompat keluar mobil, merampas senjatanya, dan menembakkan sebutir peluru lagi ke tubuh tak berdaya itu. Dan itulah si pembunuh yang berkata : “Dibalik pakaian saya ada hati yang letih, tapi sebuah hati yang  baik – hati yang tidak tega menyakiti siapapun.”

Crowley di hukum mati di kursi listrik. Begitu dia tiba di penjara Sing Sing, apakah dia berkata, “Ini yang saya peroleh karena membunuh orang-orang ?” Tidak, dia berkata : “Ini yang saya peroleh karena membela diri.”

Hal penting dari kisah ini adalah “Crowley si Dua Senjata tidak menyalahkan dirinya sendiri” dan ia tidak suka dihakimi….

crowley1

Sobat, berapa banyak di antara kita yang di dalam rumah tangga ataupun di dalam hubungan dengan sama, kita lebih suka melihat kekurangan orang lain dan membicarakan kekurangan orang lain atw bahasa kerennya gossip di gosok gosok biar sip… ternyata bukannya sip tapi kita merampas bagiannya Tuhan dan menjadi Tuhan dengan menghakimi sesama kita dengan perkataan.

Sobat ketika anda memperlihatkan kelemahan, kekurangan ataupun kejelekan orang maka respon orang itu sama seperti respon Crowley yang cenderung membela diri dengan keras, semakin anda menyerang semakin orang itu dengan keras membela dirinya sendiri. Sobat anda tidak akan mendapatkan madu bila anda menendang sarang lebahnya. Mulailah melihat pelangi di tengah badai pada diri sesamamu. Sejelek apapun orang pasti masih ada sisi positip dari orang itu, bukankah kita lebih baik berfokus untuk melihat sisi positip orang itu daripada berfokus hanya melihat kekurangannya terus menerus…

Sadarilah satu kebenaran dalam hubungan sesama ini :

Setiap orang ingin diterima…

Setiap orang ingin berprestasi…

Setiap orang ingin dikenal…

Setiap orang ingin dianggap berarti dan berharga…

Setiap orang tidak suka di perlihatkan kesalahannya secara langsung….

Setiap orang tidak suka dihakimi….

Dan sadarilah….

              Setiap orang suka dipuji, diterima dan di hargai…..

 

Sobat bagian untuk menghakimi bukanlah bagian kita tetapi bagian Tuhan, bahkan Tuhan Yesus sendiripun tidak menghakimi wanita yang ketahuan berzinah yang seharusnya harus dihukum dengan dilempari batu sampai mati… Yesus hanya menulis ditanah dan berkata yang tidak berdosa boleh melempari wanita itu dengan batu… dan ketika semua orang pergi… Yesus berkata “Yesus tidak menghakimi wanita itu tetapi janganlah berbuat dosa lagi…”

Bukankah itu suatu contoh yang indah…. Dimana Yesus menerima kita apa adanya, betapapun besar kesalahan dan dosa kita… Yesus tidak pernah berfokus melihat  kesalahan dan dosa tetapi Yesus selalu melihat pelangi di tengah badai pada diri sesama… Sobat… hentikanlah menghakimi sesama dengan membicarakan kekurangan dan keburukan sesama kita… marilah kita saling mengasihi dengan membicarakan hal hal yang baik di dalam diri sesama kita seperti melihat pelangi ditengah badai…

Sobat, betapapun besarnya kesalahanmu dan dosamu… Yesus tidak pernah mengungkit dan mengingatnya, ketika Ia mengampuni dosamu…. Ia mengampuni dan melupakan sepenuhnya… Yesus menerimamu apa adanya termasuk semua keburukan keburukanmu dan Ia sanggup merubahnya menjadi pelangi di tengah badai….

Kolose 3:14

TB (1974) ©
SABDAweb Kol 3:14
Dan di atas semuanya itu: kenakanlah kasih, z  sebagai pengikat yang mempersatukan a  dan menyempurnakan.

——————————————————————————————————————————————————————

Merasa Diberkati oleh renungan ini, bantulah pelayanan Kasih SetiaNya dengan berbelanja di http://www.facebook.com/butik.ella/

Terima kasih Tuhan Yesus memberkati.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: