Seni Mendengar yang Efektif

13 Des

Dalam sebuah pelatihan diungkapkan :

“… Begitu anda menonton film nanti, perhatikan cara para bintang film berbicara kepada actor lainnya. Untuk menjadi seorang actor yang besar. Seorang harus mampu, baik menjadi seorang pendengar yang ulung maupun pembicara yang efektif.

Kata-kata pembicara tercermin dalam wajah pendengarnya bagaikan suatu cermin. Ia dapat mengambil suatu adegan dari pembicara kepasihannya dalam mendengarkan.

Seorang sutradara film terkenal pernah mengatakan bahwa banyak actor gagal menjadi bintang film karena mereka tidak pernah mempelajari seni mendengarkan secara kreatif”.

(Betgerr, 1995:88).

BANYAK BICARA SEDIKIT MENDENGAR

Berbicara sebagai keterampilan dasar manusia dalam berkomunikasi sering kita bahas, namun sangat sedikit yang mengulas bagaimana cara mendengar yang baik.

Barang siapa yang beriman pada Allah dan hari akhir maka ucapkanlah dengan kata-kata yang baik ataupun lebih baik diam.

Alasannya masuk akal, sebab kata-kata kita kelak akan dipertanggungjawabkan, sehingga kita senantiasa dituntut untuk berhati-hati dalam berbicara dan bahkan nabi Musa ketika berhadapan dengan Firaun mengungkapkan doa :

“…dan lepaskanlah kekakuan dari lidahku supaya mereka mengerti perkataanku

Sedangkan mendengar hampir sulit bisa dilakukan oleh kebanyakan orang, padahal dengan mendengarlah ilmu bisa diserap, sebuah masalah bisa dipecahkan dan sebuah gagasan bisa diwujudkan.

Oleh karena manusia diciptakan Allah dengan satu mulut dan dua pendengaran yang seharusnya proporsi mendengar harus lebih banyak daripada berbicara. Rata-rata para pemimpin dunia memiliki kemampuan mendengar yang baik, selain kemampuan berbicara.

Sebagaimana diungkapkan oleh Benjamin Franklin mengungkapkan :

“Mengingat bahwa dalam pembicaraan pengetahuan lebih banyak diperoleh melalui telinga daripada melalui mulut. Saya memberikan tempat kedua kepada sikap diam diantara keutamaan yang hendak saya kembangkan”.(Betgerr, 1995:92)

Sedangkan Frank Betgerr (1996) mengungkapkan bahwa :

“dalam pembicaraan, pengetahuan lebih banyak diperoleh melalui telinga daripada melalui mulut, saya memberikan tempat kedua kepada sikap diam diatara keutamaan yang hendak saya kembangkan”.

SENI MENDENGARKAN.

Ketika berbicara, biasanya kita mendengarkan dalam salah satu dari lima tingkat :

1. Kita mungkin mengabaikan orang itu dan benar-benar tidak mendengarkannya.

2. mungkin berpura-pura tidak mendengarkannya

3. Mendengarkan tapi lebih selektif pada bagian-bagian tertentu dari pembicaraan.

4. Mendengarkan secara atentif dan menaruh perhatian dan memfokuskan enegi pada kata-kata yang diucapkannya.

5. mendengarkan secara empatik, mendengarkan untuk mengerti tapi untuk menjawab persoalan yang ada. Dalam arti mendengar bukan hanya dengan telinga saja tetapi dengan mata dan hati.

Dengan melihat tingkatan mendengar diatas maka mendengarkan membutuhkan keterampilan khusus, sebagaimana berbicara. Karena mendengarkan adalah cerminan pribadi seseorang,

sebagaimana diungkapkan oleh David J. Schwartz (1996:154) mengungkapkan bahwa :

“… semakin besar orang yang bersangkutan, semakin cenderung ia mendorong anda untuk berbicara, semakin kecil orang yang bersangkutan semakin cenderung ia mengkhotbahi anda”.

Kebanyakan pemimpin yang baik didalam semua bidang kehidupan menghabiskan jauh lebih banyak waktu meminta nasehat dan meminta pendapat bawahannya daripada banyak berbicara.

Diantara keterampilan mendengar diungkapkan BS.Wibowo,dkk (2002:92) dari kupasan Geoff Nightingale dalam Synergenic antara lain :

Dengarkan gagasannya bukan fakta dan tanyalah diri sendiri apa yang pembicara maksudkan.

Nilailah isinya, bukan cara penyampaiannya.

Dengarkan dengan penuh harapan, jangan langsung kehilangan minat

Jangan cepat menarik kesimpulan

Sesuaikan pencatatan anda dengan pembicaraan

Pusatkan perhatian, jangan mulai bermimpi dan jagalah mata anda agar tetap tertuju pada pembicaraan.

Jangan mendahului pikiran pembicara, anda akan kehilangan jejak.

Dengarlah dengan sungguh-sungguh waspada dan bergairah.

Kendalikan emosi waktu mendengar

Bacalah fikiran anda, berlatihlah untuk menerima informasi baru.

Bernafaslah perlahan dan dalam-dalam

Jangan tegang santai sajalah.

Sedangkan menurut James K. Van Fleet (1996:179) dalam bukunya :

“Key to Success with people” mengungkapkan seni mendengar yang efektif sebagai berikut :

Berikan sepenuh hati pada orang lain

Mendengarkan dengan serius

Tunjukan minat pada perkataan orang

Usahakan bebas gangguan

Tunjukan kesabaran

Bukalah pikiran anda

Dengarkan setiap gagasan

Hargai isinya, bukan cara penyampaiannya.

Turunkan senapan anda

Belajarlah mendengarkan apa yang tersirat.

Sedangkan David J Swartz dalam bukunya “The Magic of Thinking Big” (1996: 154) mengungkapkan seni mendengar kedalam tiga tahapan dan untuk menguatkannya dengan cara bertanya dan mendengarkan :

Dorong orang lain berbicara

Uji pandangan anda dalam bentuk pertanyaan

Berkonsentrasilah pada apa yang dikatakan orang lain.

Demikianlah beberapa teknik dalam mendengar yang dalam praktiknya membutuhkan adanya jiwa besar. Mendengar dan bertanya bukan menunjukan kebodohan seseorang tetapi menunjukan kualitas hidupnya, apalagi bagi seorang pemimpin.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: