Tetap Menyala – Nyala

28 Mar

Amsal 18:14-15

Perjalanan Houtman Z. Arifin sangat menarik dan inspiratif. Tahun 60-an ia merantau ke Jakarta. Karena tidak mendapat kesempatan bekerja di instansi mana pun, ia menjadi pedagang asongan. Suatu hari ketika beristirahat di sebuah kolong jembatan, dia memperhatikan kendaraan-kendaraan mewah yang dikendarai mereka yang berpakaian rapi dan berdasi.

Saat itulah Houtman menggantungkan cita-citanya setinggi langit, ia bertekad segera merubah nasibnya. Tanpa membuang waktu, Houtman mengirimkan lamaran kerja ke beberapa gedung perkantoran yang elite.

Houtman menyisihkan uang yang diperolehnya untuk membuat lamaran kerja. Suatu hari Houtman dipanggil oleh perusahaan terkemuka di dunia, Citybank, untuk mengisi posisi office boy (OB). Tugas utamanya adalah membersihkan ruangan kantor, wc, ruang kerja, dan ruangan lainnya. Houtman bangga dengan pekerjaannya, ada keyakinan di hatinya bahwa nasibnya pasti akan berubah. Di sela-sela tugasnya, Hotman membantu para staf dengan sukacita. Selepas jam kantor ia menambah pengetahuan dengan bertanya istilah-istilah perbankan.

Houtman belajar mengoperasikan mesin fotokopi sampai ia mahir. Suatu hari ketika petugas mesin fotokopi berhalangan masuk kerja, ia menggantikan tugasnya. Setelah itu Houtman kemudian naik jabatan dari OB menjadi petugas fotokopi. Tidak berhenti di situ, Houtman terus menambah pengetahuannya. Ia kerap menawarkan bantuan kepada para staf. Houtman sering diberi setumpuk dokumen, di mana ia harus membubuhkan stempel pada cek, giro, dan dokumen lainnya.

Selama mengerjakan tugas ia membaca dokumen yang ada dan semakin memahami istilah di dalam dunia perbankan. Houtman cepat belajar, selalu mengerjakan tugasnya dengan baik, dan ringan tangan membantu; staf pun tidak segan membagi ilmu kepadanya. Di hari “keberuntungan”, pejabat Citybank mengangkat Houtman menjadi staf di instansi itu. Pengangkatan Houtman sebagai staf menjadi berita heboh dan kontroversial, bahkan sesama rekan OB mencibirkannya. “Jika masuk OB, ya pensiun harus OB juga,” komentar seseorang yang sentimen.

Houtman tidak patah semangat, ia terus mengasah keterampilan dan ringan tangan sehingga kariernya melesat bak anak panah di tangan pahlawan. 19 tahun kemudian Houtman mencapai jabatan tertinggi di perusahaan elite itu, ia menjadi Vice President. Sebuah jabatan puncak Citybank di Indonesia, karena jabatan tertinggi di bank bertaraf internasional itu ada di USA. Jabatan President Director tidak mungkin dijabat oleh orang Indonesia. Mantan OB itu kini pensiun sebagai Vice President, dan dia hanya tamatan SMA.

Tak ada yang dapat mematahkan impian orang yang bersemangat untuk meraih impiannya. Peliharalah antusiasme di dalam diri kita karena antusias akan mendorong kita naik ke puncak tertinggi di dalam hidup ini. Biarlah semangat kita tetap menyala-nyala!

Doa

Jika aku di dalamMu dan Engkau di dalamku, aku cakap melakukan segala perkara. Terima kasih Tuhan Yesus, karena di dalam namaMu tidak ada yang mustahil bagiku. Amin

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: