True Story: BOCAH – IKON PERJUANGAN HIDUP

26 Apr

Kesedihan mengawali kisah hidup Nkosi Johnson. Nkosi Johnson mengakhiri perjuangan hidupnya di usia 12 tahun.

Percepatan hidupnya terjadi karena Nkosi hidup dengan penyakit Aids sejak lahir. Nkosi dilahirkan sebagai Xolani Nkosi pada bulan Februari 1989 di sebuah kota kecil di pinggiran Johannesburg, Afrika selatan.

Dia dilahirkan dan dibesarkan tanpa pernah tau siapa ayah yang sebenarnya. Sewaktu mengandung Nkosi, ibunya menularkan virus HIV kepadanya sehingga sejak lahir dia telah didiagnosis HIV Positif. Fakta membuktikan bahwa setiap hari ada sekitar dua puluh ribu orang baru yang aliran darahnya disusupi virus HIV dan satu diantara 70ribu bayi yang dilahirkan dengan Aids di Afrika Selatan tiap tahunnya adalah Nkosi Johnson.

Kehidupan Nkosi selanjutnya bertambah berat. Ketika penyakit Aids yang diderita Ibu kadungnya semakin barah, ibu kandungnya tidak mungkin lagi untuk membesarkan Nkosi secara layak, akhirnya Nkosi kecil kekurangan kasih sayang dari figur ayah dan ibunya.

Selanjutnya seorang praktisi Hubungan Masyarakat kota Johannesburg bernama, Gail Johnson mengadopsi Nkosi sebagai anaknya sendiri. Perbedaan warna kulit Gail Johnson yang putih dan Nkosi yang berkulit hitam sama sekali tidak mengurangi kasih sayang Gail terhadap Nkosi.

Di tahun 1997, berbagai sekolah dasar di Johannesburg tidak mau menerimanya sebagai Murid karena ia mengidap HIV, dengan alasan banyak orang tua dan guru yang ketakutan tertular penyakit HIV. Akhirnya dengan suara lantang, Nkosi dan Gail memprotes keputusan tersebut, mulai dari kejadian inilah, dia mulai dikenal publik, terutama tingkat politik tertinggi di Afrika Selatan.

Isi protesnya adalah Nkosi seharusnya diperbolehkan bersekolah karena hukum disana mengatakan tidak ada seorangpun yang boleh didiskriminasi akibat status kesehatannya, dan Nkosi ingin menangih janji tersebut. Perjuangan mereka membuahkan hasil, akhirnya sekolah tersebut membatalkan keputusannya dan memperbolehkan Nkosi bersekolah lagi..

Nkosi membuktikan bahwa mujizat itu nyata. Nkosi dapat hidup sampai dia menginjak usia delapan tahun, padahal kebanyakan meninggal dunia di usia balita. Mujizat tersebut terjadi karena perawatan yang baik dan semangat hidup Nkosi yang besar.

Nkosi melanjutkan pendidikannya sampai umur 12 tahun. Dia menjalani hidupnya dengan sebaik-baiknya. Dia aktif dikegiatan sekolahnya dan pusat-pusat worshop Aids. Usaha Nkosi untuk menghancurkan stigma orang-orang terhadap para pengidap Aids yang selalu dijauhin, dibenci bahkan disakiti akhirnya membuahkan hasil, dimana Nkosi mendapat kesempatan buat menjadi pembicara utama di Konferensi Aids Internasional ke13 di Durban, Afrika Selatan.

Kesempatan terbesar ini dimanfaatkan bukan hanya buat ngomong soal penyakit yang dideritanya, tetapi juga mendorong para penderita Aids untuk berani terbuka mengenai penyakitnya, tepat dihadapan 10 ribu lebih delegasi yang datang ke Konferensi tersebut.

Nkosi yang sering tersenyum, bersepatu kets dan mengenakan sweater, ketika pulang dari konfrensi Aids di Atlanta AS, kondisi tubuhnya memburuk dan akhirnya didiagnosis mengalami kerusakan otak, akibat aids yang dideritanya.

Akhir hidupnya terhenti ditanggal 1 Juni 2001. Nkosi, sang bocah kecil dimakamkan selayaknya seorang pahlawan di Johannesburg untuk menghargai keberaniannya. Saat upacara kematiannya, ributan pelayat hadir termasuk Nelson Mandela. Penghargaan tertinggi dalam hidupnya ditandai dengan gelar “Ikon untuk perjuangan Hidup”.

“Kita semua manusia yang sama, Saya memiliki tangan, Saya memiliki kaki, Saya dapat berjalan, Saya dapat berbicara, Saya memiliki kebutuhan seperti orang lain,
jangan takut kepada Saya,karena kita semua sama”
– Nkosi Johnson

2 Kor 12:9 Tetapi jawab Tuhan kepadaku: “Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna.” Sebab itu terlebih suka aku bermegah atas kelemahanku, supaya kuasa Kristus turun menaungi aku.

Sobat Kasih SetiaNya, terkadang Tuhan mengijinkan kelemahan – kelemahan terjadi di dalam hidup kita. Itu bukan berarti Tuhan tidak mengasihi kita sehingga Ia memberikan kelemahan bagi kita. Tetapi melalui kelemahanlah kita dapat semakin bergantung dan berharap pada-Nya sehingga kita dapat berkata justru dalam kelemahanlah kuasa Allah menjadi nyata. Nkosi memiliki kelemahan sejak lahir tetapi tidak menutup langkahnya untuk terus berkarya di dalam nama Yesus dan ketika Ia bergantung sepenuhnya kepada Yesus, Ia menjadi Ikon perjuangan hidup. Terus berjuang sampai akhir di dalam nama Yesus. Amin.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: