Arsip | Maret, 2012

Kisah Tunawisma Di Depan Gereja

31 Mar

Yakobus 2:1-9

Di suatu Minggu pagi yang dingin, seorang tunawisma duduk di depan pintu gerbang sebuah gereja. Pakaiannya kumal dan kotor. Bau badannya menyebar kemana-mana. Janggutnya yang panjang dan tak terawat tumbuh berantakan di dagunya. Wajahnya penuh noda kehitaman. Topi yang dikenakannya sudah bolong-bolong dan tak kalah kotor dengan pakaiannya. Tunawisma itu juga tampak kedinginan. Tubuhnya menggigil.

Sepatunya yang sudah koyak di beberapa bagian tak mampu melindungi kakinya dari udara dingin. Tangannya tampak gemetar karena kelaparan. Tapi tak seorang pun peduli padanya. Beberapa jemaat yang hendak masuk ke gereja, malah menutupi hidung mereka. Tak tahan dengan aroma tak sedap yang menguar dari tubuhnya.

Seorang jemaat malah bergumam dalam hati : “Siapa sih gelandangan ini? Kenapa dibiarkan aja duduk di sini? Bikin rusak pemandangan aja.”

Seorang wanita cantik yang tampak alim melirik sinis ke arah si tunawisma sambil berkata kepada temannya, seorang pria tampan yang berpenampilan rapi dan wangi. “Aduh, gereja begini bagus kok bisa sih membiarkan tunawisma bau di depan pintu gerbang?”

Tak lama setelah semua jemaat masuk ke dalam gereja, pianis mulai memainkan lagu-lagu rohani yang merdu. Sang liturgis mulai memimpin pujian. Suasana begitu khidmat. Semua jemaat duduk manis sambil mulai bernyanyi dengan penuh penghayatan. Ketika akhirnya pujian dan penyembahan selesai, seseorang tampak berjalan memasuki gedung gereja. Semua kepala menoleh. Beberapa di antaranya menutup hidung. Oh, ternyata si tunawisma yang datang.

Anehnya, dia tidak duduk di salah satu kursi yang tersedia. Dia langsung berjalan menuju mimbar. Diambilnya mikrofon dan berkata : ” Selamat pagi, saudara-saudaraku. Apakah kalian melihat Tuhan di luar? Dia begitu bau, kedinginan dan tampak lapar. Tapi tak seorangpun mengajaknya masuk. Tak satupun yang peduli akan kehadiranNya. Bahkan, dia dicibir dan hendak diusir dari tempatnya beristirahat.”

Semua jemaat terkejut. Mereka baru menyadari bahwa sang tunawisma adalah pastor gereja mereka yang hari itu mendapat jadwal berkhotbah. Rupanya pastor mereka sedang menyamar menjadi seorang tunawisma.

*** A Life Testimony *** TUHAN YESUS MENYELAMATKAN AKU – BAHKAN SEBELUM AKU MENGENAL DIA ***

31 Mar

*** A Life Testimony *** Kesaksian ini ditulis dengan air mata. Seorang temanku (sebut saja namanya Dina Yolanda – bukan nama sebenarnya ) menceritakan kisah hidupnya, bagaimana Tuhan Yesus menyelamatkan dia dan secara ajaib membawa dirinya untuk mengenal Tuhan Yesus.

Saya hidup di keluarga yang benar-benar hancur. Aku tinggal bersama kedua orang tuaku dan aku memiliki seorang adik laki-laki, sebut saja namanya Jody. Papaku dulu tukang judi, sedangkan Mama harus membanting tulang untuk membesarkan kami. Aku kasihan melihat Mama, yang harus bekerja keras untuk membesarkan dan membiayai sekolah anak-anaknya. Sedangkan Papa tidak pernah mau tahu, kerjanya hanya menghambur-hamburkan uang untuk berjudi.

Aku sedih melihat Mama yang terus menerus disiksa bathinnya oleh Papa. Apalagi saat Papa kalah judi kami anak-anaknya menjadi sasaran amukan. Pukulan demi pukulan kami terima bahkan pernah Papa berkata pada Mama bahwa kami ini bukan anak-anaknya. Kami sering dipukul, terutama aku – anak yg paling besar – selalu kena amukan dari Papa.

Hidupku serasa hancur, setiap hari  selalu merasa ketakutan dan tidak pernah merasa tenang. Hampir setiap hari aku menangis, tangisan adalah makanan pokok aku setiap hari. Hari-hari terasa sulit aku jalani. Sungguh rumah bagaikan neraka bagiku.

Papaku mulai mulai berubah menjadi baik sejak  aku menikah dan mempunyai anak. Aku menikah dengan seorang laki-laki pilihanku sendiri bernama Anton. Sejak pernikahanku dengan dia, tidak kusangka apa yang dialami Mama itu terjadi dalam rumah-tangga ku sendiri. Suamiku seorang pemabuk dan penjudi berat, dan suamiku suka berselingkuh.

Di usia kandunganku yang beranjak tiga bulan terjadi masalah pada keluarga suamiku. Tanpa disadari, kakaknya membuka rahasia suami saya. Kakaknya mengatakan bahwa suamiku sebenarnya sudah mempunyai seorang istri dgn dua orang anak. Mendengar hal tersebut aku merasa sangat terkejut, seakan tidak percaya, bagaikan disambar petir.

Untuk membuktikan hal tersebut kakaknya mempertemukan aku dengan istri  pertamanya serta kedua anaknya. Di sana istrinya berkata kepada saya bahwa dia meninggalkan Anton  karena dia berselingkuh dengan seorang mahasiswi  dari sebuah universitas di Jakarta. Tanpa aku sadari sejak menikah Anton masih berhubungan dengan mahasiswi itu. Mahasiswi  itu  (Y) sering  menelpon aku bahwa suamiku itu sedang berada bersamanya di hotel,  tapi aku tidak percaya apa yang dia katakan. Sampai akhirnya dia datang sendiri ke rumahku, dan mengatakan bahwa suamiku ada berhutang kepada orang tuanya sejumlah sekian dollar.

Orang tuaku tidak percaya bahwa suamiku itu meminjam uang segitu banyaknya untuk apa? Dia (Y) mengatakan bhw suamiku pinjam uang untuk sewa rumah dan biaya hidup mereka berdua. Mamaku terkejut dan mengatakan bahwa “Kalian yang menikmati kesenangannya, mengapa anak saya yang harus menanggungnya ?”

Akhirnya suamiku memutuskan untuk meninggalkan wanita itu. Tapi suamiku masih belum berubah, tetap berjudi dan mabuk-mabukan. Aku berusaha untuk mempertahankan keutuhan rumah tangga demi anak kami tercinta. Sampai di hari  kelahiran anakku, suamiku sama sekali tidak menemaniku dalam proses persalinan itu. Aku sendiri mengalami kesakitan yang luar biasa, tapi dia sama sekali tidak melihat anaknya, maupun menjenguk aku, dia tidak peduli, bahkan saat Mama menelponnya untuk datang, dia tidak berada di rumah.

Tiap hari dia selalu pulang pagi hari, dia tidak peduli dengan aku dan anakku.  Setiap dia pulang mulutnya selalu berbau alkohol. Bahkan susu anak pun dia tidak pernah membelikannya.

Pada saat anakku berusia sembilan bulan, kesabaranku sudah habis. Aku pergi membawa anakku meninggalkan suamiku ke rumah orang tuaku.  Aku tidak tahu apakah aku ini istrinya atau bukan, karena pernikahanku tidak sakral, tetapi hanya dilakukan di depan meja abu leluhur, bukan di tempat ibadah (vihara). Bahkan aku tidak mempunyai surat nikah.

Detik-detik itu sangat sulit untuk menjalani hidup. Akhirnya terpikir olehku untuk mengakhiri hidupku. Aku sempat meminum racun serangga. Dalam keadaan sekarat, orang tuaku membawaku ke rumah sakit. Di rumah sakit dokter mengatakan bahwa  kondisiku sudah terlambat untuk diselamatkan. “Lebih baik berdoa dan menunggu mujizat dari Tuhan, agar anak ini bisa selamat” Katanya.

Tapi kehendak Tuhan lain dengan apa yang dikatakan oleh dokter. Aku bisa pulih kembali,  namun setelah aku sadar aku bahkan menyalahkan Tuhan, “Mengapa Tuhan tidak mencabut nyawaku saja? Aku tidak mau hidup menderita seperti ini.” Kemudian dokter itu berkata “Kamu bodoh sekali, pikiran kamu sempit, kalau kamu mati maka suami kamu akan bersenang-senang dengan wanita lain, terus bagaimana dengan nasib anak kamu ?”

Setelah melewati kejadian itu hidupku tetap saja tidak merasa tenang, bahkan timbul rasa benci yang teramat sangat di hatiku, sehingga aku menutup diri pada semua laki-laki. Aku menganggap semua laki-laki itu sama jahatnya seperti suamiku.

Dan aku menganggap Tuhan itu tidak adil, Aku menjalani hidup ini sendiri, tanpa ada seseorang untuk aku bisa mencurahkan isi hatiku. Saat anakku mulai kelas satu SD, aku mengantar anakku berangkat sekolah. Tanpa aku sadari sewaktu pulang mengantar anakku sekolah, aku tidak menuju ke rumahku, namun menuju ke sebuah gereja.

Saat aku berdiri tepat di depan gereja,  salah satu pengurus gereja itu keluar menemui aku dan bertanya kepadaku “Apa yang bisa saya bantu?” Kemudian dia mempersilahkan aku masuk, namun  aku menolaknya. Aku sempat berdiri lama di depan gereja itu – seperti ada dorongan yang sangat kuat yang memaksa aku untuk masuk ke dalam gereja itu.

Saat kakiku melangkah masuk ke dalam gereja itu aku merasakan sesuatu yang  berbeda yang tidak pernah aku rasakan sebelumnya, yaitu rasa ketenangan. Di dalam gereja itu aku merasa tenang dan damai.

Aku melihat gambar sosok seseorang yang kepala-Nya memakai mahkota duri. Aku memandang-Nya lamaaa… sekali. Dalam hatiku bertanya … “Siapa Dia? Mengapa saat aku melihat-Nya aku merasa nyaman, tenang,  yang tidak pernah aku rasakan sebelumnya ?”

Tanpa sadar aku memanggilnya “Tuhan, Tuhan, Tuhan (tiga kali aku memanggil -Nya Tuhan), ampuni aku…aku bersalah dan berdosa kepadaMu.”

Saat itu juga pengurus gereja tadi melihat aku menangis dan menghampiriku dan bertanya “Ada apa Ibu menangis ? Apa ada akar kepahitan dalam hati Ibu sehingga Ibu menangis ? Apa agama Ibu ?”. Aku menjawab “Agamaku Budha”.

Lalu aku berkata lagi kepadanya “Siapa yang berada di gambar tersebut ? Mengapa dia diberikan mahkota duri?”

Dia menjawab “Itu Tuhan Yesus, Dia pernah hidup di bumi 2000 tahun yang lalu dan Dia pernah ada untuk kita”. Kemudian aku menjawab bahwa aku ingin mengenal Dia. Lalu dia menjelaskan siapa itu  Tuhan Yesus dan membacakan Firman Tuhan di perjanjian baru di kitab Matius. Di situ dia menceritakan kelahiran Tuhan Yesus sampai dengan kematian Nya.

Di situlah aku merasa sangat bersalah dan berdosa,  dan apa yang telah aku alami dan lakukan adalah kesalahanku sendiri, karena itu pilihanku sendiri yang menjerumuskan diriku sendiri ke dalam kesengsaraan.

Aku ingin lebih mengenal-Nya, mengenal siapa Yesus. Aku bertanya kepadanya, kapan jam ibadah di gereja itu.

Kemudian pada hari minggu aku mencoba untuk beribadah ke sana. Di sana aku merasakan kedamaian dan ketenangan.

Lalu aku berkata kepada Pendeta di gereja itu bahwa aku ingin menjadi seorang kristiani dan dibaptis. Kemudian Pendeta itu mengatakan kepadaku bahwa aku harus belajar Firman Tuhan terlebih dahulu kurang lebih selama satu bulan.

Kurang dari satu bulan, Pendeta tersebut melihat kesungguhan hatiku utk mengenal Tuhan Yesus, maka dia segera membaptis aku.

Sebelum dibaptis dia bertanya kepadaku apakah ada akar kepahitan yang belum aku utarakan kepadanya ? Kemudian aku menceritakan kisah hidupku kepada Pendeta tersebut. Lalu Pendeta itu bertanya kepadaku, dapatkah aku memaafkan suamiku ? kemudian aku menjawab “Tidak mungkin dan tidak bisa aku memaafkannya.”  Pendeta itu mengatakan kepadaku bahwa jika aku tidak bisa memaafkan suamiku maka Tuhan pun tidak bisa memaafkan aku. Aku berkata “Jika orang lain yang bersalah kepadaku, maka aku bisa memaafkannya. Tapi aku tidak bisa memaafkan suamiku.”

Pendeta itu menganjurkan aku untuk ikut sesi pelepasan. Kemudian aku mengikuti sesi pelepasan tersebut. Aku mengutarakan semua isi hatiku kepada Tuhan.

Pada saat itu tubuhku terasa panas. Mataku gelap, yang kurasakan hanya gemetar, seperti ada suara entah dari mana datangnya yang berkata “Kamu harus bisa memaafkan suami-mu”. Tapi di sisi lain ada suara yg  berkata “Jangan ! dia tidak pantas dimaafkan !”. Aku bingung harus mendengarkan suara yang mana. Tubuhku terasa panas, gemetar dan aku berteriak “Tuhan, Tuhan, Tuhan ampuni aku.”

Kemudian aku mendengar suara itu kembali “Dapatkah engkau memaafkan suami-mu ?” Aku menjawab “Demi pengorbanan Yesus, aku mau memaafkan suamiku.” Saat itu juga tidak ada lagi rasa benci dalam hatiku. Yang ada timbul rasa kasihan kepada suami, kalau saja dia mengenal Tuhan Yesus dia tidak akan seperti itu.

Tapi Tuhan berkata melalui Pendeta tersebut  bahwa dia bukanlah suami pilihan Tuhan untukku. Pernikahanku dengan Anton tidak sah di mata Tuhan maupun di mata hukum.

Sejak mengenal Tuhan Yesus aku menjalani kehidupanku yang baru dan aktif beribadah ke gereja. Tapi kedua orang tua-ku tidak setuju aku beribadah ke gereja. Aku terpaksa mengikuti keinginan orang tuaku. Aku bedoa, ”Tuhan kalau aku tidak beribadah bagaimana aku bisa mengenal Engkau ? berikan petunjuk-Mu Tuhan agar aku bisa beribadah ke gereja.”

Minggu berikutnya aku bertanya kepada Mama, “Mama bolehkah aku pergi ke gereja ?”  Mama melarangku. Minggu kedua berikutnya aku bertanya lagi kepada Mama, tapi Mama masih  melarangku hingga sampai minggu ke empat barulah Mama mengijinkan aku pergi ke gereja, asalkan aku tidak membawa anakku ikut serta beribadah ke gereja.

Hari demi hari berlalu, aku sempat mengalami suatu masalah beban hidup yang membawaku kembali kepada kehidupanku  yang sebelumnya, aku seolah-olah tidak mengenal Tuhan lagi, kehidupanku jauh dari Tuhan lagi, sehingga aku tidak merasakan kedamaian (galau). Seperti anak yang hilang.

Kemudian sesuatu terjadi pada diri Mamaku. Mama mengalami suatu pendarahan yang tidak bisa berhenti.  Dokter mengatakan bahwa Mamaku harus dioperasi, dan rahimnya harus diangkat. Kalau rahim Mama tidak diangkat maka kedua kaki Mama bengkak, dan perutnya menjadi besar.

Kemudian Papa dan Mama memutuskan untuk mengambil tindakan operasi terhadap Mama. Dalam proses operasi Mama sempat mengalami kekurangan darah.  Saat itu saya sedang berada di rumah, sedangkan Papa dan adikku yang berada di rumah sakit. Kami semua bingung. Akhirnya adikku  pergi ke PMI untuk diambil darahnya. Di rumah aku merasa panik, tidak tahu harus bagaimana, dalam kondisi  kritis seperti ini siapa yang bisa menolong ?

Saat itu aku teringat akan Ibu gembala gerejaku , terlintas di pikiranku untuk menelpon Ibu gembalaku.  Aku minta tolong Ibu gembala untuk mendoakan Mama  dan menceritakan kondisi Mama. Ibu gembala sempat menanyakan mengapa aku sudah lama tidak pergi ke gereja,  ada masalah apa ? “Tuhan itu baik, jika ada masalah ceritakan kepada Tuhan, karena Tuhan itu mengerti bahasa air mata. Tuhan itu sayang sama Dina, Tuhan mencari domba-dombaNya yang hilang” dan aku adalah salah satu dombaNya yang hilang itu. Tuhan mengijinkan pencobaan itu datang kepadaku itu karena Tuhan sayang padaku.

Kemudian aku menangis, dan merasa malu dan bersalah kepada Tuhan karena aku sudah mundur dari Tuhan. Ibu gembala mengajak aku berdoa bersama di telpon, supaya Mama dipulihkan  dan disembuhkan dari sakitnya.

Tak lupa Ibu gembala mengajak aku untuk kembali beribadah ke gereja.

Tidak lama kemudian telpon berdering kembali , dan ternyata dari adikku. Aku sangat kawatir jika terjadi  sesuatu dengan Mama. Aku bertanya “Bagaimana kondisi Mama?” Kemudian adikku mengatakan bahwa Mama sudah selesai dioperasi tanpa memerlukan darah dari adikku.

Puji Tuhan !! Operasi berjalan dgn lancar dan kondisi Mama baik. Dalam waktu beberapa hari Mama sudah bisa kembali ke rumah.

Sejak saat itu aku kembali aktif beribadah ke gereja, dan aku boleh mengajak anakku ke sekolah minggu. Aku sangat bersyukur untuk pertolongan Tuhan atas hidupku, Tuhan telah membawaku sebagai domba yang hilang untuk kembali kepadaNya.

Demikian kesaksian hidup saya, semoga bisa menguatkan iman saudara/i dalam Kristus, dan menjangkau banyak jiwa yang belum mengenal Tuhan Yesus.  Tuhan Yesus sangat baik. Tuhan Yesus telah menyelamatkan aku, bahkan sebelum aku mengenal Dia. Haleluyah !!!

Segala kemuliaan bagi Tuhan ! Terpujilah nama Tuhan Yesus selama-lamanya.

Shared by: Thio Ruben Andronikus.

Song: “A Heart like Yours” by: Cece Winans.

http://www.youtube.com/watch?v=PmprgCQXR1M&feature=related

Tetaplah Bercerita, Jika Ayah Bermimpi Tolong Jangan Bangunkan Dia

31 Mar

Jika Ayah sedang Bermimpi, Tolong Jangan Bangunkan Dia! Seorang gadis kecil berdiri di belakang kumpulan orang banyak, sementara ayahnya sedang bersaksi tentang perbuatan Tuhan di dalam hidupnya. Pria itu bercerita bahwa Tuhan telah menarik dan menyelamatkannya dari gaya hidup seorang pemabuk.

Belum selesai ia bersaksi, satu dari sekian banyak orang yang sedang mendengar kesaksian mantan pemabuk ini menyela dan berkata : “Pak, kenapa Anda tidak duduk dan diam saja? Anda hanyalah pemabuk yang sedang bermimpi!”

Si gadis itu mendekati pemuda tersebut dan sambil menarik-narik baju pemuda yang cukup tinggi itu ia berkata : “Tuan, yang Anda teriaki itu adalah ayah saya. Anda mengatakan ayah saya seorang pemabuk? Ayah saya dulu memang pemabuk dan hampir setiap malam memukuli ibuku. Ketika dipukuli ibu hanya bisa menangis sepanjang malam. Tuan, kami juga tidak memiliki pakaian yang bagus untuk dipakai karena ayah membelanjakan semua uangnya untuk membeli minuman keras. Dulu saya tidak memiliki sepatu untuk dipakai ke sekolah, tetapi sekarang lihatlah sepatu dan baju ini! Apakah Tuan melihat wanita yang sedang tersenyum di sana? Itu adalah ibu saya. Dia tidak menangis lagi sepanjang malam, bahkan sekarang dia bernyanyi sepanjang hari”, kata gadis itu dengan rasa bangga.

“Tuan tahu siapa yang telah melakukan semua perbuatan besar itu? Yesus yang telah mengubah ayah! Dia juga telah mengubah suasana rumah kami menjadi indah. Jadi Tuan, jika ayah sedang bermimpi, tolong jangan bangunkan dia!”, lanjut gadis kecil itu dengan penuh percaya diri.

Tetaplah bercerita tentang perbuatan dan perubahan yang dikerjakan Kristus dalam idup kita di setiap kesempatan. Ketika kita bersaksi, Roh Kudus akan bekerja di hati orang yang rindu diubahkan sehingga murid Kristus akan bertambah satu orang lagi (Yoh 16:8).  Amin.

Cuti

30 Mar

Dan persekutuan kami adalah persekutuan dengan Bapa dan dengan Anak-Nya, Yesus Kristus. 1 Yoh 1:3

Adakah orang Kristen yang hidup begitu dekat dengan Allah atau yang begitu saleh sehingga ia dapat cuti bersekutu dengan Allah ?

Ide tersebut menggelikan, bukan ? Sungguh aneh ketika memikirkan bahwa perjalanan hidup kita dengan Allah berlangsung setiap hari, setiap saat.

Namun pada kenyataannya, bukankah kita sering mengikuti kemauan kita sendiri dan mengabaikan persekutuan dengan-Nya ?

Prinsip yang sama juga berlaku dalam dunia olahraga. Grant Hill, seorang pemain basket profesional ternama, berkomentar tentang jadwal latihannya selama tidak ada pertandingan: ” Saya, tak dapat cuti latihan selama seminggu. Sehari saya cuti, rasanya keahlian saya sedikit berkurang”.

Bila kita sebagai orang Kristen “cuti” bersekutu dengan Allah, kitapun pasti merasakan sesuatu yang “sedikit berkurang”. Kita akan kehilangan tuntunan dari firman-Nya yang kita rasakan melalui doa.

Kita akan cenderung mengabaikan prioritas kita dan menghayutkan kita ke wilayah – wilayah terlarang yang dapat mengarahkan kita kepada kejatuhan.

Seberapapun lamanya anda menjadi Anak Allah yang beriman kepada Kristus, anda harus tetap menjaga hubungan dengan-Nya. Ini bukan hanya dengan setia beribadah hari minggu ataupun bersaat teduh setiap hari.

Ini merupakan suatu hubungan yang dipelihara terus menerus.”Cuti” bersekutu dengan-Nya akan secara serius melemahkan hidup Anda.

Waktu yang kita gunakan untuk bersekutu dengan Allah setiap hari di dalam doa akan menguatkan kita untuk menghadapi cobaan si jahat yang menjebak. -sper

Filosofi Paku

29 Mar

2 Korintus 4:16-17

Pagi itu agak sedikit mendung, tetapi tidak menghalangi seorang bapak untuk mendatangi rumah pendetanya. Setelah berbasa-basi, ia berkata, “Saya sudah mengundurkan diri dari tempat dimana saya bekerja, Pak.” “Mengapa begitu ? Apa alasannya ?” tanya pendeta. “Habis, pimpinan saya sering marah-marah. Kadang-kadang penyebabnya masalah di rumah, tetapi saya yang jadi sasaran.” Jawabnya singkat. Karena keputusan sudah diambil, maka pendeta tidak lagi bisa memberikan nasihatnya. Akhirnya mereka melanjutkan pembicaraan dengan topik yang lain.

Lama setelah pertemuan itu, tak terdengar lagi berita tentang bapak tersebut. Setelah sekitar enam bulan, dia datang lagi ke rumah pendeta. “Sudah lama tidak kelihatan, ke mana saja, Pak ?” tanya pendeta. “Maaf, Pak, tidak memberitahu. Selama ini saya ikut teman saya yang mendapat tender untuk membangun beberapa rumah di sebuah perumahan baru di luar kota. Belum selesai semua sih, tetapi saya sudah tidak tahan,” jelasnya. “Mengapa ?” tanya pendeta keheranan. “Sama saja Pak sikapnya dengan pimpinan saya dulu,” jawabnya. Pendeta pun hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. Namun, hati gembala yang melekat pada diri pendeta tersebut membuatnya berusaha untuk mencari jalan keluar. Sejenak dia menelepon pendeta lain yang waktu itu membutuhkan seorang koster gereja. Singkat cerita bapak ini akhirnya menjadi koster gereja itu.

Bulan pertama tidak terdengar berita apa-apa. Tetapi, mulai bulan kedua sudah terdengar “laporan” negatif tentang bapak tersebut. Dan, pada bulan ketiga, bapak ini sudah mengundurkan diri dari pekerjaannya sebagai koster gereja. Tentu saja berita ini membuat pendeta ini kecewa dan bingung. Suatu kali bapak ini datang lagi ke rumah pendeta dan mengungkapkan alasan yang sama.

Tanpa pikir panjang pendeta ini masuk menuju lemari yang terletak di dapur dan kemudian kembali lagi dengan membawa sepotong papan, paku kecil dan palu. Dia meminta bapak itu untuk memaku papan itu sedikit saja, lalu menyuruh untuk menggoyang-goyang pakunya. Sudah pasti paku itu tercabut dengan mudah. Kemudian pendeta menyuruh bapak itu kembali untuk memaku lebih keras sampai paku itu tertancap lebih dalam. “Coba sekarang kamu goyang paku itu,” suruh pendeta. “Tidak bisa, pak,” jawabnya. Kemudian pendeta menjelaskan, “Paku ini tertancap semakin dalam dan menjadi kokoh karena kamu telah memukulnya dengan keras. Seharusnya kamu juga demikian semakin keras orang menekan kamu, kamu harus semakin tertancap kuat, menjadi kokoh dan tidak mudah goyah.”

Kalau kita melewatkan didikan melalui penekanan orang lain, kita tidak akan pernah menjadi dewasa. Tentu ketika tekanan itu datang, kita tidak akan tahan, karena itu mintalah pertolongan dan kekuatan yang dari Tuhan untuk dapat mengatasinya.

Doa

Bapa, aku sadar akan kelemahanku menghadapi tekanan. Oleh sebab itu, kuatkan aku, karena aku ingin menjadi orang yang kokoh dan berguna. Dalam nama Yesus aku berdoa. Amin.

Foto Anda Di Meja Kerja Tuhan

28 Mar

Dosa membuat kita menghakimi diri sendiri dengan tuduhan-tuduhan yang kejam dan pikiran-pikiran yang negatif. Dosa membuat kita tidak mengerti betapa Tuhan itu baik, betapa dia memiliki kasih dan pengampunan yang luar biasa besar, karena kita diciptakan segambar dengan Dia!

Seorang artis yang candu akan obat-obatan terlarang divonis terkena virus HIV. Dengan tubuh lemah ia terbaring dirawat di rumah sakit. Seorang temannya datang untuk menghibur dan mencoba menguatkan imannya, namun dosa yang menggunung telah membutakan mata hatinya, kini ia merasa sangat putus asa.”Aku sangat berdosa! Aku telah menghancurkan hidupku sendiri dan kehidupan banyak orang di sekelilingku. Sekarang aku tersiksa dan tidak ada lagi yang bisa kuperbuat untuk memperbaikinya. Aku akan masuk Neraka!” Mendengar itu lidah temannya kelu, dalam kesunyian ia melihat sebuah potret gadis kecil di meja yang ada di samping tempat tidur si artis.

“Foto siapa ini?” Tanyanya memecah keheningan. “Itu putriku. Dialah mutiara hidupku. Satu-satunya yang terindah yang kumiliki.” Jawabnya sambil tersenyum. “Apakah kau akan menolongnya jika dia mendapat kesulitan? Apakah kau akan memaafkannya apabila dia melakukan kesalahan? Apakah kamu masih menyayanginya?” tanya temannya bertubi-tubi. “Tentu saja. Aku akan melakukan apa pun demi dia. Mengapa kau tanya seperti ini?” tanya si artis kembali. “Aku ingin kau tahu bahwa Tuhan juga punya fotomu di meja kerjaNya, dan Dia akan melakukan lebih dari apa yang akan kau lakukan untuk putrimu yang cantik itu,”kata temannya. Jawaban yang singkat ini membuat si artis tertegun. Sudah lama ia tidak berpikir tentang Tuhan, bahkan tidak pernah mengucapkan sepotong doa kepada Sang Pencipta yang tetap menyimpan fotonya di meja kerjaNya.

Tuhan sangat mengasihi kita. Seburuk apa pun hidup kita atau sebesar apa pun pelanggaran yang sudah kita kerjakan, Dia tetap mau mengampuni kita! Kasih Tuhan yang begitu besar akan menghapus semua dosa yang kita perbuat tatkala kita memberanikan diri datang mohon pengampunan dan penyucian oleh darahNya yang kudus.

“Marilah, baiklah kita beperkara! — firman TUHAN — Sekalipun dosamu merah seperti kirmizi, akan menjadi putih seperti salju; sekalipun berwarna merah seperti kain kesumba, akan menjadi putih seperti bulu domba.” (Yesaya 1:18).

KasihNya sangat besar, itu dibuktikanNya dengan kerelaan menanggung sengsara sebelum Ia disalibkan dan mati sebagai Pribadi yang terkutuk di kayu salib. “Kristus telah menebus kita dari kutuk hukum Taurat dengan jalan menjadi kutuk karena kita, sebab ada tertulis: “Terkutuklah orang yang digantung pada kayu salib!” (Galatia 3:13)

Undanglah Yesus masuk ke dalam hidup kita sebagai Tuhan dan Juruselamat sekarang ini juga. Dia tidak hanya memiliki foto kita di meja kerjaNya, tetapi juga keseluruhan hidup kita. Kita selalu ada di hati, pikiran, dan di dalam rencanaNya!

 Doa

Tuhan, betapa hatiku berterima kasih untuk pengampunan dan penebusan yang telah Engkau kerjakan. Dalam nama Tuhan Yesus, aku mau mengikutMu seumur hidupku. Amin

Tetap Menyala – Nyala

28 Mar

Amsal 18:14-15

Perjalanan Houtman Z. Arifin sangat menarik dan inspiratif. Tahun 60-an ia merantau ke Jakarta. Karena tidak mendapat kesempatan bekerja di instansi mana pun, ia menjadi pedagang asongan. Suatu hari ketika beristirahat di sebuah kolong jembatan, dia memperhatikan kendaraan-kendaraan mewah yang dikendarai mereka yang berpakaian rapi dan berdasi.

Saat itulah Houtman menggantungkan cita-citanya setinggi langit, ia bertekad segera merubah nasibnya. Tanpa membuang waktu, Houtman mengirimkan lamaran kerja ke beberapa gedung perkantoran yang elite.

Houtman menyisihkan uang yang diperolehnya untuk membuat lamaran kerja. Suatu hari Houtman dipanggil oleh perusahaan terkemuka di dunia, Citybank, untuk mengisi posisi office boy (OB). Tugas utamanya adalah membersihkan ruangan kantor, wc, ruang kerja, dan ruangan lainnya. Houtman bangga dengan pekerjaannya, ada keyakinan di hatinya bahwa nasibnya pasti akan berubah. Di sela-sela tugasnya, Hotman membantu para staf dengan sukacita. Selepas jam kantor ia menambah pengetahuan dengan bertanya istilah-istilah perbankan.

Houtman belajar mengoperasikan mesin fotokopi sampai ia mahir. Suatu hari ketika petugas mesin fotokopi berhalangan masuk kerja, ia menggantikan tugasnya. Setelah itu Houtman kemudian naik jabatan dari OB menjadi petugas fotokopi. Tidak berhenti di situ, Houtman terus menambah pengetahuannya. Ia kerap menawarkan bantuan kepada para staf. Houtman sering diberi setumpuk dokumen, di mana ia harus membubuhkan stempel pada cek, giro, dan dokumen lainnya.

Selama mengerjakan tugas ia membaca dokumen yang ada dan semakin memahami istilah di dalam dunia perbankan. Houtman cepat belajar, selalu mengerjakan tugasnya dengan baik, dan ringan tangan membantu; staf pun tidak segan membagi ilmu kepadanya. Di hari “keberuntungan”, pejabat Citybank mengangkat Houtman menjadi staf di instansi itu. Pengangkatan Houtman sebagai staf menjadi berita heboh dan kontroversial, bahkan sesama rekan OB mencibirkannya. “Jika masuk OB, ya pensiun harus OB juga,” komentar seseorang yang sentimen.

Houtman tidak patah semangat, ia terus mengasah keterampilan dan ringan tangan sehingga kariernya melesat bak anak panah di tangan pahlawan. 19 tahun kemudian Houtman mencapai jabatan tertinggi di perusahaan elite itu, ia menjadi Vice President. Sebuah jabatan puncak Citybank di Indonesia, karena jabatan tertinggi di bank bertaraf internasional itu ada di USA. Jabatan President Director tidak mungkin dijabat oleh orang Indonesia. Mantan OB itu kini pensiun sebagai Vice President, dan dia hanya tamatan SMA.

Tak ada yang dapat mematahkan impian orang yang bersemangat untuk meraih impiannya. Peliharalah antusiasme di dalam diri kita karena antusias akan mendorong kita naik ke puncak tertinggi di dalam hidup ini. Biarlah semangat kita tetap menyala-nyala!

Doa

Jika aku di dalamMu dan Engkau di dalamku, aku cakap melakukan segala perkara. Terima kasih Tuhan Yesus, karena di dalam namaMu tidak ada yang mustahil bagiku. Amin