Biji Sesawi Di Taman Hati

13 Apr

Lukas 17:5 Lalu kata rasul-rasul itu kepada Tuhan: “Tambahkanlah iman kami!”

Banyak kali kita menghadapi situasi sulit yang mengecilkan iman kita. Kita seperti orang yang berada di puncak gunung keputusasaan, tidak tahu apa yang harus dilakukan. Kita diperhadapkan pada fakta persoalan yang besar namun tidak memiliki cukup iman untuk mengimbanginya. Lalu kita mulai menaikkan permintaan yang sama dengan para rasul.

Tuhan, tambahkanlah iman kami! Namun Tuhan menegaskan bahwa kita tidak memerlukan iman yang besar untuk mengusir gunung persoalan kehidupan, tetapi hanya perlu iman sebesar biji sesawi, biji yang paling kecil dari segala jenis benih yang ada di bumi. Dapatkah kita melihat sebuah paradoks dalam cara berpikir para rasul dengan Yesus dan bagaimana Yesus menjembatani pemikiranNya dengan pernyataan yang sangat berlawanan? Para rasul menginginkan iman yang besar untuk menjamin mereka menikmati mujizat, namun Yesus menyatakan sebaliknya. Yesus tidak membahas tentang ukuran iman seperti yang ada dalam pikiran para rasul. Itu sebabnya, Ia berbicara tentang sebuah benih, bukan sebuah pohon yang besar.

Benih berbicara tentang sesuatu yang ingin ditanam, sesuatu yang harus kita upayakan untuk membuatnya berbuah, dan juga tentang sebuah pengharapan. Jadi, mujizat berpindahnya gunung persoalan untuk tercampak ke laut harus dimulai dari sesuatu yang kita tanam di dalam taman hati kita, dan mengupayakannya untuk bertumbuh dan berbuah, sesuatu yang selalu membuat kita memiliki pengharapan di dalamNya meski tiada lagi harapan. Itulah yang disebut benih iman!

Kepala Charles Ostrander terkulai lemas tanpa ada lagi tanda-tanda kehidupan ketika ia diangkat keluar dari dalam air setelah dihempas gelombang laut dengan kedinginan air 14 derajat Celcius. Rekan-rekan dari gereja berlutut dan berdoa di sepanjang pantai. Charles ditemukan tenggelam kira-kira dua kaki di bawah permukaan air. Paramedis mencoba menyelamatkannya.

Meskipun tidak ada tanda-tanda kehidupan, namun mereka terus melakukan pernapasan buatan. Dan sebelum tiba di RS, nadinya kembali berdenyut. Orang tua Charles menyatakan bahwa ini adalah sebuah mujizat, dia tidak meninggal, dia dapat bergerak dan berbicara setelah sekian waktu kehabisan oksigen. Salah seorang tenaga medis menyatakan, Ketika anak ini diangkat keluar, ia sepertinya sudah meninggal, tetapi kami harus mengabaikan fakta bahwa ia sepertinya sudah meninggal dan terus melakukan pernapasan buatan.

Kita harus terus menerapkan prinsip pernapasan buatan dengan mengabaikan fakta bahwa gunung persoalan terlalu tinggi untuk didaki. Kita harus terus melakukan penanaman benih keyakinan bahwa Tuhan peduli dan terus menyirami benih tersebut dengan air kehidupan firman Tuhan dan pengharapan kita yang ada di dalam Tuhan. Maka pada akhirnya kita akan menikmati denyut kekuatan, penghiburan, dan mujizatNya mengalir di seluruh hidup kita.

DOA

Tuhan, firmanMu mengatakan bahwa orang benar hidup oleh iman. Untuk itu sebagai orang pilihanMu mampukan kami melangkah dalam iman. Dalam nama Yesus. Amin.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: