Arsip | April, 2012

Semua Karena Tuhan

26 Apr

Seorg pria sdg bermain2 dgn anak kecilnya, smntr istrinya sdg bekerja di dapur. Ayah yg sangat mencintai anaknya itu brjln mengelilingi rmh smbl memanggul anaknya itu di atas pundaknya. Ketika mrk sampai di tengah rmh, sang ayah membiarkan anaknya itu berdiri di atas pundaknya dan menggapai ke atas utk menyentuh kayu penyangga atap.
Stlh berhasil memegang kayu penyangga atap, anak kecil itu sangat senang dan berteriak2, “Mama.. Mama…, lihat, ayo lihat ke sini… Skrg sy lbh besar dari Ayah… Lihat ! Sy bisa menyentuh kayu penyangga atap sedangkan ayah tdk bisa.”

Sambil tersenyum ibunya berusaha menyenangkan hati anak kecil itu dan berkata, “Wuah… Hebat sekali, kamu sungguh seorg anak yg besar dan kuat.”
Kemudian sang ayah meminta anaknya agar berpegangan erat2 pd kayu itu dan perlahan2 ayah mulai merendahkan diri.. Dan membiarkan anak itu bergantung sendirian.. Kini anak kecil itu menjerit2 ketakutan krn pijakannya tdk ada lg.
“Ayah.. Ayah.. Tolong jgn tinggalkan sy.. Tolong ayah…”

PESAN MORAL :
Nah..!!, bukankah seringkali kita bersikap sprt anak kecil tadi, ketika kita berhasil melakukan sesuatu yg baik dan hebat, kita lalu merasa bhw diri kita sungguh hebat dan luar biasa, padahal di balik keberhasilan kita ada seorg Ayah yg tdk pernah meninggalkan kita dan Dialah yg sebenarnya tlh membuat kita berhasil, yaitu TUHAN kita.
Jd jgn pernah menyombongkan kesuksesan ataupun keberhasilan kita, krn bukan kemampuan kita yg membuat kita berhasil namun tangan TUHAN yg tlh membuat kita berhasil…

True Story: BOCAH – IKON PERJUANGAN HIDUP

26 Apr

Kesedihan mengawali kisah hidup Nkosi Johnson. Nkosi Johnson mengakhiri perjuangan hidupnya di usia 12 tahun.

Percepatan hidupnya terjadi karena Nkosi hidup dengan penyakit Aids sejak lahir. Nkosi dilahirkan sebagai Xolani Nkosi pada bulan Februari 1989 di sebuah kota kecil di pinggiran Johannesburg, Afrika selatan.

Dia dilahirkan dan dibesarkan tanpa pernah tau siapa ayah yang sebenarnya. Sewaktu mengandung Nkosi, ibunya menularkan virus HIV kepadanya sehingga sejak lahir dia telah didiagnosis HIV Positif. Fakta membuktikan bahwa setiap hari ada sekitar dua puluh ribu orang baru yang aliran darahnya disusupi virus HIV dan satu diantara 70ribu bayi yang dilahirkan dengan Aids di Afrika Selatan tiap tahunnya adalah Nkosi Johnson.

Kehidupan Nkosi selanjutnya bertambah berat. Ketika penyakit Aids yang diderita Ibu kadungnya semakin barah, ibu kandungnya tidak mungkin lagi untuk membesarkan Nkosi secara layak, akhirnya Nkosi kecil kekurangan kasih sayang dari figur ayah dan ibunya.

Selanjutnya seorang praktisi Hubungan Masyarakat kota Johannesburg bernama, Gail Johnson mengadopsi Nkosi sebagai anaknya sendiri. Perbedaan warna kulit Gail Johnson yang putih dan Nkosi yang berkulit hitam sama sekali tidak mengurangi kasih sayang Gail terhadap Nkosi.

Di tahun 1997, berbagai sekolah dasar di Johannesburg tidak mau menerimanya sebagai Murid karena ia mengidap HIV, dengan alasan banyak orang tua dan guru yang ketakutan tertular penyakit HIV. Akhirnya dengan suara lantang, Nkosi dan Gail memprotes keputusan tersebut, mulai dari kejadian inilah, dia mulai dikenal publik, terutama tingkat politik tertinggi di Afrika Selatan.

Isi protesnya adalah Nkosi seharusnya diperbolehkan bersekolah karena hukum disana mengatakan tidak ada seorangpun yang boleh didiskriminasi akibat status kesehatannya, dan Nkosi ingin menangih janji tersebut. Perjuangan mereka membuahkan hasil, akhirnya sekolah tersebut membatalkan keputusannya dan memperbolehkan Nkosi bersekolah lagi..

Nkosi membuktikan bahwa mujizat itu nyata. Nkosi dapat hidup sampai dia menginjak usia delapan tahun, padahal kebanyakan meninggal dunia di usia balita. Mujizat tersebut terjadi karena perawatan yang baik dan semangat hidup Nkosi yang besar.

Nkosi melanjutkan pendidikannya sampai umur 12 tahun. Dia menjalani hidupnya dengan sebaik-baiknya. Dia aktif dikegiatan sekolahnya dan pusat-pusat worshop Aids. Usaha Nkosi untuk menghancurkan stigma orang-orang terhadap para pengidap Aids yang selalu dijauhin, dibenci bahkan disakiti akhirnya membuahkan hasil, dimana Nkosi mendapat kesempatan buat menjadi pembicara utama di Konferensi Aids Internasional ke13 di Durban, Afrika Selatan.

Kesempatan terbesar ini dimanfaatkan bukan hanya buat ngomong soal penyakit yang dideritanya, tetapi juga mendorong para penderita Aids untuk berani terbuka mengenai penyakitnya, tepat dihadapan 10 ribu lebih delegasi yang datang ke Konferensi tersebut.

Nkosi yang sering tersenyum, bersepatu kets dan mengenakan sweater, ketika pulang dari konfrensi Aids di Atlanta AS, kondisi tubuhnya memburuk dan akhirnya didiagnosis mengalami kerusakan otak, akibat aids yang dideritanya.

Akhir hidupnya terhenti ditanggal 1 Juni 2001. Nkosi, sang bocah kecil dimakamkan selayaknya seorang pahlawan di Johannesburg untuk menghargai keberaniannya. Saat upacara kematiannya, ributan pelayat hadir termasuk Nelson Mandela. Penghargaan tertinggi dalam hidupnya ditandai dengan gelar “Ikon untuk perjuangan Hidup”.

“Kita semua manusia yang sama, Saya memiliki tangan, Saya memiliki kaki, Saya dapat berjalan, Saya dapat berbicara, Saya memiliki kebutuhan seperti orang lain,
jangan takut kepada Saya,karena kita semua sama”
– Nkosi Johnson

2 Kor 12:9 Tetapi jawab Tuhan kepadaku: “Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna.” Sebab itu terlebih suka aku bermegah atas kelemahanku, supaya kuasa Kristus turun menaungi aku.

Sobat Kasih SetiaNya, terkadang Tuhan mengijinkan kelemahan – kelemahan terjadi di dalam hidup kita. Itu bukan berarti Tuhan tidak mengasihi kita sehingga Ia memberikan kelemahan bagi kita. Tetapi melalui kelemahanlah kita dapat semakin bergantung dan berharap pada-Nya sehingga kita dapat berkata justru dalam kelemahanlah kuasa Allah menjadi nyata. Nkosi memiliki kelemahan sejak lahir tetapi tidak menutup langkahnya untuk terus berkarya di dalam nama Yesus dan ketika Ia bergantung sepenuhnya kepada Yesus, Ia menjadi Ikon perjuangan hidup. Terus berjuang sampai akhir di dalam nama Yesus. Amin.

Dia Berkorban Supaya Aku Hidup

25 Apr

Serena, nama gadis itu, memiliki seorang ayah yang dipenjara seumur hidup karena terbukti membunuh istrinya sendiri, tentunya ibu dari Serena. Tetapi sekarang, hanya jantung sang ayah yang bisa memberi harapan pada Serena untuk tetap hidup.
Yang menjadi kendala adalah masalah hukum. Hukum negara bagian dimana mereka tinggal tidak mengijinkan hal-hal semacam suntik mati, dll, apalagi “membunuh” seorang manusia untuk menyelamatkan manusia lainnya.

Pengacara Serena mengajukan argumen:
Sederhana saja.
Si ayah tidak memiliki masa depan.
Dia akan menghabiskan seluruh hidupnya di penjara.
Dia rela memberikan jantungnya kepada anaknya.
Si anak masih remaja. Masa depannya masih panjang.
Jadi, biarkan Serena hidup dengan jantung ayahnya….
Ini bukan pembunuhan. Ini adalah masalah seorang ayah ingin menolong anaknya.

Pengacara negara menolak hal tersebut. Kalau satu diijinkan, nanti semua narapidana di penjara berbondong-bondong menjadi donor organ tubuh untuk si anu dan si anu, dengan harapan mereka bisa luput dari hukuman atas kejahatan mereka, dengan harapan mereka bisa menjadi pahlawan kesiangan!

Lagipula, siapakah kita sehingga kita berpikir bisa menentukan hidup siapa yang lebih berharga? Jadi, dilihat dari sisi manapun, ini adalah pembunuhan. Dan ini besar efeknya pada masa depan hukum.

Hakim bingung. Sidang pendahuluan ditunda. Penonton penasaran. Adegan berikut menunjukkan wajah Serena dan pengacaranya yang sedih dan kebingunan.

Si ayah melarikan diri dalam perjalanan menuju pengadilan lanjutan. Semua menduga hal ini sudah direncanakan sebelumnya. Serena sedih dan sakit hati.

“Dia adalah pembunuh ibuku! Alangkah tololnya aku, mau percaya bahwa ia bersedia menolong aku untuk tetap hidup…”

Pengacara terdiam. Tidak tahu harus berkomentar apa. Tiba-tiba hand-phone si pengacara berbunyi dari rumah sakit.

Ayah Serena pergi ke rumah sakit dan menyodorkan kartu donor-nya, dan kemudian, menembak dirinya sendiri dengan pistol. Tidak ingin mengambil resiko kalah di pengadilan, si ayah memutuskan mengakhiri hidupnya sendiri. Rumah sakit mendesak Serena untuk segera datang agar operasi bisa segera dilakukan. Jantung ayahnya menunggu, dan tidak bisa menunggu lama.

Di atas ranjang operasi, Serena ragu-ragu. Rasa bersalah menyelimutinya. “Haruskah aku melakukan ini?” Tanyanya pada semua yang hadir di ruangan. “Ini jantung ayahku… dan ia menembak mati dirinya sendiri….”

Semua buru-buru menasehatinya.

“Jangan membuat pengorbanannya sia-sia.”

“Kalian kan sudah sepakat dari awal. Hanya saja kita tidak menduga caranya akan seperti ini…”

Tapi ada satu kalimat yang membuat Serena akhirnya mau dioperasi.

“Serena, ayahmu memilih untuk menghadapi kematian agar kamu tidak perlu mati”

Sebuah kisah yang begitu mengharukan, membuat saya sadar bahwa jantung saya hari ini masih berdetak, semata-mata karena ada yang rela menghadapi maut agar saya tidak perlu mati karena dosa-dosa yang saya perbuat. Namanya adalah Yesus.

“Karena begitu besar kasih Bapa akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.” (Yoh 3:16)

Bagaimana dengan dirimu, sudahkah kamu menyadari bahwa Tuhan Yesus telah mati dan menebus dosa-dosa kita? Dia memilih menghadapi kematian supaya kita tetap hidup dan memperoleh anugerah keselamatan yang kekal.

Jangan sia-siakan anugerah keselamatan itu. Mungkin sekarang karena kita masih hidup di dunia kita berpikir masih ada kesempatan hidup, tobat nanti aja kalau sudah tua. Eits jangan salah loh, kita tidak akan pernah tahu kapan kita akan dipanggil Tuhan, sekarang banyak orang yang meninggal muda disebabkan kebodohan mereka yang terjerumus dalam dosa. Mereka menganggap remeh keselamatan dari Tuhan, dan akhirnya saat di panggil Tuhan tidak siap. Dan saat disana dilempar ke neraka, sudah tidak ada pengampunan disana, yang ada cuma ratap dan tangis. sampai Tuhan pun menuliskan di Ibrani 2:3

“bagaimanakah kita akan luput, jikalau kita menyia-nyiakan keselamatan yang sebesar itu, yang mula-mula diberitakan oleh Tuhan dan oleh mereka yang telah mendengarnya, kepada kita dengan cara yang dapat dipercayai”

Sudah cukup mendukakan Tuhan dengan semua perbuatan jahat kita, yang terikat dengan narkoba, sex bebas, pornografi, percabulan, perzinahan, Yang suka menduakan Tuhan dan suka pergi ke dukun, paranormal, roh-roh nenek moyang, ramalan-ramalan. sadarilah kalian mendukakan hati Tuhan juga, ingat Tuhan kita pencemburu dan tidak mau dipermainkan, minta ampun sama Tuhan dan percaya sungguh-sungguh hanya kepada Bapa di Sorga. masih banyak perbuatan dosa yang saya belum sebutkan, tapi inti dari semuanya adalah sadari kesalahan dan dosa yang telah kamu lakukan dan BERTOBAT.

Masih ada pengampunan untuk setiap orang yang mau mengakui dosa dan kesalahannya, bertobat dan berubah di dalam Kristus. Sekali lagi sahabatku, jangan sia-siakan kesempatan ini. Bukalah hatimu untuk Tuhan Yesus Kristus dan terima pengampunanNya atasmu.

Kisah Inspirasi Hati Tikus

25 Apr

Mat 9:29 Lalu Yesus menjamah mata mereka sambil berkata: “Jadilah kepadamu o menurut imanmu.”

Ada seekor tikus yang merasa hidupnya sangat tertekan karena selalu dikejar-kejar jika berjumpa dengan si kucing.

Karena stress, ia akhirnya memutuskan untuk menemui seorang penyihir sakti untuk meminta pertolongan. Penyihir memenuhi keinginannya dan mengubah si tikus menjadi seekor kucing. Sekarang dia merasa aman waktu berpapasan dengan kucing.

Namun setelah menjadi kucing, muncul lagi persoalan yang baru. Kini ia begitu ketakutan pada anjing. Kembali ia menemui penyihir yang kemudian mengubahnya menjadi seekor anjing.

Setelah menjadi anjing, ia berjalan-jalan di kampung orang manado. Ia akhirnya di kejar-kejar sama orang manado untuk dijadikan rica-rica (hehehe). Maka bertambah ketakutanlah ia dan menjadi stress.

Ia kemudian memutuskan untuk mendatangi kembali si penyihir. Namun si penyihir marah karena tidak mungkin merubah si tikus yang telah menjadi anjing tadi menjadi orang manado. Akhirnya si penyihir memutuskan untuk mengubahnya kembali menjadi tikus lagi.

Si penyihir sakti berkata kepada si tikus, “kus…kus… selama kau masih berhati tikus, tak peduli bagaimana pun bentuk dan keadaanmu, kau tetaplah seekor tikus yang pengecut”

Perubahan yang paling ampuh dalam hidup ini adalah perubahan yang dimulai dari dalam diri kita sendiri yaitu dari hati kita. Sama seperti tikus tadi, perubahan wujud tidak mampu menyelesaikan persoalan yang ia alami. Kemanapun ia pergi, ia masih tetap membawa rasa takut yang ada dalam dirinya sehingga hal tersebut sama sekali tidak menyelesaikan persoalan yang sebenarnya.

Pasti kita semua pernah atau sedang mengalami ketakutan, stress, depresi karena bergumul dengan permasalahan dan kehidupan. Kita berusaha untuk memoles bagian luar hidup kita supaya bisa tampil kuat, tegar, santai bagi orang lain tetapi itu hanya bagian luarnya saja. Alangkah bodohnya kita karena kita membuang-buang waktu dengan percuma.

Respon yang sehat dalam menghadapi ketakutan kita yaitu menghadapinya dengan keberanian. So…, apapun yang anda takuti hari ini berkomitmenlah untuk menghadapi atau bahkan menghancurkannya sebelum ketakutan yang menghancurkan hidup anda.

Iman kita menenentukan akan menjadi seperti apakah kita bila kita hanya memiliki iman dan mentalitas seperti tikus maka kita akan menjadi seperti itu tetapi jika kita memiliki iman dan mentalitas sebagai lebih dari pemenang karena Yesus telah mengalahkan dunia maka kita pun menjadi “Lebih dari Pemenang”.

True Story: PAPA, KAPAN JARI” KU AKAN TUMBUH ?

24 Apr

Cerita ini adalah “kisah nyata” yang pernah terjadi di Amerika.

Seorang pria membawa pulang truk baru kebanggaannya, kemudian ia meninggalkan truk tersebut sejenak untuk melakukan kegiatan lain. Anak lelakinya yang berumur 3 tahun sangat gembira melihat ada truk baru, ia memukul-mukulkan palu ke truk baru tersebut. Akibatnya truk baru tersebut penyok dan catnya tergores.

Pria tersebut berlari menghampiri anaknya dan memukulnya, memukul Tangan anaknya dengan palu sebagai hukuman. Setelah sang ayah tenang kembali, Dia segera membawa anaknya ke rumah sakit.

Walaupun dokter telah mencoba segala usaha untuk menyelamatkan jari-jari anak yang hancur tersebut, tetapi ia tetap gagal. Akhirnya dokter memutuskan untuk melakukan amputasi semua jari pada kedua tangan anak kecil tersebut.

Ketika anak kecil itu sadar dari operasi amputasi dan jarinya telah tidak ada dan dibungkus perban, dengan polos ia berkata, “Papa, aku minta maaf tentang trukmu.” Kemudian, ia bertanya, “tetapi kapan jari-jariku akan tumbuh kembali?” Ayahnya pulang ke rumah dan melakukan bunuh diri.

Renungan:

Berpikirlah dahulu sebelum kau kehilangan kesabaran kepada seseorang yang kau cintai. Truk dapat diperbaiki, Tulang yang hancur dan hati yang disakiti seringkali tidak dapat diperbaiki. Terlalu sering kita gagal untuk membedakan antara orang dan
perbuatannya, kita seringkali lupa bahwa mengampuni lebih besar daripada membalas dendam.

Orang dapat berbuat salah. Tetapi, tindakan yang kita ambil dalam kemarahan akan menghantui kita selamanya. Tahan, tunda dan pikirkan sebelum mengambil tindakan. Mengampuni dan melupakan, mengasihi satu dengan lainnya. Ingatlah, jika kau menghakimi orang, kau tidak akan ada waktu untuk mencintainya waktu tidak dapat kembali;

HIDUP bukanlah sebuah VCD PLAYER, yang dapat di Backward dan Forward.
HIDUP hanya ada tombol PLAY dan STOP saja.

Jangan sampai kita melakukan kesalahan yang dapat membayangi kehidupan kita kelak; yang berperan besar dalam kehidupan kita adalah “HATI” yang penuh dengan belas kasih dan cinta kasih. Jadikanlah CINTA KASIH sebagai nafas kehidupan kita yang sesungguhnya.

Efesus 4:26 “Apabila kamu menjadi marah, janganlah kamu berbuat dosa: w janganlah matahari terbenam, sebelum padam amarahmu”

 

Cacat Berhati Mulia

24 Apr

Saya melihat sebuah artikel dengan foto yang sangat menyentuh hati. Anak dalam cerita ini memperlihatkan dua hal. Yang pertama, kekurangan fisik bukanlah halangan untuk memiliki kebesaran hati dan berbuat baik. Kedua, kemiskinan bukanlah halangan untuk berbagi. Semoga cerita ini bisa membawa inspirasi buat kita semua.

Ada seorang anak yang kurus tinggal tulang berbalut kulit, yang rambutnya sendiri pun sudah menguning mungkin akibat terpaan sinar matahari dan malnutrisi, menyeret-nyeret tubuhnya. Kakinya cacat. Dia memegang sebuah mangkuk besi.

Anak itu merangkak di depan meja yang bertuliskan “donasi”. Orang-orang berpikir: “Ia akan lewat.” Sebagian lagi berpikir bahwa anak ini minta diberikan sumbangan.

Tapi selanjutnya merupakan kejadian yang tak terduga!

Dia berkata pada orang-orang dewasa itu, “Saya ingin menyumbang!”

Ia pun menuang koin dari mangkuknya. Para petugas mengulurkan tangan ingin membantu, tapi dia ingin melakukannya dengan tangannya sendiri.
Mereka semua tak bisa berkata-kata karena ia memberikan semua yang diperolehnya kepada Lembaga Amal dengan usahanya dan dengan tangannya sendiri.

Tapi ternyata tak hanya itu.

“Saya masih punya uang lagi.” Ia berkata dengan antusias sambil merogoh saku celananya.

Ia mengambil beberapa lembar uang dan kemudian menyumbang…lagi !

Memang kita jangan pernah memandang rendah orang lain. Tapi terlebih lagi, jangan kita memandang rendah diri sendiri. Kita kadang tidak dapat memilih apakah kita bisa punya kekayaan materi, kita juga tidak bisa memilih kondisi tubuh kita, tapi kita selalu bisa memilih untuk memiliki kekayaan hati. Anak ini telah menunjukkan hal ini kepada kita semua.

Setelah melihat ini, saya baru sadar dia bukan orang yang perlu di “kasihani” karena dia sudah sangat kaya. Tapi dia perlu di “kasihi” agar dia dapat berbagi kasih lagi dengan orang lain.

“Memberi dari kekurangan” itulah persembahan yang sejati dan mulia.

Mar 12:42 Lalu datanglah seorang janda yang miskin dan ia memasukkan dua peser, yaitu satu duit.

Mar 12:43 Maka dipanggil-Nya murid-murid-Nya dan berkata kepada mereka: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya janda miskin ini memberi lebih banyak dari pada semua orang yang memasukkan uang ke dalam peti persembahan.

Mar 12:44 Sebab mereka semua memberi dari kelimpahannya, tetapi janda ini memberi dari kekurangannya, semua yang ada padanya, yaitu seluruh nafkahnya.”

Hati Bagaikan Rumah

23 Apr

Luk 11:28 Tetapi Ia berkata: “Yang berbahagia ialah mereka yang mendengarkan firman Allah dan yang memeliharanya.”

Satu resep kebahagiaan adalah mendengar firman Allah dan memeliharanya. Memelihara disini berarti melakukan kebenaran firman Allah.

Apa yang terjadi bila kita tidak melakukan firman Tuhan ? Apakah itu berarti bahwa kita tidak bahagia ?

Yah memang demikian tetapi bukan cuma itu tetapi kehidupan kita akan semakin jahat dan jauh dari Tuhan.

Lihat Lukas 11:24 “Apabila roh jahat keluar dari manusia, iapun mengembara ke tempat-tempat yang tandus mencari perhentian, dan karena ia tidak mendapatnya, ia berkata: Aku akan kembali ke rumah yang telah kutinggalkan itu.

25 Maka pergilah ia dan mendapati rumah itu bersih tersapu dan rapih teratur.

26 Lalu ia keluar dan mengajak tujuh roh lain yang lebih jahat dari padanya, dan mereka masuk dan berdiam di situ. Maka akhirnya keadaan orang itu lebih buruk dari pada keadaannya semula.”

Rumah disini berbicara hati kita, bila hati kita tidak diisi dengan Firman Tuhan dan melakukannya maka akan seperti rumah yang kosong dan tersapu rapi sehingga roh jahat yg sebelumnya ada di hati kita akan membawa 7 roh jahat lain yang lebih jahat sehingga akan membuat kondisi rohani kita semakin bertambah buruk.

Jadi dengan mendengarkan dan melakukan Firman Allah maka kita akan berbahagia dan yang terpenting rumah hati kita senantiasa terisi damai sejahtera dan sukacita shg apapun yang kita perbuat diberkati menjadi berhasil.

*•._.•A•O:)•M•<3•I•(*)•N•({})•!!!•._.•*