Arsip | Januari, 2013

Hidup Untuk Memberi

31 Jan

Di suatu sore hari pada saat aku pulang kantor dengan mengendarai sepeda motor, aku disuguhkan suatu drama kecil yang sangat menarik, seorang anak kecil berumur lebih kurang sepuluh tahun dengan sangat sigapnya menyalip di sela-sela kepadatan kendaraan di sebuah lampu merah perempatan jalan di Jakarta.

Dengan membawa bungkusan yang cukup banyak diayunkannya sepeda berwarna biru muda, sambil membagikan bungkusan tersebut, ia menyapa akrab setiap orang, dari Tukang Koran, Penyapu jalan, Tuna Wisma, sampai Pak Polisi.

Pemandangan itu membuatku tertarik, pikiranku langsung melayang membayangkan apa yang diberikan si anak kecil tersebut dengan bungkusannya, apakah dia berjualan? Kalau dia berjualan apa mungkin seorang tuna wisma menjadi langganan tetapnya atau…??

untuk membunuh rasa penasaranku, aku pun membuntuti si anak kecil tersebut sampai di seberang jalan, setelah itu aku langsung menyapa anak tersebut untuk aku ajak berbincang-bincang. De, boleh kakak bertanya? Silakan Kak. Kalau boleh tahu yang barusan adik bagikan ke tukang Koran, tukang sapu, peminta-minta bahkan Pak Polisi, itu apa..? Oh…itu bungkusan nasi dan sedikit lauk Kak, memang kenapa Kak!, dengan sedikit heran, sambil ia balik bertanya. Oh…tidak!, Kakak cuma tertarik cara kamu membagikan bungkusan itu, kelihatan kamu sudah lama kenal dengan mereka?

Lalu, adik kecil itu mulai bercerita, Dulu! Aku dan ibuku sama seperti mereka hanya seorang tuna wisma, setiap hari bekerja hanya mengharapkan belaskasihan banyak orang, dan seperti Kakak ketahui hidup di Jakarta begitu sulit, sampai kami sering tidak makan, waktu siang hari kami kepanasan dan waktu malam hari kami kedinginan ditambah lagi pada musim hujan kami sering kehujanan, apabila kami mengingat waktu dulu, kami sangat-sangat sedih, namun setelah ibuku membuka warung nasi, kehidupan keluarga kami mulai membaik.

image

Maka dari itu, Ibu selalu mengingatkanku, bahwa masih banyak orang yang susah seperti kita dulu, jadi kalau saat ini kita diberi rejeki yang cukup, kenapa kita tidak dapat berbagi kepada mereka.

Yang ibuku slalu katakan ”hidup harus berarti buat banyak orang“, karena pada saat kita kembali kepada Sang Pencipta tidak ada yang kita bawa, hanya satu yang kita bawa yaitu kasih kepada sesama serta amal dan perbuatan baik kita, kalau hari ini kita bisa mengamalkan sesuatu yang baik buat banyak orang, kenapa kita harus tunda.

Karena menurut ibuku umur manusia terlalu singkat, hari ini kita memiliki segalanya, namun satu jam kemudian atau besok kita dipanggil Sang Pencipta, ”Apa yang kita bawa?”. Kata-kata adik kecil ini sangat menusuk hati, saat itu juga aku merasa lebih bodoh dari anak kecil ini, aku malu dan sangat malu.

Yah…Tuhan, Ampuni aku, ternyata kekayaan, kehebatan dan jabatan tidak mengantarku kepadaMu. Hanya kasih yang sempurna serta iman dan pengaharapan kepada-Mulah yang dapat mengiringku masuk ke surga. “Terimah kasih adik kecil, kamu adalah malaikatku yang menyadarkan aku dari tidur nyenyakku ..

Kasih itu sabar, kasih itu murah hati, ia tidak cemburu, ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong, ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri, ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain, ia tidak bersuka cita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran ia menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu. kasih tidak berkesudahan. (1 Kor.13 : 4-8a)

image

Lakukanlah perkara-perkara kecil, dengan membagikan cerita ini kepada semua orang, Semoga hasil yang didapat dari hal yang kecil ini berdampak besar buat banyak orang.

Hidup Tanpa Penyesalan

30 Jan

Jangan anggap enteng didikan Tuhan, dan jangan putus asa apabila engkau diperingatkan-Nya. Ibrani 12:5


image

Seorang  wanita tanpa sengaja menjual perhiasan keluarga yang sangat berharga hanya seharga 10 sen. Itu terjadi setelah ia mengambil perhiasan tersebut dari kotak penyimpanan di bank untuk dipakai si sebuah pesta pernikahan. Sepulang dari pesta, bank sudah tutup, lalu ia menaruh perhiasan tersebut dalam sebuah kotak alat cuku kuno dan melupakannya.

Suatu hari ia memberikan kotak alat cukur tersebut kepada seorang teman yang sedang mengumpulkan  barang – barang yang tak terpakai untuk dijual di pasar murah. Ketika wanita itu menyadari apa yang telah dilakukannya, permatanya yang sangat berharga telah dijual kepada seorang pembeli tidak dikenal dengan harga yang sangat murah.

Kepedihan wanita di atas serupa dengan kepadihan Esau. Ia juga merasakan seperti apa ketika tiba-tiba menyadari bahwa miliknya yang sangat berharga telah hilang (Kej 25:29-34). Keputusannya yang keliru dan penderitaan yang kemudian dialaminya  dapat menjadinpelajaran yang berharga baginorang Kristen. Ibrani 12 mengajarkan bahwa jika kita mengalami kepahitan ketika menerimakoreksi karena dosa kita,  kita akan kehilangan manfaat didikan Allah (ayat 5). Dan kehilangan semacam itu lebih merugikan dibandingkan kehilangan permata yang mahal.

Bagaimana kita dapat menghindari kehilangan yang tidak diharapkan ? Ketika kita berdosa, kita harus mau belajar dari koreksi Allah (ay. 11), menunjukkan semangat (ay. 12-13), dan memperbarui hidup rohani kita (ay. 14). Jika kita menanggapi hukuman Bapa yang mendidik, kita dapat menikmati kehidupan tanpa penyesalan. -MRD II

Jika engkau memberontak dan berpaling
Darinapa yang kau tahu sebagain kebenaran
Berserahlah kepada Allah, Dia akan mengampuni –
Dia masih mempunyai tugas bagimu. -Sper

Anda tak dapat melepaskan dosa Anda, jika Anda belum membereskannya.

Memurnikan Perak

29 Jan

Maleakhi 3:3 Ia akan duduk seperti orang yang memurnikan dan mentahirkan perak, dan Ia mentahirkan orang Lewi, menyucikan mereka seperti emas dan seperti perak.    

Shalom Sobat Kasih SetiaNya ……………………..

Story: Mengapa Tuhan mengumpamakan dirinya sebagai tukang pemurni perak?   Sekelompok wanita berkumpul untuk belajar Alkitab. Beberapa dari mereka sukar memahami ayat di atas. Untuk memahaminya, akhirnya mereka memutuskan untuk mengunjungi seorang ahli perak dan memintanya memperagakan cara memurnikan perak.  

image

Mereka menyaksikan sang pengrajin perak memanaskan perak di atas api, pengrajin itu menjelaskan bahwa ketika hendak memurnikan perak ia harus menjaga agar perak tetap berada di tengah-tengah perapian pada suhu yang paling panas. Dengan demikian, perak dapat dimurnikan dari debu, batu, dan kotoran yang melekat.   Para wanita inipun membayangkan bagaimana Allah menjaga mereka pada titik api yang terpanas.  

Salah satu dari mereka pun bertanya kepada si pengrajin, apakah ia juga harus duduk di depan api sepanjang waktu hingga perak menjadi murni? “Ya, tidak hanya duduk menjaga, tapi saya juga harus memerhatikan kondisi perak itu saat di atas api. Jika ia terlambat diangkat sedikit saja, bisa-bisa peraknya rusak.” Wanita itu kembali bertanya, “Bagaimana Anda tahu jika perak ini sudah benar-benar murni?”. Pengrajin itu menjawab, “Mudah. Perak yang telah dimurnikan dapat diketahui ketika saya dapat melihat pantulan wajah saya dalam perak itu”.

image

Sobat Kasih SetiaNya… Itulah mengapa Yakobus 1:3-4 juga mengatakan ujian iman kita akan menghasilkan kesempurnaan. Jangan khawatir ketika kita sedang “dipanaskan’ oleh api masalah dan ujian karena Dia tidak akan memberikan pencobaan melebihi batas kekuatan kita. Ingatlah bahwa saat kita sedang dipanaskan oleh masalah dan persoalan-persoalan yang rasanya tiada henti-hentinya, Ia (Tuhan Yesus) juga tidak pernah sekalipun memalingkan wajah-Nya dari kita. Justru saat itulah, Ia (Yesus) sangat memerhatikan keadaan kita dan tidak akan membiarkan kita diuji melebihi kapasitas (kemampuan) diri kita.  

Dan yang terpenting, Ia (Yesus) menanti saat hidup kita dapat memancarkan bayangan-Nya. Ya, ingatlah untuk selalu melihat masalah dan tantangan hidup sebagai cara agar kita bisa semakin mencerminkin gambaran Allah. Ketika kita lebih bersabar, ketika kita bisa mengampuni dan mengasihi mereka yang menyakiti kita, ketika kita bisa tetap mengutamakan Allah dari pada kepentingan diri kita sendiri, ketika kita bisa menunjukkan apa itu berkorban, maka bukankah hidup kita akan menjadi kesaksian dan terang bagi orang-orang di sekitar  

image

Sobat Kasih SetiaNya… Kita semua adalah pilihan Tuhan, amin. Saat ini,  kita semua sedang dipanaskan (punya pergumulan) dan Tuhan juga tidak mau kehilangan orang-orang yang dikasihinya, oleh karena itu mata Tuhan tidak berpaling kemana-mana saat kita sedang dimurnikan. Satu hal mari ibu-ibu, jangan sampai iman kita menjadi goyah, tetap taat. Terus semangat, melakukan yang terbaik.   Saat kita sedang dalam ujian, Ia tidak pernah memalingkan wajah-Nya dari kita.

Renungan Hati Terdalam ~ Melihat Pelangi di Tengah Badai

28 Jan

Di dalam suatu hubungan persahabatan, rumah tangga ataupun hubungan kita dengan sesama.. seringkali kita lebih suka melihat kejelekan atau kekurangan dari sesama kita. Respon kita seringkali tanpa kita sadari adalah menghakiminya dengan cara membicarakan kejelekannya, kekurangannya ataupun kesalahanya…..

Sobat kita adalah manusia yang tidak sempurna yang tidak pernah lepas dari kesalahan….

Kita hanya memperkeruh suasana dan memperburuk hubungan dengan membicarakan kekurangan, kelemahan dan kesalahan saudara kita… Sadarilah bahwa “Tidak seorangpun yang suka di bicarakan kesalahan, kekurangan dan kejelekannya… jadi berhentilah menghakimi sesamamu…”

Luk 6:41  Mengapakah engkau melihat selumbar di dalam mata saudaramu, sedangkan balok di dalam matamu sendiri tidak engkau ketahui ?

Pada tanggal 7 Mei, 1931, perburuan penjahat paling sensasional di kota New York yang pernah dineal akhirnya sampai pada klimaksnya. Setelah berminggu-minggu pencarian, Francis Crowley si “Dua Senjata” – Sang pembunuh, perampok bersenjata yang tidak merokok dan tidak minum minuman keras – berada dalam posisi bertahan, terjebak dalam apartemen kekasihnya di West End Avenue.

Crowley

Seratus limapuluh polisi dan detektif mengepung tempat persembunyiannya. Mereka membuat lubang-lubang di atap; mereka berusaha memancing keluar Crowley, si “Pembunuh Polisi,” dengan gas air mata. Kemudian meeka menyiapkan senapan mesin di gedung-gedung sekitarnya, dan selama lebih dari satu jam area pemukiman New York dipenuhi suara letusan senjata. Crowley merangkak di belakang kursi, membalas tembakan polisi tanpa henti. Sepulih ribu orang tercekam menyaksikan pertempuran ini. Belum pernah kejadian seperti ini terjadi di pinggir jalan New York.

Ketika Crowley tertangkap, Komisaris Polisi E.P. Mulrooney menyatakan bahwa si Bandit Dua Senjata merupakan salah satu dari criminal paling berbahaya yang pernah tercatat dalam sejarah New York, “Dia akan membunuh,” ujar sang Komisioner, “hanya karena jatuhnya sehelai bulu.”

Tapi bagaimana Crowley si “Dua Senjata” memandang dirinya sendiri ? Kita tahu, karena tatkala polisi memberondong apartemennya, dia menulis sepucuk surat yang ditunjukkan “Untuk mereka yang berkepentingan.” Dan ketika Dia menulis, darah mengalir dari lukanya meninggalkan jejak merah di kertas. Dalam surat ini, Crowley berkata : “Di balik pakaian saya ada sebuah hati yang letih, tapi sebuah hati yang baik – yang tidak tega melukai siapa pun.”

Beberapa saat sebelum hal ini terjadi, Crowley baru saja mengadakan pesta kencan dengan pacarnya di pinggir jalan Long Island. Tiba – tiba seorang polisi muncul menghampiri mobil dan meminta: “Coba saya lihat surat mengemudi Anda.”

Tanpa berkata sepatah pun, Crowley menarik picu senjatanya dan menembak polisi itu hingga mandi darah. Tatkala polisi yang menjadi korban itu jatuh, Crowley melompat keluar mobil, merampas senjatanya, dan menembakkan sebutir peluru lagi ke tubuh tak berdaya itu. Dan itulah si pembunuh yang berkata : “Dibalik pakaian saya ada hati yang letih, tapi sebuah hati yang  baik – hati yang tidak tega menyakiti siapapun.”

Crowley di hukum mati di kursi listrik. Begitu dia tiba di penjara Sing Sing, apakah dia berkata, “Ini yang saya peroleh karena membunuh orang-orang ?” Tidak, dia berkata : “Ini yang saya peroleh karena membela diri.”

Hal penting dari kisah ini adalah “Crowley si Dua Senjata tidak menyalahkan dirinya sendiri” dan ia tidak suka dihakimi….

crowley1

Sobat, berapa banyak di antara kita yang di dalam rumah tangga ataupun di dalam hubungan dengan sama, kita lebih suka melihat kekurangan orang lain dan membicarakan kekurangan orang lain atw bahasa kerennya gossip di gosok gosok biar sip… ternyata bukannya sip tapi kita merampas bagiannya Tuhan dan menjadi Tuhan dengan menghakimi sesama kita dengan perkataan.

Sobat ketika anda memperlihatkan kelemahan, kekurangan ataupun kejelekan orang maka respon orang itu sama seperti respon Crowley yang cenderung membela diri dengan keras, semakin anda menyerang semakin orang itu dengan keras membela dirinya sendiri. Sobat anda tidak akan mendapatkan madu bila anda menendang sarang lebahnya. Mulailah melihat pelangi di tengah badai pada diri sesamamu. Sejelek apapun orang pasti masih ada sisi positip dari orang itu, bukankah kita lebih baik berfokus untuk melihat sisi positip orang itu daripada berfokus hanya melihat kekurangannya terus menerus…

Sadarilah satu kebenaran dalam hubungan sesama ini :

Setiap orang ingin diterima…

Setiap orang ingin berprestasi…

Setiap orang ingin dikenal…

Setiap orang ingin dianggap berarti dan berharga…

Setiap orang tidak suka di perlihatkan kesalahannya secara langsung….

Setiap orang tidak suka dihakimi….

Dan sadarilah….

              Setiap orang suka dipuji, diterima dan di hargai…..

 

Sobat bagian untuk menghakimi bukanlah bagian kita tetapi bagian Tuhan, bahkan Tuhan Yesus sendiripun tidak menghakimi wanita yang ketahuan berzinah yang seharusnya harus dihukum dengan dilempari batu sampai mati… Yesus hanya menulis ditanah dan berkata yang tidak berdosa boleh melempari wanita itu dengan batu… dan ketika semua orang pergi… Yesus berkata “Yesus tidak menghakimi wanita itu tetapi janganlah berbuat dosa lagi…”

Bukankah itu suatu contoh yang indah…. Dimana Yesus menerima kita apa adanya, betapapun besar kesalahan dan dosa kita… Yesus tidak pernah berfokus melihat  kesalahan dan dosa tetapi Yesus selalu melihat pelangi di tengah badai pada diri sesama… Sobat… hentikanlah menghakimi sesama dengan membicarakan kekurangan dan keburukan sesama kita… marilah kita saling mengasihi dengan membicarakan hal hal yang baik di dalam diri sesama kita seperti melihat pelangi ditengah badai…

Sobat, betapapun besarnya kesalahanmu dan dosamu… Yesus tidak pernah mengungkit dan mengingatnya, ketika Ia mengampuni dosamu…. Ia mengampuni dan melupakan sepenuhnya… Yesus menerimamu apa adanya termasuk semua keburukan keburukanmu dan Ia sanggup merubahnya menjadi pelangi di tengah badai….

Kolose 3:14

TB (1974) ©
SABDAweb Kol 3:14
Dan di atas semuanya itu: kenakanlah kasih, z  sebagai pengikat yang mempersatukan a  dan menyempurnakan.

——————————————————————————————————————————————————————

Merasa Diberkati oleh renungan ini, bantulah pelayanan Kasih SetiaNya dengan berbelanja di http://www.facebook.com/butik.ella/

Terima kasih Tuhan Yesus memberkati.

Tuhan berbicara

28 Jan

Seorang Manusia berbisik, “Tuhan, bicaralah padaku.” Dan burung kutilang pun bernyanyi. Tapi, manusia itu tidak mendengarkannya.   Maka, Manusia itu berteriak, “Tuhan, bicaralah padaku !” Dan guntur dan petir pun mengguruh. Tapi, Manusia itu tidak mendengarkannya.  

Manusia itu melihat sekelilingnya dan berkata, “Tuhan, biarkan aku melihat Engkau.” Dan bintang pun bersinar terang. Tapi, Manusia itu tidak melihatnya.   Dan, Manusia berteriak lagi, “Tuhan, tunjukkan aku keajaiban-Mu !” Dan seorang bayi pun lahirlah.

Tapi, manusia itu tidak menyadarinya.   Maka, ia berseru lagi dalam keputus-asaannya, “Jamahlah aku, Tuhan!” Dan segera, Tuhan pun turun dan menjamahnya. Tapi, manusia itu malah mengusir kupu-kupu tersebut dan terus berjalan.  

Betapa hal ini semua sebenarnya mengingatkan pada kita bahwa Tuhan selalu hadir di sekitar kita dalam bentuk sederhana dan kecil yang sering kita anggap lalu, bahkan dalam era elektronik ini …karenanya saya ingin menambahkan satu lagi:  

Manusia itu berseru, “Tuhan, aku membutuhkan pertolonganmu!” Dan datanglah e-mail dengan berita-berita baik dan menguatkan. Namun, ia justru menghapusnya dan terus berkeluh-kesah…. Berita baik itu adalah bahwa anda masih dicintai orang lain !  

Janganlah kita mencampakkan suatu anugerah, hanya karena anugerah itu tidak dikemas dalam bentuk yang diinginkan dan dimengerti oleh kita.

Ibrani 1:1-4 Setelah pada zaman dahulu Allah berulang kali dan dalam pelbagai cara berbicara kepada nenek moyang kita dengan perantaraan nabi-nabi, maka pada zaman akhir ini Ia telah berbicara kepada kita dengan perantaraan Anak-Nya, yang telah Ia tetapkan sebagai yang berhak menerima segala yang ada.

Oleh Dia Allah telah menjadikan alam semesta. Ia adalah cahaya kemuliaan Allah dan gambar wujud Allah dan menopang segala yang ada dengan firman-Nya yang penuh kekuasaan. Dan setelah Ia selesai mengadakan penyucian dosa, Ia duduk di sebelah kanan Yang Mahabesar, di tempat yang tinggi, jauh lebih tinggi dari pada malaikat-malaikat, sama seperti nama yang dikaruniakan kepada-Nya jauh lebih indah dari pada nama mereka.

Sejak dari zaman dulu Tuhan sudah berbicara kepada kita dengan berbagai cara hingga melalui perantaraan AnakNya Yesus… tapi kini Yesus sudah kembali ke sorga…. dan ia meninggalkan Roh Kudusnya dan FirmanNya untuk berbicara dgn kita, sudahkah kita meluangkan waktu untuk mendengarkan atuhan berbicara setiap hari…

Doa itu Kebutuhan

27 Jan

image

Suatu waktu di gereja, seorang pendeta bertanya kepada satu keluarga, “Apakah kalian melakukan doa bersama?”   “Maaf, Pak pendeta,” jawab kepala keluarga itu, “kami tidak punya waktu untuk itu.”   Pendeta itu berkata, “Seandainya kamu tahu salah seorang anakmu akan sakit, apakah kalian tidak berdoa bersama memohon kesembuhannya?”   “Oh, tentu kami akan berdoa,” jawab sang ayah.  

“Seandainya kamu tahu bahwa ketika kamu tidak berdoa bersama, salah satu anakmu akan terluka dalam kecelakaan, apakah kamu tidak akan berdoa bersama?”   “Kami pasti akan melakukannya.”  

“Seandainya untuk tiap hari kamu lupa berdoa, kamu akan dihukum lima ratus ribu, apakah kamu akan berdoa?”   “Tentu Pak, kami akan berdoa bersama. Tapi maaf, apa maksud pertanyaan-pertanyaan tadi?”  “Begini pak, saya pikir masalah keluarga anda bukan soal waktu.

image

Buktinya anda ternyata selalu punya waktu untuk berdoa. Masalahnya adalah, Anda tidak menganggap doa keluarga itu penting, sepenting membayar denda atau menjaga agar anak-anak tetap sehat.”   Doa seharusnya menjadi kunci pembuka di pagi hari dan gembok pelindung di malam hari. Doa memberi kekuatan kepada orang lemah, membuat orang tidak percaya menjadi percaya, dan memberi keberanian kepada orang yang takut. Jika kita berdoa saat kesulitan, doa itu akan meringankan kesulitan kita. Jika kita berdoa pada saat gembira, doa itu akan melipatgandakan kegembiraan kita.  

Bila akhir-akhir ini kita tidak atau jarang berdoa, sekaranglah waktunya untuk memulai kembali. Komunikasi langsung dengan Tuhan melalui doa dapat menciptakan keajaiban bagi diri kita sendiri dan bagi orang lain.   Satu hari yang dilipat dalam doa tidak akan mudah dikoyakkan.   Dalam segala doa dan permohonan.

Berdoalah setiap waktu di dalam roh.   ( Efesus 6:18a )

Memori Tentang Dosa Kita

26 Jan

 Tetapi sekarang, janganlah bersusah hati dan janganlah menyesali diri (Kej 45:5).

Memori tentang dosa-dosa kita dapat merampas sukacita keselamatan kita. Mungkin kita berkata, atau mendengar orang lain berkata. “Andai aku bisa mengampuni diriku sendiri untuk apa yang telah kulakukan!” Sejumlah orang menjadi terobsesi dengan rasa bersalah karena dosa-dosa masa lalu mereka.


Ketika Yusuf memperkenalkan diri  kepada kakak-kakaknya yang telah menjual dirinya sebagai budak, semua kakaknya terdiam dan “takut dan gemetar menghadapi dia.” (Kej 45:3). Rasa bersalah dan takut mengingatkan tentang ulah mereka yang menyebabkan penderitaan ayah mereka yang sudah tua yaitu Yakub, dan adik mereka, serta Yusuf sendiri. Merasakah hal itu, Yusuf dengan segera meyakinkan mereka: “Tetapi sekarang, janganlah bersusah hati dan janganlah menyesali diri, karena kamu menjual aku ke sini, sebab untuk memelihara kehidupanlah Allah menyuruh aku mendahului kamu” (ay. 5).

Ketika kita berdosa dan menyakiti orang lain, kita mungkin menemukan diri kita di posisi yang sama seperti kakak-kakak Yusuf. Namun, Jika kita mengaku dosa kita, kita dapat yakin bahwa kita telah diampuni. Meratapi kesalahan dan menyalahkan diri sendiri bukanlah karya Roh Kudus.

Alkitab memberitahu kita “supaya [kita] dibaharui di dalam roh dan pikiran [kita]” (Ef  4:23). Kita perlu memusatkan pikiran kita kepada Yesus, Juru selamat kita, dan bukan kepada dosa kita di masa lalu. Kita perlu memusatkan perhatian terhadap apa yang sudah diperbuat-Nya – pengorbanan penebusan-Nya di kayu salib untuk dosa kita – dan bukan pada apa yang telah kita perbuat. Karena Dia telah mengampuni dosa kita, kita dapat belajar untuk “melupakan” dosa kita. –DJD.

 Terpujilah nama Yesus

Aku sangat senang Dia menerimaku;

Dia mengampuni pelanggaranku

Dia telah membersihkan hatiku dari dosa. –Harris

 Rasa bersalah bukanlah beban yang diinginkan

Bapa Surgawi untuk ditanggung anak-anak-Nya.