Biar Saya Yang Bawa

10 Apr

2 Samuel 22:33-35

Kardia kecil mengeluh ketika disuruh membawa tas sekolahnya. “Ma berat, nih.” Katanya sambil meletakkan kembali tasnya. “Kamu belum terbiasa. Sini saya bantu,” kata mamanya. “Eh, bukan begitu maksudnya. Kamu bawa tas itu dengan punggungmu, lalu saya topang di bawahnya.” Sekalipun sambil cemberut, Kardia tetap membawa tasnya sampai disekolahnya. Ini terjadi selama enam hari. Tetapi, dia tidak menyadari bahwa mamanya sudah mulai melepaskan tangannya dari tas itu. Di hari Senin minggu berikutnya, Kardia tidak berkata apa-apa dan dia dengan semangat pergi ke sekolah sambil membawa tas punggung itu. Seakan-akan dia lupa bahwa selama seminggu dia mengeluh karena merasa berat membawa tas sekolahnya.

Mamanya sengaja hendak membawakan tas sekolahnya, tetapi Kardia berkata, “Biar saya yang bawa, Ma.” Bahkan ketika pulang sekolah mereka singgah ke warung untuk belanja makanan kering, Kardia juga berkata. “Masukkan tas saya saja Ma, nanti saya yang bawa.” Jika diperhatikan, ada suatu perubahan dalam diri Kardia, yaitu dari yang tidak kuat membawa tas menjadi kuat membawa tasnya yang bebannya bertambah. Ini terjadi Karena Kardia menjadi biasa membawa tasnya dan dia tidak mengeluh lagi. Menariknya, dia malah bisa “menolong” mamanya.

Kardia kecil itu seringkali menggambarkan kita. Ketika masalah datang menerpa kita, kita langsung mengeluh dan berusaha mencari alasan untuk menghindari dari masalah itu. Lalu kita berdoa, “Tuhan, berat sekali masalah ini. Singkirkanlah dari hidupku.” Itulah yang dilakukan bangsa Israel sesaat mereka menyeberang Laut Teberau, “Lalu bersungut-sungutlah bangsa itu kepada Musa, kata mereka: Apakah yang akan kami minum ? (Kel 15:24), Bangsa Israel tidak sadar bahwa Tuhan baru saja mengeringkan Laut Teberau sehingga mereka bisa menyeberanginya di tanah yang kering. Namun demikian, Tuhan tetap menolong mereka. Hal ini terjadi berkali-kali selama perjalanan mereka di padang gurung. Sayangnya kebanyakan dari bangsa Israel tidak menjadi terlatih dan mereka terus mengeluh.

Berbeda dengan Kaleb dan Yosua, dimana akhirnya merekalah yang kuat sampai akhir dan turut menerima tanah pusaka di Kanaan. Sama halnya dengan Daud, dia sering mengalami penderitaan, tetapi gema syukur dan pujiannya jauh lebih kuat dari keluhannya. Yang menarik adalah pengakuan Daud bahwa Tuhanlah yang mengajar tangannya berperang sehingga lengannya tetap berada di puncak ketika ajal menjemputnya. Suatu sukses yang luar biasa !

Untuk mencapai kematangan rohani dan mental, perlu latihan. Mari kita rela menerima penderitaan dan tidak mengeluh. Jika kita mau dilatih, sesungguhnya kita sedang dipersiapkan untuk turut menanggung beban sesama, suatu kepercayaan besar dari Tuhan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: