Tuhan Tidak Pernah Salah

17 Apr

Yer 29:14; Kol 3:14

Biasanya kami hampir selalu bersama-sama ke manapun. Berangkat dan pulang kerja, ke gereja, ke pesta, jalan-jalan, bahkan ke pasar. Tetapi sejak saya sakit, saya tidak bisa bersama – sama dengan dia, sehingga dia melakukan semuanya sendiri. Kecuali ke gereja, jika tubuh saya tidak begitu lemah, saya berusaha untuk berangkat dan kami akan pergi bersama-sama.

Tidak terhitung berapa kali saya meminta maaf kepadanya, suami yang saya kasihi dan sangat mengasihi saya. Saya meminta maaf salah satunya karena sudah setahun lebih dia harus belanja sendiri ke pasar dan melayani saya.

“Maafkan saya, saya sangat menyusahkanmu,” kata saya sambil menangis. “Jangan pernah berkata begitu, tidak ada yang salah. Sudah kewajiban saya sebagai suami untuk melakukan semuanya. Kamu isteri saya dan saya sangat mengasihimu,” jawabnya. Di dalam hati saya berkata, “Tuhan, Engkau tidak pernah salah. Engkau memberikan suami yang baik, mengasihi, dan begitu mengerti keadaan saya serta menerima saya apa adanya tanpa pernah mengeluh.”

Saya teringat dua belas tahun yang lalu isi doa permohonan saya kepada Tuhan mengenai pasangan hidup. Saya meminta agar Tuhan mempertemukan saya dengan seorang pria yang mengasihi Tuhan dan mengasihi saya. Saya menggumuli ini dalam doa dan puasa.

Pertama kali bertemu, saya tidak tertarik sama sekali kepadanya. Tetapi seiring dengan berjalannya waktu, saya pun mulai menyadari bahwa Tuhan benar-benar menjawab doa saya. Suami yang Tuhan berikan hampir tidak pernah menyakiti saya dan selalu berkata, “Tuhan, Engkau tidak pernah salah, Terimakasih Tuhan.”

Ketika pembantu kami pulang kampung, dia harus bangun pagi-pagi benar untuk membuatkan jus buah untuk saya. Menyiapkan makanan untuk saya dan anak kami yang masih kecil, dan mengerjakan berbagai pekerjaan di rumah sebelum pergi ke kantor. Ketika tubuh saya terlalu lemah, ia memandikan saya. Ia sabar menghadapi keadaan emosi saya yang kurang stabil selama sakit. “Terima kasih Tuhan, Engkau tidak pernah salah, Berkahilah dia,” kataku kepada Tuhan. Apapun kekurangan yang ia miliki, saya mengasihi dia, dialah yang terbaik untuk saya.

Kasih dan kesetiaan kita kepada pasangan akan teruji di saat-saat yang sulit. Ketika kehidupan berjalan lancar tanpa hambatan yang berarti, sangatlah mudah kita menyatakan kasih dan kesetiaan, Tatapi apa yang terjadi manakala kesulitan hidup datang ? Ketika pasangan kita tidak lagi sejaya dulu, ketika ia sakit, ketika ia dipecat dari pekerjaannya, bangkrut, atau ketika ia menghadapi kesulitan lainnya ?

Firman Tuhan menasihatkan agar kita mengenakan kasih sebagai pengikat yang mempersatukan dan menyempurnakan. Biarlah setiap pasangan tetap saling mengasihi, saling melayani, sabar dan setia.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: