Mengampuni, Mengampuni Lebih Sungguh

7 Mei

Mat 18:21 Kemudian datanglah Petrus dan berkata kepada Yesus: “Tuhan, sampai berapa kali aku harus mengampuni saudaraku jika ia berbuat dosa terhadap aku? Sampai tujuh kali?”

Mat 18:22 Yesus berkata kepadanya: “Bukan! Aku berkata kepadamu: Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali.

Selamat pagi sobat Kasih SetiaNya, dengan pdt. Yulianto Wijaya Kusuma, S.Comp. Pagi ini saya rindu untuk bersaksi tentang mengampuni – mengampuni lebih sungguh.

Kejadiannya sudah sangat lama sekitar 7-8 tahun yang lalu. Saya mempunyai tetangga yang bernama pak Simbolon. Ia adalah seorang yang memiliki karakter yang sangat keras dan sangat terkenal tidak mau mengalah.

Pak Simbolon tinggal tepat di samping rumah kami. Permukaan tanah di rumahnya lebih rendah daripada rumah kami, dan tidak ada saluran pembuangan air karena rumahnya lebih rendah dari permukaan jalan raya sehingga sering mengalami banjir saat hujan turun.

Pak Simbolon suka memelihara anjing, karena banyak keluhan dari tetangga sekitar karena anjingnya membuang kotoran di mana – mana sehingga oleh tetangga yang tidak senang diam-diam meracuni anjingnya. Dan karena begitu banyak terjadi pertikaian antara pak Simbolon dengan masyarakat sekitar sehingga pak Simbolon menutup jalan penghubung antara jalan raya dan jalan yang melewati rumahnya dengan membangun tembok pembatas.

Suatu hari pak Simbolon datang ke rumah kami memberitahu bahwa talang pembuangan air hujan jangan di buang ke jalan setapak yang menghubungkan ke rumahnya karena bila hujan deras rumahnya kebanjiran. Saya berfikir “Ah itu kan jalan umum tapi ia mengambilnya secara paksa dari masyarakat sekitar. Rumahnya kan berada di tanah yang jauh lebih rendah dari jalan raya, biar bagaimanapun pasti banjir.”

Saya mengabaikan pemberitahuan pak Simbolon karena saya berfikir saya membuang air hujan ke jalan umum. Suatu hari di saat hujan deras, Dia datang sambil marah-marah dan memaksa kami untuk memperbaiki talang dengan memindahkannya langsung ke jalan raya. Karena terus di desak akhirnya kami mengalah dengan memindahkannya langsung ke jalan raya.

Setelah di perbaiki, terjadilah hujan yang sangat deras, pak Simbolon kembali datang ke rumah kami sambil marah – marah dan membawa linggis. Ia berteriak – teriak dengan suara sangat keras bahwa talang air yang diperbaiki itu tidak dapat menampung air hujan sehingga sebagian dari air hujan jatuh ke tanah setapak itu.

Ia datang dengan pak RT memaksa saya untuk memperbaiki talang tersebut. Kembali saya mengalah dengan memindahkan talang yang berada di luar ke dalam rumah dengan memasang pipa besar langsung membuang air hujan ke saluran got di pinggir jalan.

Kondisi menjadi damai sejahtera dan tenang selama beberapa Tahun. Suatu hari ketika hujan sangat deras terjadi. Talang air di rumah saya sepertinya mampet karena di rumah pak Simbolon ada pohon besar dimana daun – daunnya menyumbat talang air kami sehingga air hujan masuk dari sela – sela talang air itu sekalipun talang itu sudah di lapis aqua proof sehingga rumah kami kebanjiran.

Saya berusaha memperbaiki talang air itu dengan mendorong sampah sampah daun itu dengan menggunakan linggis. Berhasil, tetapi karena kurang berhati -hati sehingga membuka penutup talang sehingga sebagian air kembali jatuh ke tanah rumahnya pak Simbolon.

Suatu hari saat hujan deras, pak Simbolon dengan menggunakan tangga dan memegang linggis. Memukul dan menghancurkan talang di rumah kami dan menjebol atap rumah kami dengan menggunakan linggis. Sehingga rumah kami kebanjiran. Saya mencoba melaporkan kasus ini ke polisi tetapi isteri saya melarang dengan pertimbangan sekalipun kasus ini kamu menang tetapi pak Simbolon adalah tetangga kami dan kami harus menghadapinya seumur hidup kami. Sayapun mengurungkan niat saya untuk melaporkannya ke kantor polisi.

Saya mengalah dengan memperbaiki talang itu dengan memanggil tukang yang cukup ahli. Peristiwa itu terus berulang setiap hujan deras dan bila ada setetes air jatuh dari talang kami ke tanahnya, dia langsung bertindak menghancurkan talang kami. Sehingga setiap hujan, kami merasa takut dan khawatir dan saya terus mengalah dengan terus memperbaiki talang tersebut.

Suatu hari karena tak kuasa untuk menahan emosi, ketika ia marah sayapun ikut marah. Suatu hari di tengah hujan deras isterinya pak Simbolon menggedor rumah kami dengan sangat keras dan memaki-maki isteri saya. Saya tidak dapat menerima saat isteri saya di maki-maki dan sayapun membalas memaki-maki isterinya kembali sambil menutup pintu.

Keesokan harinya pak polisi datang ke rumah kami memberitahukan bahwa pak simbolon melaporkan keluarga kami atas tuduhan perbuatan yang tidak menyenangkan. Karena kurang bukti dan saksi maka kasus inipun ditutup, sambil tertawa pak polisi meminta kami untuk berdamai dengan keluarga pak Simbolon.

Saya teringat akan firman ini ” Tuhan, sampai berapa kali aku harus mengampuni saudaraku jika ia berbuat dosa terhadap aku ? sampai tujuh kali ?”, Yesus berkata kepadanya “Bukan ! Aku berkata kepadamu : Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali.”

Akhirnya saya lelah untuk ribut dengan pak Simbolon. Dan sayapun datang sendiri dengan baik – baik untuk meminta maaf kepadanya mengenai masalah talang yang menyebabkan rumahnya kebanjiran. Pak Simbolon berkata kepada saya dengan suara yang sangat keras “Kenapa tidak dari dulu, kau minta maaf saja, bertahun-tahun aku menyimpan sakit hati sama kau. Bukankah lebih baik dulu langsung kau minta maaf sehingga kita tidak perlu ribut terus sampai sekarang.”

Saya berfikir “Ha ha ha, ia menyimpan sakit hati selama bertahun – tahun sedangkan saya sama sekali tidak pernah memikirkannya dan saya sudah mengampuninya sejak pertama ia marah – marah dan memukul talang saya dengan menggunakan linggis.”

Dari musuh kamipun akhirnya menjadi tetangga yang baik. Suatu hari isterinya datang ke rumah saya untuk meminta tolong untuk menjemput anaknya sekolah karena kebetulan sekolah anak kami sama dan pulangnya juga bareng. Saya teringat firman Tuhan “Sejauh timur dari barat, Engkau membuang dosaku dan tak Engkau ingat lagi pelanggaranku.”

Sayapun menolongnya dengan menjemput anaknya pulang sekolah. Peristiwa ini terus berlanjut ketika ekonomi keluarga mereka terguncang sehingga sang Isteri harus bekerja di luar daerah. Pak Simbolon datang ke rumah saya untuk menolongnya untuk menjemput anaknya sekolah. Sayapun terus menjemput sampai mereka malu sendiri dan dapat menyelesaikan masalah mereka sendiri.

Luar biasa dari musuh menjadi sahabat baik. Mengampuni… mengampuni lebih sungguh. Tuhan Yesus lebih dulu mengampuni.. mengampuni… mengampuni… lebih sungguh. Amin.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: