Arsip | Oktober, 2011

KASIH DALAM PERBUATAN

31 Okt

Marilah kita mengasihi bukan dengan perkataan atau dengan lidah, tetapi dengan perbuatan dan dalam kebenaran. (1 Yoh 3:18)

Sebagai orang percaya, kita adalah tangan dan kaki Tuhan Yesus di bumi ini. Tuhan ingin memakai kita untuk memberkati sesama. Dia ingin bekerja melalui kita, memperlihatkan kasih dan belas kasihNYA, dan menarik orang-orang kepadaNYA.

Perhatikan ayat di atas. Di situ dituliskan bahwa kasih itu bukan sekedar perkataan atau pikiran, melainkan tindakan. Kasih adalah tentang menjangkau dan memenuhi kebutuhan orang lain.

Terkadang, cara kita untuk dapat memenuhi kebutuhan orang lain sebenarnya sederhana saja. Kita bisa memberikan senyuman, pelukan, atau kata-kata yang membangkitkan semangat. Terkadang juga melalui pemberian materi. Apakah kita mau membayar belanjaan orang lain? Atau membantu mereka menemukan solusi atas permasalahan mereka yang sulit? Alkitab berkata bahwa kebaikan Tuhanlah yang akan memimpin orang mendekat kepadaNya, dan ternyata ada banyak cara untuk memperlihatkan kasih Tuhan.

Hari ini, melangkahlah dan tunjukkan kepada orang lain apa sesungguhnya kasih itu. Setiap tindakan kebaikan adalah benih yang akan menghasilkan tuaian dalam hidup kita sendiri. Biarlah kasih kita ada di dalam perkataan dan perbuatan kita, dan saksikanlah bagaimana Tuhan mencurahkan berkatNYA di setiap segi kehidupan kita! 

Copyright © 2011 by Joel Osteen. All rights reserved. Used by permission. International copyright secured.

KEMANAKAH TUJUAN HIDUP ANDA

31 Okt

Filipi 3:14  “dan berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan sorgawi dari Allah dalam Kristus Yesus.” 

Seorang pemuda dari desa berniat mengunjungi kerabatnya yang ada di Jakarta. Dengan membawa uang secukupnya, pergilah ia ke ibukota Indonesia tersebut menggunakan bis antar kota. Sesampainya di terminal bus terakhir, turunlah pemuda itu. Alangkah kagetnya ia ketika melihat keramaian yang ada di pemberhentian bus tersebut. Berbeda sekali dengan di daerahnya. 

Merasa sudah sampai di kota, dalam pikirannya ia akan dapat dengan mudah menemukan kerabatnya tersebut. Namun, dugaannya itu salah. Setiap orang yang ditanya pemuda tersebut, selalu menjawab, “memangnya alamatnya dimana?” tentu pertanyaan yang tidak bisa ia jawab karena ia sendiri tidak tahu alamatnya dimana.

Begitulah gambaran orang-orang yang percaya saat ini. Banyak dari kita merasa sudah yakin tujuan akhir hidup kita tanpa perlu mengeceknya lagi. Padahal walaupun keselamatan itu sudah kita terima dari Tuhan bukan berarti kita seenaknya berjalan di dalam hidup ini. Ada kalanya Anda harus berhenti sejenak dan bertanya kepada diri Anda sendiri, “kemanakah tujuan hidupku? Apakah aku berjalan ke arah yang salah?” Ini bukanlah pertanyaan ketidakpastian atau keraguan-raguan, tetapi ini adalah pertanyaan refleksi tentang hari-hari yang telah Anda lalui selama ini.

Ketika Anda telah menemukan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan itu dan ternyata menyadari bahwa memang Anda sedang salah arah, segeralah berbalik dari jalan itu dan akuilah dosa-dosa Anda kepada Kristus dan mohonlah pengampunan dari-Nya. Mintalah kepada-Nya agar Dia memimpin dan memberikan petunjuk kemanakah Anda harus melangkah. Jadikan Tuhan sebagai Tuhan atas hidup Anda maka Anda pasti akan berada di jalan kebahagiaan bersama Dia dan kini menuju ke kehidupan yang kekal penuh kemuliaan.

Hidup bergaul karib dengan Tuhan adalah keputusan paling tepat agar Anda tidak keliru melangkah di dunia ini. 

TUHAN YESUS Memberkati.

Zang Da – Kisah Perjuangan anak yang berbakti

31 Okt

Seorang anak di China pada 27 Januari 2006 mendapat penghargaan tinggi dari pemerintahnya karena dinyatakan telah melakukan “Perbuatan Luar Biasa”. Diantara 9 orang peraih penghargaan itu, ia merupakan satu-satunya anak kecil yang terpilih dari 1,4 milyar penduduk China.

Yang membuatnya dianggap luar biasa ternyata adalah perhatian dan pengabdian pada ayahnya, senantiasa kerja keras dan pantang menyerah, serta perilaku dan ucapannya yang menimbulkan rasa simpati.


Sejak ia berusia 10 tahun (tahun 2001) anak ini ditinggal pergi oleh ibunya yang sudah tidak tahan lagi hidup bersama suaminya yang sakit keras dan miskin. Dan sejak hari itu Zhang Da hidup dengan seorang Papa yang tidak bisa bekerja, tidak bisa berjalan, dan sakit-sakitan.

Kondisi ini memaksa seorang bocah ingusan yang waktu itu belum genap 10 tahun untuk mengambil tanggungjawab yang sangat berat. Ia harus sekolah, ia harus mencari makan untuk Papanya dan juga dirinya sendiri, ia juga harus memikirkan obat-obat yang yang pasti tidak murah untuk dia. Dalam kondisi yang seperti inilah kisah luar biasa Zhang Da dimulai.

Ia masih terlalu kecil untuk menjalankan tanggung jawab yang susah dan pahit ini. Ia adalah salah satu dari sekian banyak anak yang harus menerima kenyataan hidup yang pahit di dunia ini. Tetapi yang membuat Zhang Da berbeda adalah bahwa ia tidak menyerah.

Hidup harus terus berjalan, tapi tidak dengan melakukan kejahatan, melainkan memikul tanggungjawab untuk meneruskan kehidupannya dan Papanya. Demikian ungkapan Zhang Da ketika menghadapi utusan pemerintah yang ingin tahu apa yang dikerjakannya.

Ia mulai lembaran baru dalam hidupnya dengan terus bersekolah. Dari rumah sampai sekolah harus berjalan kaki melewati hutan kecil. Dalam perjalanan dari dan ke sekolah itulah, Ia mulai makan daun, biji-bijian dan buah-buahan yang ia temui.

Kadang juga ia menemukan sejenis jamur, atau rumput dan ia coba memakannya. Dari mencoba-coba makan itu semua, ia tahu mana yang masih bisa ditolerir oleh lidahnya dan mana yang tidak bisa ia makan.

Setelah jam pulang sekolah di siang hari dan juga sore hari, ia bergabung dengan beberapa tukang batu untuk membelah batu-batu besar dan memperoleh upah dari pekerjaan itu. Hasil kerja sebagai tukang batu ia gunakan untuk membeli beras dan obat-obatan untuk papanya.

Hidup seperti ini ia jalani selama 5 tahun tetapi badannya tetap sehat, segar dan kuat. Zhang Da merawat Papanya yang sakit sejak umur 10 tahun, ia mulai tanggungjawab untuk merawat papanya.

Ia menggendong papanya ke WC, ia menyeka dan sekali-sekali memandikan papanya, ia membeli beras dan membuat bubur, dan segala urusan papanya, semua dia kerjakan dengan rasa tanggungjawab dan kasih. Semua pekerjaan ini menjadi tanggungjawabnya sehari-hari.

Zhang Da menyuntik sendiri papanya. Obat yang mahal dan jauhnya tempat berobat membuat Zhang Da berpikir untuk menemukan cara terbaik untuk mengatasi semua ini. Sejak umur sepuluh tahun ia mulai belajar tentang obat-obatan melalui sebuah buku bekas yang ia beli.

Yang membuatnya luar biasa adalah ia belajar bagaimana seorang suster memberikan injeksi / suntikan kepada pasiennya. Setelah ia rasa mampu, ia nekat untuk menyuntik papanya sendiri. Sekarang pekerjaan menyuntik papanya sudah dilakukannya selama lebih kurang lima tahun, maka Zhang Da sudah terampil dan ahli menyuntik.

Ketika mata pejabat, pengusaha, para artis dan orang terkenal yang hadir dalam acara penganugerahan penghargaan tersebut sedang tertuju kepada Zhang Da, pembawa acara (MC) bertanya kepadanya,

“Zhang Da, sebut saja kamu mau apa, sekolah di mana, dan apa yang kamu rindukan untuk terjadi dalam hidupmu? Berapa uang yang kamu butuhkan sampai kamu selesai kuliah?

Besar nanti mau kuliah di mana, sebut saja. Pokoknya apa yang kamu idam-idamkan sebut saja, di sini ada banyak pejabat, pengusaha, dan orang terkenal yang hadir.

Saat ini juga ada ratusan juta orang yang sedang melihat kamu melalui layar televisi, mereka bisa membantumu!”

Zhang Da pun terdiam dan tidak menjawab apa-apa. MC pun berkata lagi kepadanya, “Sebut saja, mereka bisa membantumu.”

Beberapa menit Zhang Da masih diam, lalu dengan suara bergetar ia pun menjawab,

“Aku mau mama kembali. Mama kembalilah ke rumah, aku bisa membantu papa, aku bisa cari makan sendiri, Mama kembalilah!”

Semua yang hadir pun spontan menitikkan air mata karena terharu. Tidak ada yang menyangka akan apa yang keluar dari bibirnya. Mengapa ia tidak minta kemudahan untuk pengobatan papanya, mengapa ia tidak minta deposito yang cukup untuk meringankan hidupnya dan sedikit bekal untuk masa depannya?

Mengapa ia tidak minta rumah kecil yang dekat dengan rumah sakit? Mengapa ia tidak minta sebuah kartu kemudahan dari pemerintah agar ketika ia membutuhkan, pasti semua akan membantunya.

Mungkin apa yang dimintanya, itulah yang paling utama bagi dirinya. Aku mau Mama kembali, sebuah ungkapan yang mungkin sudah dipendamnya sejak saat melihat mamanya pergi meninggalkan dia dan papanya.

Kisah di atas bukan saja mengharukan namun juga menimbulkan kekaguman. Seorang anak berusia 10 tahun dapat menjalankan tanggung jawab yang berat selama 5 tahun. Kesulitan hidup telah menempa anak tersebut menjadi sosok anak yang tangguh dan pantang menyerah.

Zhang Da boleh dibilang langka karena sangat berbeda dengan anak-anak modern. Saat ini banyak anak yang segala sesuatunya selalu dimudahkan oleh orang tuanya. Karena alasan sayang, orang tua selalu membantu anaknya, meskipun sang anak sudah mampu melakukannya. Semoga memberi inspirasi. 🙂

Pesan Ibu – Andre Wongso

30 Okt

Suatu hari, tampak seorang pemuda tergesa-gesa memasuki sebuah restoran karena kelaparan sejak pagi belum sarapan. Setelah memesan makanan, seorang anak penjaja kue menghampirinya, “Om, beli kue Om, masih hangat dan enak rasanya!”

“Tidak Dik, saya mau makan nasi saja,” kata si pemuda menolak.

Sambil tersenyum si anak pun berlalu dan menunggu di luar restoran.

Melihat si pemuda telah selesai menyantap makanannya, si anak menghampiri lagi dan menyodorkan kuenya. Si pemuda sambil beranjak ke kasir hendak membayar makanan berkata, “Tidak Dik, saya sudah kenyang.”

Sambil berkukuh mengikuti si pemuda, si anak berkata, “Kuenya bisa dibuat oleh-oleh pulang, Om.”

Dompet yang belum sempat dimasukkan ke kantong pun dibukanya kembali. Dikeluarkannya dua lembar ribuan dan ia mengangsurkan ke anak penjual kue. “Saya tidak mau kuenya. Uang ini anggap saja sedekah dari saya.”

Dengan senang hati diterimanya uang itu. Lalu, dia bergegas ke luar restoran, dan memberikan uang pemberian tadi kepada pengemis yang berada di depan restoran.

Si pemuda memperhatikan dengan seksama. Dia merasa heran dan sedikit tersinggung. Ia langsung menegur, “Hai adik kecil, kenapa uangnya kamu berikan kepada orang lain? Kamu berjualan kan untuk mendapatkan uang. Kenapa setelah uang ada di tanganmu, malah kamu berikan ke si pengemis itu?”

“Om, saya mohon maaf. Jangan marah ya. Ibu saya mengajarkan kepada saya untuk mendapatkan uang dari usaha berjualan atas jerih payah sendiri, bukan dari mengemis. Kue-kue ini dibuat oleh ibu saya sendiri dan ibu pasti kecewa, marah, dan sedih, jika saya menerima uang dari Om bukan hasil dari menjual kue. Tadi Om bilang, uang sedekah, maka uangnya saya berikan kepada pengemis itu.”

Si pemuda merasa takjub dan menganggukkan kepala tanda mengerti. “Baiklah, berapa banyak kue yang kamu bawa? Saya borong semua untuk oleh-oleh.” Si anak pun segera menghitung dengan gembira.

Sambil menyerahkan uang si pemuda berkata, “Terima kasih Dik, atas pelajaran hari ini. Sampaikan salam saya kepada ibumu.”

Walaupun tidak mengerti tentang pelajaran apa yang dikatakan si pemuda, dengan gembira diterimanya uang itu sambil berucap, “Terima kasih, Om. Ibu saya pasti akan gembira sekali, hasil kerja kerasnya dihargai dan itu sangat berarti bagi kehidupan kami.”

“BLIND SPOT”

29 Okt

Semua petinju profesional memiliki pelatih. Bahkan, petinju sehebat Mhd. Ali sekalipun juga memiliki pelatih. Padahal jika mereka berdua disuruh bertanding, jelas Mhd. Ali lah yang akan memenangkan pertandingan tersebut.

Mungkin kita bertanya, mengapa Mhd. Ali butuh pelatih kalau jelas-jelas dia lebih hebat dari pelatihnya ?
Kita harus tahu bahwa Mhd. Ali butuh pelatih bukan karena pelatihnya lebih hebat, namun karena dia butuh seseorang untuk melihat hal-hal yang “TIDAK DAPAT Dia LIHAT SENDIRI”.

Hal yang tidak dapat dilihat dengan mata sendiri, itulah yang disebut dengan “BLIND SPOT : TITIK BUTA”.

Kita hanya bisa melihat BLIND SPOT tersebut dengan bantuan orang lain.

Dalam hidup, kita butuh pemimpin atau guru untuk mengawal kehidupan kita, sekaligus mengingatkan kita seandainya prioritas hidup mulai bergeser.

Kita butuh orang lain menasihati, mengingatkan, bahkan menegur jika kita mulai melakukan sesuatu yang keliru, yang tidak disadari.

KERENDAHAN HATI untuk menerima kritikan, nasihat & teguran itulah yang justru menyelamatkan kita.

Kita bukan manusia sempurna. Biarkan orang lain menjadi “MATA” di area BLIND SPOT sehingga kita bisa melihat apa yg tidak bisa dilihat dengan pandangan diri sendiri. ({})

Apa Yang Menjadi Mimpimu ?

29 Okt

Oleh : Bp. Yanto Wijaya Kusuma S. Comp.,

Di tengah malam kuterbangun. Ada suara yang lembut memanggilku : “Yanto Wijaya, apakah yang menjadi mimpimu ?” (What’s is your dream ?).

Spontan kuterbangun sambil menitikan air mata. Ku teringat bahwa setiap langkahku dituntun oleh Tuhan Yesus.

Aku berjalan setapak demi setapak. Mulai seperti bayi yang lahir, merangkak dan menjadi anak-anak rohani yang berjalan. Aku tak pernah berjalan sendiri karena Dia terus menuntun langkahku.

Aku terus bertumbuh dalam iman menjadi remaja dan bahkan mulai dewasa rohani. Saat masalah demi masalah menerpa hidupku. Satu hal yang selalu kupegang erat-erat : “Yesus tak pernah meninggalkanku sendiri, tongkat-Nya dan Gada-Nya itulah yang menjaga aku”.

Jujur aku merasa takut dan khawatir ketika aku melalui jalan jalan baru yang kecil, sempit dan berkelok-kelok. Bahkan aku harus menutup bisnis lamaku untuk ditukar dengan mutiara yang sangat berharga dan tak ternilai yaitu : Kerajaan Sorga. Tapi ditengah kuatir dan takutku, Ia berfirmanlah : “Bangkitlah dan jadilah terang dan garam dunia”.

Aku menjadi bersemangat lagi dan aku akan terus melangkah untuk mencapai visi dan mimpi yang Tuhan Yesus berikan padaku.

Tidak ada yang mustahil, selama kita percaya, Biarkanlah mimpimu menjadi kenyataan di dalam Kristus Yesus.

Let’s Your Dream Come true in Lord Jesus Christ. Amen

Dimanakah Kutemukan Ketenangan

29 Okt

Ada masa masa dimana tekanan demi tekanan menekan hidupku…

Seakan beban itu begitu berat menekan. Seakan kuingin berteriak dengan kuat “Aku tidak tahan lagi. Tuhan !!!”.

Aku teringat firman Tuhan yang mengatakan : Mat 11:29 ” Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah padaKu karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan beroleh ketenangan”

Mat 11:30 “Sebab Kuk yang Kupasang enak dan beban-Kupun ringan.”

Saat kurenungkan kebenaran firman Tuhan ini. Aku menemukan satu kebenaran bahwa Tuhan Yesus menawarkan jalan keluar agar jiwaku beroleh ketenangan dan beban yang kupikul itu terasa ringan dan enak.

Lalu bagaimana cara-Nya ?

1. Pikullah Kuk Yang Kupasang. Ini berarti kita berbagi beban dan memikul beban bersama-sama Tuhan Yesus dalam satu Kuk. (Kuk itu adalah semacam beban pikulan dimana menggabungkan 2 sapi atau lebih untuk memikul satu beban).

2. Belajarlah Pada Yesus karena Yesus lemah lembut. Ini artinya dalam menghadapi beban hidup, marilah kita jadikan Yesus teladan dalam kelemah lembutan. Yesus tidak bereaksi negatif saat ada kesulitan tetapi ia menghadapinya dengan kelemah lembutan.

3. Belajarlah Pada Yesus karena Yesus rendah hati. Ini Artinya : Ketika Tekanan Beban masalah menerpa hidup kita. Mari teladani Yesus dalam hal kerendah hatian. Yaitu : tidak mengandalkan kekuatan-Nya sendiri tetapi senantiasa berdoa dan bergantung kepada Bapa di Sorga.

Melalui 3 hal inilah, Jiwaku beroleh ketenangan dan beban yang kupikul terasa ringan dan enak. Caiyoo. Semangat. 🙂