Tak Perlu Menggerutu

26 Feb

Rose tidak sabar ingin segera turun dari kereta api yang membawanya dari Kalamazoo, Michigan, ke Chicago, Illinois. Ia termasuk dalam sepuluh orang utusan dari gerejanya yang diundang untuk berpartisipasi dalam kunjungan ke beberapa keluarga di daerah terpencil. Ia bertugas untuk memasak, bermain bersama anak – anak, dan mengurusi orang – orang yang berusia lanjut.

Rose tidak bisa dikatakan masih muda, tetapi fisiknya masih kuat dan cekatan. Ia mengantongi banyak pengalaman hidup yang dapat dibagikannya kepada keluarga-keluarga miskin yang hidup dalam kekurangan – beberapa dari mereka bahkan tampak mengenaskan secara fisik dan mental.

Pada malam pertama di sana, Rose dengan sukarela memimpin ibadah dan menyiapkan ruangan untuk pemahaman Alkitab. Ia merasa nyaman berhadapan dengan sebuah kelompok, khususnya pada saat ia menyampaikan Firman Allah kepada orang-orang itu. Saat akan mengetes mikrofon dan meletakkan beberapa kursi di tempatnya, salah seorang pendeta gereja disana mendekatinya. “Aku dengar Anda ahli membuat sup daging” katanya. “Aku ingin Anda menjadi penanggung jawab di dapur. Disana berantakan sekali. Salah seorang diaken mengatakan bahwa Anda dapat membuat masakan dalam waktu singkat – bahkan untuk orang banyak.”

“Tetapi aku sedang mengerjakan….” Ia menunjukkan ruangan yang sedang diatur.

“Tidak masalah,” sahutnya. “Kami akan memanggil sesorang untuk menyelesaikannya.” Orang itupun berlalu.

Rose merasa terhina. Laki-laki selalu begitu, gerutunya. Perempuan disuruh kerja di dapur dan laki-laki beraksi didepan. “Ini tidak adil, Tuhan !!!” keluhnya. Ia merasa terpanggil untuk bercerita tentang Yesus kepada orang banyak, bukannya terjebak di depan kompor usang di sebuah dapur tua. Tetapi ia tidak punya pilihan. Pendeta itu secara tegas telah menyuruhnya memask makanan. Ia pun melangkah menuju dapur. Ia mengupas wortel, mencincang daging, memotong kentang – sembari menggerutu pada setiap hentakan pisau.

Kemudian sesuatu yang menakjubkan terjadi. Para Ibu, ayah, anak – anak kecil, para remaja, anak laki-laki dan anak perempuan usia tanggung berjalan bergandengan tangan di depan jendela dapur dalam perjalanan menuju ruang pertemuan. Dengan latar belakang matahari yang sedang terbenam berkilau dan musik lembut mulai mengalun dari alat pengeras suara. “Yesus sayang padaku, Alkitab mengajariku.”

Rose berhenti sejenak, melihat keluar dan menyimak. Mengharukan! Orang-orang itu bersama-sama berjalan dan bernyanyi sebelum mendengarkan Firman Tuhan. Apa yang kami harapkan sedang terjadi.

Kelompok itu melayani orang-orang ini melalui kehadiran mereka. Keluarga-keluarga itu senang sekali menyamakan nada suara mereka serta kecepatan langkah mereka.

“Beberapa saat lalu aku tidak tahu misi apa yang harus kulakukan,” Rose merenung. “Tadinya aku ingin melayani Allah dan orang-orang ini dengan caraku sendiri, bukan dengan cara Allah.”

Rose berbalik menghadap kompor dan ketel besar untuk merebus di tungku bagian belakang. Ia menariknya ke depan, menambah beberapa wortel, tomat, dan sekaleng jagung. Bayangkan saja! Aku menjadi “juru masak hari ini” di dapur Tuhan. Sungguh merupakan kehormatan !”

Rose memasukkan sendok sayur ke dalam panci dan mencicipi kuahnya sedikit. Luar biasa, ini adalah sup terbaik yang pernah dimasaknya !

Renungan

Sebab Kerajaan Allah bukanlah soal makanan dan minuman, tetapi soal kebenaran, damai sejahtera dan sukacita dari Roh Kudus (Rm 14:17)

Doa

Tuhan, terima kasih karena Engkau telah menunjukkan kepadaku bahwa agendaku lebih berisi hal-hal yang menyenangkan dan melayani diriku sendiri ketimbang melakukan hal-hal yang membawa berkat dan menguatkan umatMu. Bantu aku memperbaiki cara hidupku yang egois dan bersandar pada tuntunan-Mu. Dalam nama Yesus. Amin.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: