Sedia Payung Sebelum Hujan – Kisah Mengharukan Faduma Sakow Abdullah

15 Des

Mazmur 119:105

Faduma Sakow Abdullah adalah seorang janda dengan lilima orang anak. Ia melepas kan diri dari bencana kelaparan di Somalia dengan melakukan perjalanan ke Camp Perlindungan di Kenya, yang memakan waktu perjalanan 36 hari.

Dia harus menempuh perjalanan yang sangat berbahaya, melewati wilayah yang gersang dan kering, hanya untuk bertahan hidup dikarenakan tidak adanya hujan yang turun selama bertahun – tahun di Somalia.

Hanya tinggal satu hari perjalanan sebelum mereka mencapai Camp Perlindungan, anaknya yang berusia 4 dan 5 tahun meninggal dikarenakan dehidrasi dan kelaparan.

Dia harus meninggalkan jasad anaknya di bawah pohon dengan tidak dikubur, sehingga dia dapat melanjutkan perjalanannya demi 3 orang anaknya begitu saja di pinggir jalan.

“Tidak pernah terpikirkan oleh saya bahwa saya hidup untuk melihat hal yang mengerikan seperti ini.” Dia berujar dengan air mata yang mengalir.

Demikian juga Antonio Guterress, Kepala Agency Camp Perlindungan berkata, “Saya tidak pernah melihat orang-orang hidup dalam situasi yang begitu tanpa harapan.”

Kita sering menggerutu dihadapan Tuhan, bahwa hidup yang kita jalani terasa berat dan tiada harapan. Kita bergelut dengan persolan seputar rumah tangga, pergaulan, anak-anak yang membangkan, perasaan yang pedih dan penuh kekecewaan.

Namun, hidup yang kita jalani tidaklah seberapa bila dibandingkan dengan kepedihan Faduma, yang menyaksikan anak-anaknya mati kelaparan dan harus meninggalkannya di bawah pohon karen berpacu waktu demi keselamatan anak-anaknya yang lain.

Situasi kehidupan yang keras yang membuatnya harus mampu menghapus air matanya yang jatuh di bawah pohon demi meraih secercah senyum pengharapan di Camp Perlindungan.

Dibalik penderitaan kita, masih banyak orang-orang yang jauh mengalami penderitaan hidup yang tiada tara.

Jadi mengapa kita : membiarkan diri menjadi bungkuk atas beban pendeirtaan kita; tidak dapat melihat penderitaan sebagai harta rohani terpendam; tidak terperangkap dengan sikap mengasihani diri dan menyalahkan Tuhan ?

Scoot Hamilton berkata, “The only disability in life is a bad attitude.” Atau satu-satunya kelumpuhan dalam diri adalah sebuah sikap hidup yang salah.

Dan satu-satunya yang dapat membangun sikap hidup yang benar, hanyalah firman Tuhan. Kala hidup tertancap kuat dalam firman-nya, maka Penjaga yang tak pernah terlelap tidak akan membiarkan kita goyah.

Jangan badai menjadi hal yang akan menyadarkan kita betapa pentingnya Firman Tuhan. Tapi jadikanlah firman-Nya sebagai payung kehidupan ketika kita melewati derasnya hujan air mata.

Doa

Tuhan mampukan aku untuk hidup dalam firman-Mu karena firman-Mu adalah penyegar jiwa di saat badai datang menerpa, agar aku tidak mudah goyah. Dalam nama Yesus. Amin.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: