Filosofi Paku

29 Mar

2 Korintus 4:16-17

Pagi itu agak sedikit mendung, tetapi tidak menghalangi seorang bapak untuk mendatangi rumah pendetanya. Setelah berbasa-basi, ia berkata, “Saya sudah mengundurkan diri dari tempat dimana saya bekerja, Pak.” “Mengapa begitu ? Apa alasannya ?” tanya pendeta. “Habis, pimpinan saya sering marah-marah. Kadang-kadang penyebabnya masalah di rumah, tetapi saya yang jadi sasaran.” Jawabnya singkat. Karena keputusan sudah diambil, maka pendeta tidak lagi bisa memberikan nasihatnya. Akhirnya mereka melanjutkan pembicaraan dengan topik yang lain.

Lama setelah pertemuan itu, tak terdengar lagi berita tentang bapak tersebut. Setelah sekitar enam bulan, dia datang lagi ke rumah pendeta. “Sudah lama tidak kelihatan, ke mana saja, Pak ?” tanya pendeta. “Maaf, Pak, tidak memberitahu. Selama ini saya ikut teman saya yang mendapat tender untuk membangun beberapa rumah di sebuah perumahan baru di luar kota. Belum selesai semua sih, tetapi saya sudah tidak tahan,” jelasnya. “Mengapa ?” tanya pendeta keheranan. “Sama saja Pak sikapnya dengan pimpinan saya dulu,” jawabnya. Pendeta pun hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. Namun, hati gembala yang melekat pada diri pendeta tersebut membuatnya berusaha untuk mencari jalan keluar. Sejenak dia menelepon pendeta lain yang waktu itu membutuhkan seorang koster gereja. Singkat cerita bapak ini akhirnya menjadi koster gereja itu.

Bulan pertama tidak terdengar berita apa-apa. Tetapi, mulai bulan kedua sudah terdengar “laporan” negatif tentang bapak tersebut. Dan, pada bulan ketiga, bapak ini sudah mengundurkan diri dari pekerjaannya sebagai koster gereja. Tentu saja berita ini membuat pendeta ini kecewa dan bingung. Suatu kali bapak ini datang lagi ke rumah pendeta dan mengungkapkan alasan yang sama.

Tanpa pikir panjang pendeta ini masuk menuju lemari yang terletak di dapur dan kemudian kembali lagi dengan membawa sepotong papan, paku kecil dan palu. Dia meminta bapak itu untuk memaku papan itu sedikit saja, lalu menyuruh untuk menggoyang-goyang pakunya. Sudah pasti paku itu tercabut dengan mudah. Kemudian pendeta menyuruh bapak itu kembali untuk memaku lebih keras sampai paku itu tertancap lebih dalam. “Coba sekarang kamu goyang paku itu,” suruh pendeta. “Tidak bisa, pak,” jawabnya. Kemudian pendeta menjelaskan, “Paku ini tertancap semakin dalam dan menjadi kokoh karena kamu telah memukulnya dengan keras. Seharusnya kamu juga demikian semakin keras orang menekan kamu, kamu harus semakin tertancap kuat, menjadi kokoh dan tidak mudah goyah.”

Kalau kita melewatkan didikan melalui penekanan orang lain, kita tidak akan pernah menjadi dewasa. Tentu ketika tekanan itu datang, kita tidak akan tahan, karena itu mintalah pertolongan dan kekuatan yang dari Tuhan untuk dapat mengatasinya.

Doa

Bapa, aku sadar akan kelemahanku menghadapi tekanan. Oleh sebab itu, kuatkan aku, karena aku ingin menjadi orang yang kokoh dan berguna. Dalam nama Yesus aku berdoa. Amin.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: