*** A Life Testimony *** TUHAN YESUS MENYELAMATKAN AKU – BAHKAN SEBELUM AKU MENGENAL DIA ***

31 Mar

*** A Life Testimony *** Kesaksian ini ditulis dengan air mata. Seorang temanku (sebut saja namanya Dina Yolanda – bukan nama sebenarnya ) menceritakan kisah hidupnya, bagaimana Tuhan Yesus menyelamatkan dia dan secara ajaib membawa dirinya untuk mengenal Tuhan Yesus.

Saya hidup di keluarga yang benar-benar hancur. Aku tinggal bersama kedua orang tuaku dan aku memiliki seorang adik laki-laki, sebut saja namanya Jody. Papaku dulu tukang judi, sedangkan Mama harus membanting tulang untuk membesarkan kami. Aku kasihan melihat Mama, yang harus bekerja keras untuk membesarkan dan membiayai sekolah anak-anaknya. Sedangkan Papa tidak pernah mau tahu, kerjanya hanya menghambur-hamburkan uang untuk berjudi.

Aku sedih melihat Mama yang terus menerus disiksa bathinnya oleh Papa. Apalagi saat Papa kalah judi kami anak-anaknya menjadi sasaran amukan. Pukulan demi pukulan kami terima bahkan pernah Papa berkata pada Mama bahwa kami ini bukan anak-anaknya. Kami sering dipukul, terutama aku – anak yg paling besar – selalu kena amukan dari Papa.

Hidupku serasa hancur, setiap hari  selalu merasa ketakutan dan tidak pernah merasa tenang. Hampir setiap hari aku menangis, tangisan adalah makanan pokok aku setiap hari. Hari-hari terasa sulit aku jalani. Sungguh rumah bagaikan neraka bagiku.

Papaku mulai mulai berubah menjadi baik sejak  aku menikah dan mempunyai anak. Aku menikah dengan seorang laki-laki pilihanku sendiri bernama Anton. Sejak pernikahanku dengan dia, tidak kusangka apa yang dialami Mama itu terjadi dalam rumah-tangga ku sendiri. Suamiku seorang pemabuk dan penjudi berat, dan suamiku suka berselingkuh.

Di usia kandunganku yang beranjak tiga bulan terjadi masalah pada keluarga suamiku. Tanpa disadari, kakaknya membuka rahasia suami saya. Kakaknya mengatakan bahwa suamiku sebenarnya sudah mempunyai seorang istri dgn dua orang anak. Mendengar hal tersebut aku merasa sangat terkejut, seakan tidak percaya, bagaikan disambar petir.

Untuk membuktikan hal tersebut kakaknya mempertemukan aku dengan istri  pertamanya serta kedua anaknya. Di sana istrinya berkata kepada saya bahwa dia meninggalkan Anton  karena dia berselingkuh dengan seorang mahasiswi  dari sebuah universitas di Jakarta. Tanpa aku sadari sejak menikah Anton masih berhubungan dengan mahasiswi itu. Mahasiswi  itu  (Y) sering  menelpon aku bahwa suamiku itu sedang berada bersamanya di hotel,  tapi aku tidak percaya apa yang dia katakan. Sampai akhirnya dia datang sendiri ke rumahku, dan mengatakan bahwa suamiku ada berhutang kepada orang tuanya sejumlah sekian dollar.

Orang tuaku tidak percaya bahwa suamiku itu meminjam uang segitu banyaknya untuk apa? Dia (Y) mengatakan bhw suamiku pinjam uang untuk sewa rumah dan biaya hidup mereka berdua. Mamaku terkejut dan mengatakan bahwa “Kalian yang menikmati kesenangannya, mengapa anak saya yang harus menanggungnya ?”

Akhirnya suamiku memutuskan untuk meninggalkan wanita itu. Tapi suamiku masih belum berubah, tetap berjudi dan mabuk-mabukan. Aku berusaha untuk mempertahankan keutuhan rumah tangga demi anak kami tercinta. Sampai di hari  kelahiran anakku, suamiku sama sekali tidak menemaniku dalam proses persalinan itu. Aku sendiri mengalami kesakitan yang luar biasa, tapi dia sama sekali tidak melihat anaknya, maupun menjenguk aku, dia tidak peduli, bahkan saat Mama menelponnya untuk datang, dia tidak berada di rumah.

Tiap hari dia selalu pulang pagi hari, dia tidak peduli dengan aku dan anakku.  Setiap dia pulang mulutnya selalu berbau alkohol. Bahkan susu anak pun dia tidak pernah membelikannya.

Pada saat anakku berusia sembilan bulan, kesabaranku sudah habis. Aku pergi membawa anakku meninggalkan suamiku ke rumah orang tuaku.  Aku tidak tahu apakah aku ini istrinya atau bukan, karena pernikahanku tidak sakral, tetapi hanya dilakukan di depan meja abu leluhur, bukan di tempat ibadah (vihara). Bahkan aku tidak mempunyai surat nikah.

Detik-detik itu sangat sulit untuk menjalani hidup. Akhirnya terpikir olehku untuk mengakhiri hidupku. Aku sempat meminum racun serangga. Dalam keadaan sekarat, orang tuaku membawaku ke rumah sakit. Di rumah sakit dokter mengatakan bahwa  kondisiku sudah terlambat untuk diselamatkan. “Lebih baik berdoa dan menunggu mujizat dari Tuhan, agar anak ini bisa selamat” Katanya.

Tapi kehendak Tuhan lain dengan apa yang dikatakan oleh dokter. Aku bisa pulih kembali,  namun setelah aku sadar aku bahkan menyalahkan Tuhan, “Mengapa Tuhan tidak mencabut nyawaku saja? Aku tidak mau hidup menderita seperti ini.” Kemudian dokter itu berkata “Kamu bodoh sekali, pikiran kamu sempit, kalau kamu mati maka suami kamu akan bersenang-senang dengan wanita lain, terus bagaimana dengan nasib anak kamu ?”

Setelah melewati kejadian itu hidupku tetap saja tidak merasa tenang, bahkan timbul rasa benci yang teramat sangat di hatiku, sehingga aku menutup diri pada semua laki-laki. Aku menganggap semua laki-laki itu sama jahatnya seperti suamiku.

Dan aku menganggap Tuhan itu tidak adil, Aku menjalani hidup ini sendiri, tanpa ada seseorang untuk aku bisa mencurahkan isi hatiku. Saat anakku mulai kelas satu SD, aku mengantar anakku berangkat sekolah. Tanpa aku sadari sewaktu pulang mengantar anakku sekolah, aku tidak menuju ke rumahku, namun menuju ke sebuah gereja.

Saat aku berdiri tepat di depan gereja,  salah satu pengurus gereja itu keluar menemui aku dan bertanya kepadaku “Apa yang bisa saya bantu?” Kemudian dia mempersilahkan aku masuk, namun  aku menolaknya. Aku sempat berdiri lama di depan gereja itu – seperti ada dorongan yang sangat kuat yang memaksa aku untuk masuk ke dalam gereja itu.

Saat kakiku melangkah masuk ke dalam gereja itu aku merasakan sesuatu yang  berbeda yang tidak pernah aku rasakan sebelumnya, yaitu rasa ketenangan. Di dalam gereja itu aku merasa tenang dan damai.

Aku melihat gambar sosok seseorang yang kepala-Nya memakai mahkota duri. Aku memandang-Nya lamaaa… sekali. Dalam hatiku bertanya … “Siapa Dia? Mengapa saat aku melihat-Nya aku merasa nyaman, tenang,  yang tidak pernah aku rasakan sebelumnya ?”

Tanpa sadar aku memanggilnya “Tuhan, Tuhan, Tuhan (tiga kali aku memanggil -Nya Tuhan), ampuni aku…aku bersalah dan berdosa kepadaMu.”

Saat itu juga pengurus gereja tadi melihat aku menangis dan menghampiriku dan bertanya “Ada apa Ibu menangis ? Apa ada akar kepahitan dalam hati Ibu sehingga Ibu menangis ? Apa agama Ibu ?”. Aku menjawab “Agamaku Budha”.

Lalu aku berkata lagi kepadanya “Siapa yang berada di gambar tersebut ? Mengapa dia diberikan mahkota duri?”

Dia menjawab “Itu Tuhan Yesus, Dia pernah hidup di bumi 2000 tahun yang lalu dan Dia pernah ada untuk kita”. Kemudian aku menjawab bahwa aku ingin mengenal Dia. Lalu dia menjelaskan siapa itu  Tuhan Yesus dan membacakan Firman Tuhan di perjanjian baru di kitab Matius. Di situ dia menceritakan kelahiran Tuhan Yesus sampai dengan kematian Nya.

Di situlah aku merasa sangat bersalah dan berdosa,  dan apa yang telah aku alami dan lakukan adalah kesalahanku sendiri, karena itu pilihanku sendiri yang menjerumuskan diriku sendiri ke dalam kesengsaraan.

Aku ingin lebih mengenal-Nya, mengenal siapa Yesus. Aku bertanya kepadanya, kapan jam ibadah di gereja itu.

Kemudian pada hari minggu aku mencoba untuk beribadah ke sana. Di sana aku merasakan kedamaian dan ketenangan.

Lalu aku berkata kepada Pendeta di gereja itu bahwa aku ingin menjadi seorang kristiani dan dibaptis. Kemudian Pendeta itu mengatakan kepadaku bahwa aku harus belajar Firman Tuhan terlebih dahulu kurang lebih selama satu bulan.

Kurang dari satu bulan, Pendeta tersebut melihat kesungguhan hatiku utk mengenal Tuhan Yesus, maka dia segera membaptis aku.

Sebelum dibaptis dia bertanya kepadaku apakah ada akar kepahitan yang belum aku utarakan kepadanya ? Kemudian aku menceritakan kisah hidupku kepada Pendeta tersebut. Lalu Pendeta itu bertanya kepadaku, dapatkah aku memaafkan suamiku ? kemudian aku menjawab “Tidak mungkin dan tidak bisa aku memaafkannya.”  Pendeta itu mengatakan kepadaku bahwa jika aku tidak bisa memaafkan suamiku maka Tuhan pun tidak bisa memaafkan aku. Aku berkata “Jika orang lain yang bersalah kepadaku, maka aku bisa memaafkannya. Tapi aku tidak bisa memaafkan suamiku.”

Pendeta itu menganjurkan aku untuk ikut sesi pelepasan. Kemudian aku mengikuti sesi pelepasan tersebut. Aku mengutarakan semua isi hatiku kepada Tuhan.

Pada saat itu tubuhku terasa panas. Mataku gelap, yang kurasakan hanya gemetar, seperti ada suara entah dari mana datangnya yang berkata “Kamu harus bisa memaafkan suami-mu”. Tapi di sisi lain ada suara yg  berkata “Jangan ! dia tidak pantas dimaafkan !”. Aku bingung harus mendengarkan suara yang mana. Tubuhku terasa panas, gemetar dan aku berteriak “Tuhan, Tuhan, Tuhan ampuni aku.”

Kemudian aku mendengar suara itu kembali “Dapatkah engkau memaafkan suami-mu ?” Aku menjawab “Demi pengorbanan Yesus, aku mau memaafkan suamiku.” Saat itu juga tidak ada lagi rasa benci dalam hatiku. Yang ada timbul rasa kasihan kepada suami, kalau saja dia mengenal Tuhan Yesus dia tidak akan seperti itu.

Tapi Tuhan berkata melalui Pendeta tersebut  bahwa dia bukanlah suami pilihan Tuhan untukku. Pernikahanku dengan Anton tidak sah di mata Tuhan maupun di mata hukum.

Sejak mengenal Tuhan Yesus aku menjalani kehidupanku yang baru dan aktif beribadah ke gereja. Tapi kedua orang tua-ku tidak setuju aku beribadah ke gereja. Aku terpaksa mengikuti keinginan orang tuaku. Aku bedoa, ”Tuhan kalau aku tidak beribadah bagaimana aku bisa mengenal Engkau ? berikan petunjuk-Mu Tuhan agar aku bisa beribadah ke gereja.”

Minggu berikutnya aku bertanya kepada Mama, “Mama bolehkah aku pergi ke gereja ?”  Mama melarangku. Minggu kedua berikutnya aku bertanya lagi kepada Mama, tapi Mama masih  melarangku hingga sampai minggu ke empat barulah Mama mengijinkan aku pergi ke gereja, asalkan aku tidak membawa anakku ikut serta beribadah ke gereja.

Hari demi hari berlalu, aku sempat mengalami suatu masalah beban hidup yang membawaku kembali kepada kehidupanku  yang sebelumnya, aku seolah-olah tidak mengenal Tuhan lagi, kehidupanku jauh dari Tuhan lagi, sehingga aku tidak merasakan kedamaian (galau). Seperti anak yang hilang.

Kemudian sesuatu terjadi pada diri Mamaku. Mama mengalami suatu pendarahan yang tidak bisa berhenti.  Dokter mengatakan bahwa Mamaku harus dioperasi, dan rahimnya harus diangkat. Kalau rahim Mama tidak diangkat maka kedua kaki Mama bengkak, dan perutnya menjadi besar.

Kemudian Papa dan Mama memutuskan untuk mengambil tindakan operasi terhadap Mama. Dalam proses operasi Mama sempat mengalami kekurangan darah.  Saat itu saya sedang berada di rumah, sedangkan Papa dan adikku yang berada di rumah sakit. Kami semua bingung. Akhirnya adikku  pergi ke PMI untuk diambil darahnya. Di rumah aku merasa panik, tidak tahu harus bagaimana, dalam kondisi  kritis seperti ini siapa yang bisa menolong ?

Saat itu aku teringat akan Ibu gembala gerejaku , terlintas di pikiranku untuk menelpon Ibu gembalaku.  Aku minta tolong Ibu gembala untuk mendoakan Mama  dan menceritakan kondisi Mama. Ibu gembala sempat menanyakan mengapa aku sudah lama tidak pergi ke gereja,  ada masalah apa ? “Tuhan itu baik, jika ada masalah ceritakan kepada Tuhan, karena Tuhan itu mengerti bahasa air mata. Tuhan itu sayang sama Dina, Tuhan mencari domba-dombaNya yang hilang” dan aku adalah salah satu dombaNya yang hilang itu. Tuhan mengijinkan pencobaan itu datang kepadaku itu karena Tuhan sayang padaku.

Kemudian aku menangis, dan merasa malu dan bersalah kepada Tuhan karena aku sudah mundur dari Tuhan. Ibu gembala mengajak aku berdoa bersama di telpon, supaya Mama dipulihkan  dan disembuhkan dari sakitnya.

Tak lupa Ibu gembala mengajak aku untuk kembali beribadah ke gereja.

Tidak lama kemudian telpon berdering kembali , dan ternyata dari adikku. Aku sangat kawatir jika terjadi  sesuatu dengan Mama. Aku bertanya “Bagaimana kondisi Mama?” Kemudian adikku mengatakan bahwa Mama sudah selesai dioperasi tanpa memerlukan darah dari adikku.

Puji Tuhan !! Operasi berjalan dgn lancar dan kondisi Mama baik. Dalam waktu beberapa hari Mama sudah bisa kembali ke rumah.

Sejak saat itu aku kembali aktif beribadah ke gereja, dan aku boleh mengajak anakku ke sekolah minggu. Aku sangat bersyukur untuk pertolongan Tuhan atas hidupku, Tuhan telah membawaku sebagai domba yang hilang untuk kembali kepadaNya.

Demikian kesaksian hidup saya, semoga bisa menguatkan iman saudara/i dalam Kristus, dan menjangkau banyak jiwa yang belum mengenal Tuhan Yesus.  Tuhan Yesus sangat baik. Tuhan Yesus telah menyelamatkan aku, bahkan sebelum aku mengenal Dia. Haleluyah !!!

Segala kemuliaan bagi Tuhan ! Terpujilah nama Tuhan Yesus selama-lamanya.

Shared by: Thio Ruben Andronikus.

Song: “A Heart like Yours” by: Cece Winans.

http://www.youtube.com/watch?v=PmprgCQXR1M&feature=related

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: